Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Side story


__ADS_3

Sebelum hari H pernikahan...


Srek...


Erika melemparkan undangan pernikahan ke meja kerja Bram di kantor firmanya.


"Apa-apaan ini Bram?" tanya Erika murka saat melihat undangan pernikahan yang dipesan Bram ternyata tak tertera namanya tapi nama Jonathan, keponakannya.


Bram hanya melirik undangan itu dan melanjutkan pekerjaannya meneliti berkas-berkas di depannya yang ada di meja. Erika datang begitu saja membuka ruang kerjanya tanpa permisi. Namun Bram acuh tak mempermasalahkan karena mamanya keras kepala.


"Mama sudah membacanya kan?" jawab Bram acuh.


Erika semakin kesal, dia pun duduk di kursi depan meja kerja Bram menatap putranya tajam.


"Kau tak mau menjelaskan sesuatu pada mama?" tanya Erika masih berusaha tenang. Bram tampak menghela nafas, menatap Erika intens.


Dia tahu, mamanya akan terus mengejarnya jika dia tak menjelaskan segera. Bram duduk bersandar di kursi kerjanya. Meletakkan penanya menunda untuk menandatangani berkas-berkas itu.

__ADS_1


"Seperti yang mama baca, mereka akan menikah kembali. Karina adalah istri Jo yang dicarinya beberapa waktu lalu. Karena paman dan bibi terlanjur berjanji untuk menjodohkan Jo dengan Jane, anak rekan bisnis paman." Bram menjeda ucapannya, menatap reaksi wajah wanita yang melahirkannya itu.


"Mereka pun saling mencintai dan si kembar adalah putra Jo." Erika menganga mendengar kenyataan yang tidak disangkanya.


Dia mencoba mengembalikan ingatannya saat Bram memperkenalkan Karina sebagai calon istrinya dengan menggendong si kembar sebelum pertemuan keluarga besarnya.


Awalnya Erika mengira kalau si kembar adalah putra Bram yang membuat kesalahan karena menghamili Karina secara tak sengaja, one night stand mungkin. Bram pun mengenalkan keduanya sebagai putranya. Tapi tak menjelaskan putra tiri, kandung ataupun angkat.


Erika hanya tersenyum senang dia sudah menjadi nenek dengan dua bayi tampan yang gempil. Karena wajahnya sekilas mirip Bram namun kebulean. Erika tak berpikiran lain tentang si kembar siapa.


"Oh tidak.. ternyata aku yang salah paham. Padahal aku sudah terlanjur mencintai bayi-bayi itu. Dan mereka sangat mirip denganmu meski ada orang yang aku kenal lebih mirip dengannya. Seharusnya aku sadar dari awal. Kita tidak punya keturunan bule, dan kenapa bayi-bayi kembar itu bule. Dan ternyata... oh my..." ucap Erika tak membutuhkan jawaban sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pening dan berdenyut.


Bram menghela nafas melihat keluhan panjang mamanya. Mamanya memang sudah begitu menyayangi si kembar. Bahkan sering mengajaknya jalan-jalan dan membelikan sesuatu untuk keduanya. Bahkan pada Anin juga.


"Mama yang sabar..." hibur Bram menepuk punggung tangan Erika yang diatas meja.


"Apa maksudmu sabar? Mama menginginkan cucu juga, dari putra mama satu-satunya tapi... apa yang...oh my..." Erika memijit lagi pelipisnya yang dirasakan berdenyut.

__ADS_1


"Padahal mama sudah menyukai Karina dan mau menghabiskan waktu dengannya setelah menjadi menantu mama nantinya." ucap Erika dengan lebaynya. Bram hanya menggelengkan kepalanya heran.


"Mama masih bisa jalan-jalan dengannya, toh dia menantu keponakan mama juga." hibur Bram acuh sambil meneruskan pekerjaannya.


Niat hati ingin menyibukkan dirinya tenggelam dalam pekerjaan untuk melupakan kesedihannya, mamanya malah membuatnya semakin bersedih saja.


"Tapi tentu saja itu beda, mama kan ingin memamerkannya pada teman-teman mama kan? Ukh... beruntung sekali kakak punya menantu yang sesempurna itu.." ucap Erika masih dengan nada lebaynya.


Bram hanya menggelengkan kepalanya melihat keabsurd an mamanya.


"Doakan saja Bram untuk mendapatkan istri lagi." jawab Bram masa bodoh.


"Sebenarnya kau lah yang kurang tegas Bram, dia bisa saja jadi milikmu jika kau mempertahankannya." canda Erika.


"Ma..." ucap Bram tak suka menatap sang mama intens.


"Aku mau pergi saja. Lebih baik aku shopping." Erika pun meninggalkan ruangan putranya.

__ADS_1


__ADS_2