
Sidang kasus tentang penculikan dan percobaan pemerkosaan pada Anin mulai dilakukan. Berkat tim kuasa hukum dari Bram akhirnya kasus cepat dilakukan dan berjalan lancar. Karena banyak bukti yang mengarah pada pemberatan yang dilakukan para tersangka.
Di sela sidang itu, Jo dan Karina mendatangkan seorang psikolog yang direkomendasikan oleh Bram untuk menyembuhkan trauma psikis yang dialami Anin.
"Pak, ada klien dari sing*pur* yang datang ingin langsung bertemu dengan anda." ucap Rian asisten pribadi Jo di seberang telepon siang itu.
"Sekarang dia dimana?"
"Beliau masih dalam perjalanan, diperkirakan jam tiga sore mereka landing dan langsung menuju hotel tempat pertemuan kita."
"Aku akan tiba disana dalam dua jam." jawab Jo sambil melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul dua belas siang. Jo menutup panggilan itu.
"Ada masalah?" tanya Karina melihat suaminya terlihat cemas setelah menutup panggilannya. Jo menoleh menatap istrinya lembut.
"Sudah selesai?" tanya Jo tak menjawab pertanyaan istrinya.
"Sudah. Aku baru saja mengantarkannya ke depan. Anin sedang tidur untuk beristirahat setelah makan siang. Dan hasilnya Alhamdulillah semakin membaik kondisinya meski hanya dirimu pria yang memperbolehkannya mendekatinya selain adik-adiknya juga." jelas Karina terpancar raut wajah kesedihan di matanya. Jo menatap istrinya lekat menariknya dalam pelukannya.
"Dia akan baik-baik saja. Percayalah!" hibur Jo menyerukkan wajah istrinya masuk ke dalam dekapan dada bidangnya.
"Aku takut." bisik Karina tanpa sadar air matanya mengalir.
"Hei, semua akan baik-baik saja. Percayalah! Apa yang kau takutkan, ada aku disini." hibur Jo mengusap rambut istrinya yang tertutup hijab instannya.
"Mas Ken besok akan datang kemari." bisik Karina mendongak menatap wajah suaminya.
Jo menatap Karina lekat meski sedikit rasa terkejut mendengar perkataan istrinya.
"Apa yang dikatakannya?" tanya Jo lembut.
__ADS_1
"Dia... dia... hiks..hiks..." Karina tak sanggup lagi membendung air matanya, di kehamilannya membuatnya merasa lemah dan gampang menangis.
"Ssttt... hei, ada apa?" tanya Jo lembut.
"Dia akan membawa Anin." bisik Karina lirih masih dengan air mata yang membanjiri pipinya.
"Itu tak akan terjadi. Kau punya hak asuh sepenuhnya untuk Anin. Dia hanya diizinkan untuk bertemu tanpa bisa membawanya." hibur Jo meski terdapat sedikit kecemasan di matanya.
"Dia ... dia sangat marah saat mendengar apa yang terjadi pada Anin. Dan hal itu sungguh sangat fatal. Dia menuduhku tidak memperhatikan putri kami karena anak-anak kita yang lain dan kehamilanku... Aku... aku tak sanggup berpisah dengan putriku mas. Aku tak akan sanggup...hiks..hiks.." ucap Karina terbata-bata dengan sesenggukan.
"Hei, itu tak akan terjadi. Anin putri kita. Dia tak berhak melakukan hal itu. Hak asuh ada sepenuhnya pada kita. Apalagi Anin sudah cukup umur untuk memilih dimana dia ingin tinggal." hibur Jo menangkup kedua pipi istrinya sambil mengusap air matanya yang semakin deras mengalir.
"Aku tetap takut mas." ucap Karina menatap Jo butuh bantuan.
"Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Percayalah!" bisik Jo mengecup kedua pipi istrinya lembut bergantian.
Karina menatap mata suaminya yang menunjukkan keseriusannya.
"Terima kasih sayang, terima kasih." Karina mendekap tubuh suaminya merasa lega.
Selama ini Jo selalu membuktikan ucapannya. Dan Karina yakin, suaminya akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya serta anak-anaknya.
***
"Hei, aku tidak lama disana. Aku segera kembali setelah bertemu dengan para klien." ucap Jo saat dirinya hendak berangkat ke ibukota untuk mengurus pekerjaannya bertemu dengan klien pentingnya yang baru saja tiba di ibukota sesuai janji mereka.
Jo terpaksa meninggalkan istri dan anak-anaknya di pulau B karena kasus Anin yang belum selesai. Tentu saja Bram dan Katrina yang menemani mereka di resort itu. Meski Bram dan Katrina memutuskan untuk pindah ke resort sebelah mereka. Bram beralasan tak mau mengganggu keluarga kecil mereka.
Meski terpaksa Jo dan Karina merelakan kepergian pasutri itu. Bagaimana pun juga mereka juga butuh privasi. Dan Karina akan dengan mudah minta bantuan karena resort mereka yang bersebelahan.
__ADS_1
"Janji?" jawab Karina mengulurkan jari kelingkingnya untuk berjanji dengan suaminya.
"Hahaha... kau masih saja kekanak-kanakan ya?"
"Janji?" ucap Karina dengan tampang di ikutkan membuat Jo gemas pada istrinya dan mengecup dahi istrinya mesra.
"Kau membuatku tak ingin pergi. Aku menginginkanmu lagi." bisik Jo lirih di dekat telinga istrinya, Karina langsung melepas dekapan suaminya, dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tadi setelah mengemasi barang-barang suaminya dalam koper, Jo meminta jatahnya yang katanya kilat ternyata menghabiskan waktu kurang lebih satu jam.
Itu pun karena pesawatnya akan terbang, kalau tidak entahlah. Sampai sore pun belum tentu suaminya itu akan melepaskannya. Apalagi para pengasuh anak-anaknya sudah diboyong ke resort untuk mengurus anak-anak karena kasus Anin.
"Pergilah! Aku akan menunggumu pulang." ucap Karina mendorong tubuh suaminya menjauh.
"Ya..." Karina tertawa melihat suaminya menahan hasratnya.
"Sampai jumpa." Karina melambaikan tangannya sambil mendorong tubuh suaminya ke mobil yang sudah disiapkan sopirnya.
"Aku akan menghabisi mu nanti saat pulang." bisik Jo di telinga Karina membuat wajah Karina spontan memerah tersipu malu.
"Ya..." Jo tertawa sambil masuk ke dalam mobil setelah mengecupi seluruh wajah istrinya.
TBC
Akhirnya up juga
Maaf sudah lama gak up, sibuk di dunia nyata.
Tapi mulai hari ini tak usahakan up setiap hari..
__ADS_1
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya makasih 🙏🙏