
Zian masuk ke dalam kamarnya yang ada Rima dan anaknya. Rima menatap Zian sambil berbalik badan membelakanginya karena sekarang posisinya dia sedang menyusui Abel.
Zian pun salah tingkah dan spontan juga ikut membalikkan tubuhnya sama-sama saling membelakangi. Zian sungguh malu, wajahnya memerah karena tidak sengaja melihat aset berharga milik istrinya.
"Maaf. Nanti saja!" Zian segera keluar dari kamar.
Rima tidak sempat mencegahnya keburu Zian meninggalkan kamar. Dia juga memerah malu, padahal mereka suami istri. Namun selama menjadi suami istri, Zian tak pernah menyentuh Rima atau memberikan nafkah batin padanya. Meski nafkah lahir tercukupi. Apalagi pekerjaannya Zian yang menuntutnya untuk jauh dari keluarga mereka.
***
"Aku menerima ini dari pengacara yang bernama pak Sofyan." Zian mengulurkan sebuah map yang diterimanya tadi pagi.
Rima terdiam menatap map merah itu yang sudah diketahui isinya.
"Aku yang menyuruhnya. Aku yang menyuruhnya untuk mengantarkannya padamu." Jawab Rima setelah lama terdiam.
Zian menatap Rima lekat, dia merasa bersalah sebenarnya. Namun apa pendapat Rima benar, perasaan mereka tak bisa dipaksakan. Dipaksa pun percuma jika yang kita sukai adalah orang lain.
"Maaf." Bisik Zian lirih. Dia menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Gak papa mas, mungkin kita memang gak berjodoh meski menikah. Jangan merasa bersalah seperti itu. Akulah yang seharusnya meminta maaf, membuat mas mau tak mau harus menerima pernikahan kita tanpa bisa menolak hanya karena hutang budi keluargaku. Dan sekarang aku akan membebaskan mas dari tanggung jawab. Kejarlah cinta mas!" Ucap Rima panjang lebar sambil tersenyum getir meski hatinya sakit sebenarnya.
"Aku akan mengurusnya. Terima kasih. Dan maaf." Jawab Zian yang diangguki Rima dengan berat hati.
Zian meninggalkan ruang tamu rumahnya setelah mencapai kesepakatan dengan Rima. Dia memperpanjang cutinya seminggu lagi karena ada sesuatu yang harus diurus termasuk surat perceraian itu. Namun Zian tak mengatakan apapun pada tuan besarnya. Tuan besarnya pun tak banyak bertanya selain mengiyakan ucapan Zian.
***
Siang itu, Zian menghubungi pak Sofyan untuk mengantar berkas perceraian mereka. Namun sebelum dirinya sempat menekan nomor pak Sofyan, nonanya menghubunginya.
"Ya nona." Jawab Zian dengan senyum terus mengembang di bibirnya.
__ADS_1
"Zian." Zian terdiam, suara yang tidak asing tapi terasa menyedihkan.
Zian mulai cemas dan khawatir mendengar nada bicara yang begitu sendu dari panggilan sang nona.
"Nona tak apa?" Tanya Zian cemas.
"Hiks... hiks...hiks..."
"Nona!" Seru Zian cemas saat mendengar suara tangisan yang terdengar menyayat hatinya.
Zian menebak kalau sedang terjadi sesuatu dengan sang nonanya.
"Zian...hiks..hiks..." Suara tangisan kembali terdengar yang membuat hati Zian mencelos cemas karena dia sedang tidak ada di sisi sang nona.
"Nona sekarang ada dimana? Apa yang terjadi pada nona? Apa ada yang menyakiti nona lagi? Nona kumohon katakan dimana nona?" Pertanyaan Zian memberondong karena merasa cemas, hanya suara tangisan isakan yang terdengar di seberang.
"Aku tak apa, Zian. hiks...hiks... aku butuh kamu Zian...hiks...hikss.." Suara Terputus-putus dan tersendat-sendat terdengar kembali membuat wajah Zian berang menahan amarahnya.
Berpikir siapa yang berani-beraninya menyakiti sang nona.
"Kalau aku mengatakannya, hiks... apa kau...hiks... akan datang hiks..hikss..?" Tanya Anin terdengar putus asa.
"Saya akan segera menemui nona." Janji Zian tak peduli berapa jauh jarak mereka.
Dia akan mengusahakan ke tempat sang nona membutuhkannya.
