Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Perjuangan


__ADS_3

Beberapa waktu lalu...


Keesokan harinya, Bram benar-benar datang dengan segala persiapan permintaan bibinya untuk membantu Jo melarikan diri. Setelah mendapat kabar kalau Pamannya Alensio sedang mengurus bisnisnya di luar negeri untuk beberapa hari. Bram mendatangi rumah pamannya dengan beberapa orang kepercayaannya.


"Bram..." panggil Farida mendekati Bram yang sudah menghubunginya akan menjalankan aksinya hari ini.


Para penjaga yang diperkerjakan di gerbang depan sudah dilumpuhkan semua oleh orang-orang Bram dengan mudah. Bram cukup memberi perintah untuk membuat pingsan orang-orang itu.


Kini semua penjaga berhasil dilumpuhkan oleh anak buah Bram termasuk yang berada di depan kamar Jo. Bram masuk diikuti oleh Farida yang sangat cemas.


"Jo..." panggil Farida yang melihat putranya terbaring lemah di lantai karena mogok makan.


"Jo...Jo..." panggil Farida membangunkan Jo yang langsung terbangun begitu melihat mamanya muncul bersama Bram.


"Mama.." namun Jo yang sudah lemah karena tak ada tenaga tak mampu berkata apapun. Menatap mamanya dan Bram tak bersemangat.


"Bangunlah nak! Pergilah! Bawa menantu mama pulang." pinta Farida memelas membuat putranya sudah sangat putus asa.


Jo tersentak spontan menatap mamanya dan mencerna kembali ucapan sang mama.


"A.. apa maksud mama?" tanya Jo tergagap.


"Bram datang untuk membantumu bebas dari rumah ini. Pergilah! Ini!" Farida menyerahkan tiket pesawat tujuan yang sama yang diberikan papanya pada Karina. Tiket pesawat menuju Rusia. Jo menatap tiket pesawat itu.


"Rusia?" tanya Jo tak mengerti.


"Papamu... papamu memberikan tiket pesawat tujuan yang sama untuk istrimu agar menjauh darimu. Pergilah! Susul dia, bawa pulang nak. Dia yang akan menjadi menantu perempuan mama satu-satunya." jelas Farida tersenyum sambil membelai pipi tirus putranya.


"Benarkah ma? Dia ada disana?" tanya Jo tak percaya dan sangat antusias. Wajah putus asa yang ditunjukkan tadi seolah sirna.


"Iya..iya.. dan ini sedikit uang untuk bekal perjalananmu. Papamu pasti sudah membekukan kartu-kartumu." jawab Farida mengangguk mengiyakan terharu melihat semangat hidup putranya kembali muncul saat mendengar bahwa dia akan segera menyusul istrinya.


"Ayo! Sebelum para penjaga sadar." ajak Bram yang diangguki Jo dan beranjak meninggalkan sang mama.

__ADS_1


"Hati-hati nak."


"Makasih ma, terima kasih. Aku janji akan membawa menantu mama pulang." janji Jo tersenyum bahagia sambil memeluk Farida dengan erat.


Kini mereka berdua dalam perjalanan menuju apartemen Bram.


"Kita kemana?" tanya Jo saat melihat arah tujuan Bram tidak ke bandara.


"Kau perlu membersihkan tubuhmu. Apa kau akan pergi dengan keadaan kacau seperti itu? Istrimu pasti tak akan mengenalimu." ujar Bram membuat Jo menatap dirinya.


Baju kotor yang sudah beberapa hari sejak dirinya dikurung. Bulu-bulu di rahangnya yang mulai tumbuh lebat. Dekil, hitam dan kotor, dan jangan tanyakan bau tubuhnya. Sangat busuk. Bram hanya meringis menatap sepupunya itu. Jo tersenyum nyengir tanpa dosa.


"Terima kasih brother." jawab Jo.


"It's okay." jawab Bram.


Kini mereka sudah masuk ke dalam apartemen Bram, Jo membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi apartemen Bram. Hatinya sungguh berbahagia dan berbunga-bunga. Sebentar lagi dia dapat menemui istrinya. Jo sangat senang sekali. Dia tak pernah sesenang ini.


