
Setelah vonis dokter menyatakan Jo koma karena pendarahan di otaknya. Farida terbaring lemah pingsan kembali saat suaminya memberi tahunya. Begitu banyak cobaan yang dihadapi putranya itu demi mempertahankan istrinya.
Cintanya yang begitu besar membuat mereka buta hanya karena status Karina seorang janda beranak satu. Apalagi status Karina masih istri orang lain saat dinikahi putranya. Alensio sungguh menyesali kebodohannya. Dia sudah menyuruh orang-orangnya untuk mencari keberadaan Karina dimanapun dia berada untuk menebus kesalahannya hingga kecelakaan menimpa putra bungsunya.
Sebenarnya dia menyetujui hubungan mereka jika perjodohan itu belum ada, apalagi Karina adalah penolongnya di masa lalu.
Namun sampai tiga bulan Jo dalam komanya, orang-orang suruhan Alensio tak menemukan Karina dimanapun. Alensio sudah menyebarkan orang-orangnya bahkan rekan bisnisnya di seluruh negeri diberi foto Karina agar jika bertemu diberi kabar namun hasilnya tetap nihil.
Alensio frustasi melihat putra bungsunya tak kunjung sadar, juga mengurus bisnisnya yang dikelolanya juga yang dikelola putranya. Istrinya pun sakit-sakitan meski ditahan dan setiap hari duduk di ruang perawatan putranya dengan alat-alat medis yang terpasang di tubuh putranya untuk menunjang kehidupannya. Kedua putrinya ikut merawat adik mereka meski secara bergiliran.
Sungguh penyesalan selalu datang terlambat. Satu-satunya cara untuk mengetahui keberadaan Karina lewat cek yang diberikannya pun tak dapat membantu mengetahui keberadaan Karina.
"Bagaimana?" tanya Alensio pada Rian asisten kepercayaan Jo, saat melapor sudah dua minggu pencarian.
Memang Rian akan melaporkan apapun hasilnya semua orang suruhannya setiap dua minggu sekali, sekalian membantu mengurus bisnis tuan besarnya
"Tidak ada jejak bank manapun yang mencairkan cek itu tuan." jawab Rian berdiri tegak menatap lurus pada Alensio.
"Kau yakin?" tanya Alensio berharap ada titik terang dari pencariannya selama ini.
"Itu.. itu... malah sepertinya cek itu belum digunakan berdasarkan keluar masuk transaksi laporan keuangan." jawab Rian ragu. Alensio menghela nafas panjang.
Dia membalikkan tubuhnya menghadap jendela kaca di ruangannya menatap pemandangan di luar. Sungguh tak seperti yang kuduga. Kukira kau menerimanya karena menginginkannya, namun kau hanya tak mau menyakitiku dengan menunjukkan bahwa dirimu tak pantas untuk putraku. Putraku memang tak salah memilih istri. Kalau saja aku tahu kebusukan calon istri putraku lebih cepat, aku pasti tak perlu mengusirmu dari sisi putraku. batin Alensio lagi-lagi menghela nafas panjang dan rasa bersalah berkecamuk di dadanya.
__ADS_1
"Pergilah! Langsung hubungi aku jika ada kabar baik." titah Alensio masih berdiri membelakangi Rian.
"Baik tuan." Rian pun undur diri meninggalkan ruangan tuan besarnya.
Meski dirinya adalah kepercayaan Jo, namun dia tetap menghormati ayah bosnya meski keduanya saat tidak akur sekalipun.
***
Setelah Karina pamit dari kunjungannya ke rumah mantan mertuanya, orang tua Ken sangat bersedih. Seolah mereka merasakan sesuatu yang janggal saat kedatangan terakhir kali mantan menantunya itu. Bagaimana pun mama Ken sangat menyayangi Karina seperti putrinya sendiri.
Dia sudah seperti putri kandungnya sendiri yang diasuh sejak kecil saat ibunya berangkat mengajar. Namun perasaan janggal itu dirasakan seminggu setelah Karina pamit dan mereka berusaha menghubungi Karina dengan alasan menanyakan kabar cucunya.
Namun ponsel Karina mati dan nomer selalu tidak aktif hingga hari-hari berikutnya. Hingga akhirnya mereka menghubungi ponsel Ken. Dan suara seorang wanita yang mengangkatnya yang mereka kira adalah Karina.
Mama Ken : "Karin, ini mama." jawab mama Ken dengan yakinnya.
Di seberang telpon tak terima dibilang mantan istri Ken. Dia menoleh kembali ke layar ponsel tertera 'mama' pada ponselnya.
Lena : "Maaf ma, ini Lena. Istri Ken. Ken dan Karina kan sudah lama bercerai. Masa mama gak tahu?" jawab Lena sewot yang berniat mengangkat panggilan pada ponsel Ken di kamar yang sedang sibuk mengurus putri mereka di lantai bawah kamar putrinya.
Mama Ken : "Apa maksutmu? Siapa kamu? Dimana Ken?" tanya mama Ken memberondongi dengan banyak pertanyaan.
Lena : "Maaf ma, aku mau kerja." jawab Lena masih dengan nada ketus dan menutup panggilan sepihak.
__ADS_1
Mama Ken di seberang telpon hanya menarik nafas dalam-dalam. Apa maksudnya? Apa ini perasaan janggal saat menantuku dan cucuku berkunjung tempo hari. Ken, kau bodoh sekali menyia-nyiakan istrimu jika kabar ini benar. batin mama Ken sambil mengelus dadanya, mengendalikan emosinya agar bisa bersabar sebelum mengetahui kebenarannya.
**
"Mas..." panggil Lena hendak berangkat kerja menghampiri kamar putrinya.
Dia tak mendekati suaminya hanya berdiri di pintu. Dia tak mau mendekati putrinya, apalagi sudah rapi.
"Ya sayang..." jawab Ken penuh kesabaran, menoleh menatap istrinya lembut.
"Aku mau berangkat kerja. Da....." Lena kembali berbalik "Oh ya mas, kamu belum bilang sama mamamu kalau kita sudah menikah dan kamu sudah menceraikan mantan istrimu itu ya?" tanya Lena.
Ken tersentak dengan ucapan istrinya. Dia teringat kalau tak pernah memberi kabar apapun pada orang tuanya tentang pernikahan keduanya ini. Dan bahkan tentang perceraiannya dengan Karina pun dia juga belum mengatakannya.
Bukan dia tak mau mengakui pernikahannya ini, namun dia belum siap melihat mamanya kecewa karena telah menyia-nyiakan Karina yang sudah dianggap sebagai putri mamanya sendiri. Ken merasa bersalah.
"Apa maksudmu?" tanya Ken menyerahkan putrinya pada pengasuhnya.
"Tadi mamamu menghubungi ponselmu dan kuangkat deh." jawab Lena santai sambil meninggalkan Ken yang masih berdiri mematung.
Tubuhnya menegang, entah kenapa perasaan tak enak. Namun dia tak segera menghubungi mamanya, dia belum siap sungguh. Mungkin lain kali. Itulah yang dirasakan Ken saat ini.
TBC
__ADS_1