"Aku ada di apartemenmu Zian. Maaf... hiks...hiks.. aku tak tahu harus kemana? Hiks... maaf aku mencuri lihat saat ... hiks.. kau membuka password pintu apartemenmu. Hiks...hiks... maaf...hiks.. aku tak tahu hiks... harus kemana lagi hiks... hiks.. aku bingung Zian, hiks... biasanya hanya kau yang jadi ...hiks... tempat curhatku...hiks... aku membutuhkan punggungmu Zian... hiks...tapi kau... hiks... tak ada...hiks..." Jawab Anin malah membuat Zian semakin merasa bersalah dan cemas.
"Saya akan segera kesana nona. Tunggu sampai saya datang, jangan kemana-mana. Saya akan segera datang." Zian langsung menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban dan tanpa pikir panjang dia langsung pergi mencegat taksi yang lewat.
Dia menyewa taksi tersebut sampai ke apartemennya yang ada di kota. Dan itu sangatlah jauh. Bisa tiga sampai empat jam perjalanan jika menggunakan mobil pribadi. Jika menggunakan kendaraan umum akan sampai dalam kurang lebih enam jam. Meski awalnya taksi itu menolak karena perjalanan yang lumayan jauh.
__ADS_1
Uang yang ditawarkan Zian tidaklah sedikit, sangat banyak untuk biaya menuju ke kota. Sekitar dua kali lipat dari harga normal. Sopir taksi itu pun mengiyakan dan melajukan kendaraannya dengan sedikit cepat karena permintaan Zian yang ingin segera sampai.
Tapi sopir taksi itu tetap mengemudikannya dengan hati-hati. Zian takut sang nona akan melakukan hal yang tidak-tidak jika dia tidak segera sampai. Zian bahkan lupa tidak menghubungi keluarganya.
***
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang, hampir tiga jam lebih dia sampai di gedung apartemennya. Setelah membayar pada sopir taksi itu, Zian segera berlari menuju lift ke lantai lima unit apartemennya berada. Waktu menunjukkan pukul hampir pukul enam sore. Zian melirik jam tangannya berharap sang nona masih berada di apartemennya. Dan baik-baik saja.
Tit tit tit tit tit tit
Enam digit tombol password apartemennya dibuka. Dan pintu pun terbuka, dengan nafas ngos-ngosan karena berlarian, Zian memasuki apartemennya yang sudah dua minggu lebih tidak dikunjunginya meski sering dikunjungi jasa kebersihan seminggu sekali. Zian menetralkan degup jantungnya yang berdetak kencang karena nafas yang memburu karena lari-larian tadi.
Ke ruang tamu, Zian tak menemukan Anin. Zian yakin sang nona ada di dalam apartemennya karena ada sandal perempuan di depan pintu masuk tadi. Dan dikenali Zian adalah sandal sang nona. Masuk ke ruang tengah yang menyatu dengan dapur dan meja bar yang biasa digunakannya untuk makan.
Tak jauh dari situ, dua kamar berjajar dengan pintu yang berhadapan membuat Zian terdiam. Menebak kira-kira dimanakah Anin berada. Tak terdengar suara apapun, Zian takut terjadi sesuatu pada sang nona karena suasana apartemennya yang tenang.
"Semoga dia baik-baik saja." Guman Zian mencekal hendel pintu kamar utama apartemen itu.
Cklek
Zian menatap sekeliling kamar yang terdapat ranjang berukuran queen size dengan meja dan lemari berada di sebelahnya tak jauh dari ranjang. Satu kursi sofa cukup untuk dua orang duduk di depan ranjang. Tak ada sang nona di dalam kamar utama tersebut. Zian masuk ke dalam kamar dengan cemas, masuk ke kamar mandi juga tak ada siapapun dan tak ada apapun.
Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di kamar itu. Zian semakin cemas, menebak-nebak kira-kira ada di mana sang nona. Zian kembali keluar kamar masuk ke dalam kamar tamu, kamar kedua apartemennya.
Cklek
Pintu terbuka dan seketika Zian bernafas lega melihat sang nona berbaring di ranjang melingkar sambil memeluk lututnya. Zian mendekati dengan hati-hati agar tak mengganggunya. Terlihat mata sembab habis menangis. Tampilan berantakan tapi masih terlihat kecantikan dari sang nona.
Wajah Zian memerah saat melihat dress sang nona bagian bawah tersingkap. Zian segera meraih selimut untuk menutupi bagian bawah tubuh sang nona.
"Kau tega mas, hiks...hiks.." Guman Anin dalam tidurnya. Zian bisa menebak siapa yang ada dalam gumaman sang nona.
__ADS_1
Spontan tangan Zian terkepal menahan amarahnya. Dia tak akan memaafkannya meski dia adalah calon suami sang nona. Jika dia sampai berani menyakitinya.
TBC