Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Sakit?


__ADS_3

Seorang wanita tampak pucat saat sedang berjalan pulang ke rumahnya. Kantor tempatnya bekerja yang tak jauh dari tempat tinggalnya membuatnya ingin berjalan kaki saja untuk pulang ke rumah. Selain mengirit biaya transport dia juga ingin jalan-jalan sebentar agar badannya lebih fit.


Entah kenapa tubuhnya akhir-akhir ini sangat lemah dan mudah lelah. Kepalanya juga sangat pening. Untung saja dia tidak pingsan saat bekerja tadi.


"Assalamualaikum..." sapa wanita itu memasuki rumahnya yang terlihat sederhana.


"Wa'alaikum salam... mbak baru pulang?" tanya wanita lain yang keluar dari rumah itu dengan wajah cemas melihat wajah wanita yang baru pulang itu pucat pasi.


"Iya... dimana Anin?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Karina.


"Dia sudah tidur mbak, setelah ku beri tahu mbak lembur, Anin tidur lebih dulu." jawabnya.


"Makasih ya May?" ucap Karina yang memegangi kepalanya yang berdenyut.


"Mbak sakit?" tanya Maya cemas.


Ya, setelah mereka pergi meninggalkan negara asal mereka, Maya ikut kemanapun Karina pergi. Dan Karina melarang Maya untuk memanggilnya nyonya karena dirinya memanglah bukan seorang nyonya. Hingga akhirnya Maya memutuskan untuk menganggap Karina sebagai kakaknya saja.


Dan kini Karina sudah mendapatkan pekerjaan setelah tinggal di rumah sederhana baru mereka dua bulan terakhir ini. Karina mencoba menghapus semua kenangannya dari kehidupan lamanya. Dia tak mau terlalu tergantung pada masa lalu. Dia hanya ingin membahagiakan putri semata wayangnya Anin.


"Mungkin kecapean aja. Dibawa tidur juga sembuh. Aku istirahat dulu ya Mau?"


"Iya mbak." Maya menghela nafas panjang, melihat Karina yang pura-pura terlihat baik-baik meski sebenarnya Maya tahu, Karina menahan diri demi putrinya Anin.

__ADS_1


Kini Maya masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk istirahat karena hari sudah mulai larut malam.


***


Pagi hari, Karina memegang kepalanya yang masih berdenyut. Semalam dia sudah minum obat sakit kepala untuk meredakan rasa nyerinya. Namun entah kenapa pagi harinya masih saja sangat sakit. Seketika Karina langsung berlari ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya saat merasakan perutnya bergejolak.


Hoek...Hoek...Hoek...


Karina memuntahkan semua isi perutnya. Mendadak dirinya merasakan tubuhnya panas dingin seperti masuk angin. Karina kembali mengeluarkan isi perutnya berkali-kali hingga tak ada lagi yang bisa dikeluarkan karena sudah terlalu banyak yang dikeluarkan.


Kini dia terduduk lemas di dinding kamar mandi. Dia berjalan tertatih menahan sakit dan lemas tubuhnya karena tak punya tenaga lagi. Dia pun membaringkan lagi tubuhnya di ranjang. Kepalanya kembali berdenyut. Wajahnya semakin pucat dan terlihat lemah.


Tok tok tok


"Masuk May!" suara lemah Karina yang didengar Maya akhirnya membuka pintu yang tidak terkunci itu.


Pintu kamar Karina memang tak pernah dikunci jika tidur. Namun Maya tetap tak mau masuk tanpa izin Karina apalagi saat Karina ada di dalam kamarnya. Kalaupun membersihkan kamar Karina, Maya selalu meminta izin dulu.


Meski dirinya sudah tidak dianggap sebagai pelayan malah sebagai adiknya. Tapi Maya tetap tak mau melewati batas kesopanan meski sebenarnya Karina tak mempermasalahkan.


"Mbak kenapa?" seru Maya melihat Karina terbaring lemah di ranjang dengan wajah pucat.


"Kepalanya masih pusing May, hari ini aku izin gak kerja dulu. Sepertinya aku masuk angin. Tadi muntah banyak." jawab Karina lemah sambil mata terpejam.

__ADS_1


"Mbak, kuantar ke klinik ya? Biar diperiksa?" cemas Maya.


"Gak usah, mbak istirahat saja. Pasti kecapean."


"Bener mbak gak perlu diperiksakan? Wajah mbak pucat Lo."


"Bener gak papa, minum obat aja terus tidur. Besok kalau belum sembuh. Mbak periksa deh." hibur Karina tak mau membuat Karina cemas.


"Kalau begitu ku buatkan bubur ya mbak? Terus minum obat?" tawar Maya yang diangguki Karina karena sudah tak bertenaga untuk menjawab.


***


Karina terduduk lemas di kursi taman dekat rumahnya. Dia termenung menatap hasil lab dari klinik dekat rumahnya. Entah Karina harus sedih atau justru senang karena hasil tes itu yang menunjukkan bahwa dirinya kini sedang hamil enam minggu.


Dan itu artinya tepat dua bulan lalu dia memberikan servis terakhirnya pada suami sirinya. Karina bingung harus melakukan apa. Dia sudah curiga karena sejak kemarin dia selalu mual jika mencium bau masakan yang menyengat di meja makan yang disiapkan Maya.


Apalagi setelah tiba di tempat asing itu, Karina belum sama sekali mendapati tamu bulanannya. Awalnya Karina curiga, namun dia selalu meminum pil kontrasepsi nya untuk mencegah kehamilan karena tak punya masa depan yang jelas dengan suaminya ini. Hingga akhirnya Karina memutuskan untuk mengkonsumsi pil kontrasepsi.


Tapi sepertinya akhir-akhir saat hendak pergi dia teledor dan lupa meminumnya sehingga terjadilah sekarang, hamil anak dari suami sirinya yang sudah ditinggalkannya. Dan sekarang dia pasti sudah bahagia menikah dengan istri pilihan orang tuanya. Dan apalah artinya dirinya, hanya sebutir debu yang akan terlupakan.


Jika aku memberi tahunya pun, apa dia akan percaya bahwa ini adalah anaknya? batin Karina menangis meski tak tampak raut sedih dari wajahnya malah terlihat datar. Karina menghela nafas panjang.


"Mama akan melahirkan dan membesarkanmu meski tanpa ayah kalian. Mama janji." guman Karina sambil mengelus perutnya yang masih rata. Karina tersenyum, menyemangati dirinya sendiri untuk tetap bertahan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2