Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 54


__ADS_3

Ken langsung menyelonong masuk ke dalam ruang meeting yang mendadak jadi ruang interogasi di perusahaan tempat terjadinya kasus pembullyan putri pemilik saham terbesar di perusahaan tersebut. Yang tidak banyak diketahui oleh siapapun, bahkan oleh pemilik perusahaan itu sendiri.


Cklek


Pintu terbuka dengan tergesa-gesa, beberapa tim kuasa hukum Bram, Bram DNA Guntur sontak menoleh menatap ke arah pintu. Melihat siapa gerangan yang membuka pintu dengan kasar dan terburu-buru. Tatapan Ken mendeteksi satu persatu memindai orang yang ada di situ. Dan berakhir tatapannya pada Bram yang satu-satunya dikenalinya.


Seolah tatapan mata itu bertanya, ada apa gerangan sampai Bram yang seorang pengacara terkenal bisa ada juga disitu bahkan dengan tim kuasa hukumnya. Ken mendekati meja dan duduk di kursi masih tatapannya mengarah pada Bram begitu juga Bram yang masih menatapnya intens. Tatapan terputus saat Bram menoleh menatap Guntur yang merasa bingung untuk menjelaskan dari mana cerita dimulai.


"Anda tuan Keanu?" Tanya Guntur setelah lama terdiam menata ucapannya.


Ken sontak menoleh menatap pria muda yang tampan tampan mempesona meski kondisinya tidak menunjukkannya.


"Anda ..."


"Ah, saya Guntur, wali kelas putri anda Anin dan yang menghubungi anda tadi." Jawab Guntur mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan memperkenalkan diri.


Ken menatap tangan yang terulur itu hingga akhirnya ikut mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Ya benar." Jawab Ken yang membuat tatapan Bram kembali memicing tak suka pada Ken.


Ken yang merasa mendapat tatapan menusuk ikut menoleh menatap Bram. Mereka pun saling menatap dalam waktu yang lama.


"Saya sungguh sangat menyesal atas kejadian ini." Suara Guntur yang menginterupsi kilatan amarah pada kedua orang yang berhadapan itu membuat Ken, mau tak mau kembali menatap Guntur yang menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan.


"Apa yang terjadi pada putriku? Dimana dia sekarang?" Tanya Ken penuh kecemasan.

__ADS_1


"Huh... telat." Bisik Bram namun bisa terdengar Ken namun tak jelas.


Guntur mendengarnya meski lirih karena mereka duduk bersisian sejak tadi.


Sedang interogasi satu persatu saksi yang ikut menyaksikan kejadian tadi sudah dilakukan semuanya. Dan Bram mendapatkan setidaknya satu pelaku utama yang mencetak dan menyebarkan foto-foto itu hingga semua orang tahu siapa Anin sebenarnya. Dan beberapa orang yang terlibat langsung melakukan kekerasan fisik dan mental pada Anin.


Dan Bram sudah mencatat satu persatu kesalahan para siswa dan pegawai yang tak sengaja juga ikut menyaksikan namun hanya diam saja. Setelah itu Bram akan menemui Jo menyerahkan hasil laporannya tersebut. Dan memberikan keputusan apa yang akan dilakukannya nanti setelah mendengar perbuatan yang sungguh sangat keterlaluan pada Anin.


Dan Bram yakin Jo tak akan tinggal diam karena perkara ini sudah sangat fatal. Dan dia yakin setelah ini, dia akan direpotkan Jo untuk menuntut kembali hak asuh putri sambungnya tersebut dari pria brengsek yang sekarang sedang duduk di hadapannya. Dan Bram tentu akan melakukannya dan membuat pria brengsek ini menyesal.


"Apa maksud anda pak?" Tanya Ken menatap Guntur.


Guntur tampak berdehem kaku karena dipanggil pak oleh pria yang lebih tua umurnya darinya. Namun itulah resiko seorang menjadi seorang guru, meski belum punya anak atau istri, dia otomatis dipanggil pak, pak guru. Guntur tertawa lucu membayangkannya, hati nuraninya benar-benar menangis mendengar hal itu.