**


"Hati-hati. Semoga kau bisa menemukan kebahagiaanmu." ucap Bram tulus.


"Thanks brother. Aku tak tahu harus bagaimana berterima kasih padamu." jawab Jo.


"Suatu saat aku akan minta imbalan atas ini semua." ujar Bram.


"Akan kutunggu!" jawab Jo. Keduanya pun berpelukan ala lelaki.


Jo mulai memasuki pesawat tujuannya setelah suara panggilan keberangkatan pesawat akan segera lepas landas.


***


Empat belas jam sudah, akhirnya pesawat mendarat dengan selamat di bandara Moscow. Jo tersenyum senang sambil merentangkan kedua tangannya saat tiba di pintu keluar bandara.

__ADS_1


"Aku datang sayang." ucap Jo bersemangat, membuat orang-orang yang ada di bandara menatap Jo aneh.


Namun Jo seakan tak peduli dengan tatapan orang-orang, dirinya sudah tak sabar ingin bertemu dengan istrinya yang sudah hampir dua bulan ini tak ditemui.


Jo memanggil taxi bandara yang mangkal di luar parkiran bandara seolah memang sudah menunggu penumpang. Jo naik ke taxi itu. Dia berencana untuk pergi langsung ke tempat alamat yang diberikan mamanya.


"Pak, bisa berhenti di sebuah restoran?" tanya Jo merasakan perutnya berbunyi. Dia kelaparan.(Pakai bahasa Rusia tentunya, namun aku terjemahkan langsung, biar ngerti).


"Tentu tuan." jawab sopir taxi itu.


Setelah hampir setengah jam, taxi berhenti di sebuah restoran seafood yang tak terlalu mewah. Jo turun membawa kopernya setelah membayar biaya taxi.


***


Satu jam perjalanan dari restoran tempat Jo makan, kini dia sudah sampai di desa tempat alamat itu tertera di kertas. Jo mulai berkeliling di sekitar rumah-rumah sederhana itu. Sesekali bertanya pada mereka dan menunjukkan foto Karina, namun sudah hampir dua jam dia berkeliling bertanya kesana-kemari tak ada yang mengenali istrinya.


Jo terlihat capek dan lelah, apalagi malam sudah mulai tiba. Dia pun menyewa sebuah penginapan di desa itu dan akan melanjutkan pencariannya. Kini Jo beristirahat di penginapan yang sudah disewanya.


***


Esoknya Jo meneruskan kembali pencariannya. Berganti ke desa tetangga, dia memilih menyewa sebuah sepeda motor di dekat penginapannya. Dan berharap menemukan Karina secepatnya. Dia sangat merindukannya. Pikiran buruk terlintas di benaknya.


Apa sebenarnya Karina tidak ke Rusia? Tapi, berdasarkan ucapan mama, papa memberinya tiket pesawat tujuan Rusia. batin Jo menepis pikiran buruknya. Jo berusaha mencari lagi di desa itu. Namun seolah mencari jarum di tumpukan jerami.


Jo tak mendapatkan petunjuk apapun. Bahkan tak ada yang mengenali ciri-ciri Karina sesuai yang disebutkan, juga tak ada keluarga yang pindah ke desa itu beberapa bulan lalu.


"Pasti dia berusaha menyembunyikan diri karena tak mau papanya menemukannya dan membuatku menemukan dengan mudah, pasti begitu." guman Jo bersemangat mencari kembali keberadaan Karina.


***


Hingga sudah sebulan berlalu, Jo tak menemukan keberadaan Karina dimana pun di desa sesuai alamat yang diberikan mamanya.


Jo terduduk lemas, meski uangnya banyak terbuang sia-sia demi mencari Karina namun sang mama selalu mengiriminya uang karena tabungannya semua dibekukan oleh papanya. Jo hampir saja menyerah. Namun mengingat perjuangannya melarikan diri dari rumah begitu berat, Jo kembali bersemangat.

__ADS_1


TBC


__ADS_2