"Begini... Jadi..." Guntur menjelaskan kejadian tadi pagi dengan detail tanpa ditambah atau dikurangi sedikitpun.


Dan sebagian para siswa sungguh sangat menyesal dan bersalah ikut mendukung aksi siswa yang membullynya terutama Ana. Ana lah yang paling banyak protes dan mengelak, bahkan dia membernarkan perbuatannya yang jelas-jelas itu salah dan belum tentu kebenarannya meski bukan dialah yang menyebarkan foto-foto itu.


Dada Ken terasa sesak dan sakit, apalagi saat ditunjukkan foto pembuat masalah itu adalah foto ayah tiri putrinya dan putrinya memang sering diantar jemput meski tidak setiap hari.


Bahkan dia ayah kandungnya tak melakukan perhatiannya hingga seperti itu pada putrinya itu. Dia merasa gagal menjadi seorang ayah, bahkan putusan putrinya yang rela mengalah untuk tinggal bersama dirinya membuat Ken merasa bersalah dan menyesal.


"Maaf... pasti karena kesalahan saya yang kurang memperhatikannya akhir-akhir ini." Jawab Ken menundukkan kepalanya menyesali perbuatannya.


"Sekarang semua sudah teratasi dan Anin segera mendapat pertolongan. Boleh saya bertanya satu hal?" Ucap Guntur sambil memberikan pertanyaan pada Ken.

__ADS_1


"Ya?" Ken sontak mendongak kembali menatap Guntur.


"Apa sebelumnya Anin mempunyai suatu trauma karena kejadian buruk?" Bukan hanya Ken yang terkejut, Bram yang sejak tadi diam-diam ikut menguping, bukan menguping tapi memang terdengar jelas semua percakapan mereka.


Ikut menoleh menatap Guntur bersamaan dengan tatapan terkejut Ken. Guntur yang merasa ditatap oleh dua orang itu pun ganti menatap keduanya bergantian.


"Maaf jika itu menyinggung... Hanya saja sebelum kejadian ini, Anin di sekolah sangat introvert dan ansos terhadap teman-teman terutama pria asing. Padahal saat kelas sepuluh dan sebelas tidak seperti itu." Jelas Guntur karena sudah lama dia bertanya-tanya tentang hal ini, dia bingung ingin bertanya pada siapa.


Kedua pria tadi masih menatap Guntur dengan tanda tanya.


"Maksud anda, putriku sangat menghindari orang asing? Terutama pria asing meski sekelas?" Tanya Ken sekali lagi tak percaya dengan pertanyaan Guntur.


Guntur mengangguk mengiyakan. Bram menghela nafas mengalihkan pandangannya. Jadi traumanya pasca kejadian itu muncul kembali? Batin Bram. Dia sudah mengira hal itu akan terjadi suatu saat. Menurut keterangan singkat Rian tadi, Anin masih rutin mengunjungi dokter psikolog nya terkait ketidak nyamanan nya pada orang asing.


Dikira Bram sudah benar-benar sembuh tapi ternyata... Bram lagi-lagi menghela nafas dan itu tak luput dari pandangan mata Ken. Yang artinya Bram tahu semua sedang dirinya tidak yang notabene ayah kandungnya, ayah yang tinggal serumah dengannya, ayah yang sibuk dan jarang pulang juga jarang memperhatikan putrinya itu. Ken ikut menghela nafas panjang dan berat, dia menyesali segalanya.


"Lalu, dimana putriku sekarang?" Tanya Ken yang sadar sejak tadi dia belum melihat putrinya pasca kejadian itu.


Guntur tampak menghela nafas, dia tak memaksa untuk bertanya tentang hal yang menimpa Anin di masa lalu. Namun entah kenapa saat mengetahui gadis itu pernah mengalami kejadian yang membuatnya trauma membuat dirinya sesak di dada seolah ikut merasakan setiap penderitaan yang dialami gadis yang entah sejak kapan selalu menjadi fokus perhatiannya sejak semester akhir.


TBC


Dukung terus karyaku


Beri rate, like dan vote nya

__ADS_1


Makasih 🙏


Maafkan typo


__ADS_2