Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 77


__ADS_3

"Bagaimana?" Tanya Wicaksana siang itu saat selesai meeting di ruang kerjanya.


Arman mendekati meja tuannya mulai melaporkan penyelidikan anak buahnya.


"Maaf tuan, saya tak bisa menemukan identitas gadis itu." Jawab Arman menyesal sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Apa maksudmu?" Tanya Wicaksana menatap Arman tak percaya.


Selama ini Arman adalah orang kepercayaannya yang mampu mencari atau menyelidiki soal identitas siapapun. Lalu sekarang bagaimana mungkin orang kepercayaannya itu gagal.


Bahkan perpanjangan waktu yang diminta Arman lebih lama yang biasanya hanya cukup dua hari hingga seminggu ini tak membuahkan hasil yang memuaskan.


"Sepertinya ada yang sengaja menutupi identitas gadis itu. Sepertinya gadis itu bukan putri orang sembarangan. Yang saya dapatkan dia hanya seorang mahasiswa di kampus elite swasta milik sebuah yayasan yang terkenal sebagai tempat kuliah anak-anak kaum borjuis tempat kuliah nona Lara juga." Jelas Arman membuat Wicaksana dibuat terkejut dengan hasil penyelidikannya.


"Lalu kau tak mendapatkan foto satupun tentang gadis itu?" Tanya Wicaksana menanyakan alternatif terakhir.


"Maaf tuan. Saat anak buah saya memfoto gadis itu tiba-tiba ada orang yang dengan sengaja merampas kameranya dan memaksa untuk mengambil kamera tersebut." Jelas Arman tampak menyesal tak bisa memuaskan majikannya.


"Jadi gadis itu diawasi oleh seseorang?" Tanya Wicaksana.


"Sepertinya bukan mengawasi lebih ke mengawal gadis itu diam-diam tanpa diketahui sendiri oleh gadis tersebut." Jawab Arman.


"Jadi? Gadis itu bukan gadis biasa? Artinya dia pasti sangat berharga bagi seseorang sehingga diawasi dengan sangat detail oleh seseorang. Dan takut terjadi apapun pada gadis itu?" Pendapat Wicaksana.


"Kurang lebih seperti itu tuan." Jawab Arman.


"Bagaimana dengan masa lalu gadis itu?" Arman hanya menggeleng menyesal.


"Sepertinya aku harus bertanya langsung pada Guntur." Guman Wicaksana.


"Papa." Panggil Lara setelah mengetuk pintu ruang kerja ayahnya setelah diperintahkan masuk.


"Ya sayang. Kemarilah!" Titah Wicaksana, Arman langsung undur diri meninggalkan ruangan tuannya.


***


"Kau punya hubungan dengan Guntur?" Tanya Jo saat di ruang kerjanya berdua saja.


Setelah sarapan, Jo meminta Anin untuk berbicara sebentar.


"A... apa maksud Daddy?"Jawab Anin balik bertanya.


"Anindita." Tegas Jo menatap Anin lekat.


Anin terdiam. Dia tahu jika daddynya sudah memanggil namanya tanpa embel-embel princess, daddynya sedang serius dan tak mau diajak bercanda.


"Aku mencintainya dad." Jujur Anin menatap Jo yang juga menatapnya menunggu jawaban dari Anin.


Jo terdiam mendengar jawaban putri sambungnya. Jo menghela nafas panjang.


"Kau tahu siapa Guntur?" Tanya Jo lagi.

__ADS_1


"Dia mantan guru SMA ku." Jawab Anin yakin.


"Kau sudah tertarik padanya sejak dulu?" Anin mengangguk mengiyakan. Jo lagi-lagi menarik nafas dalam-dalam.


"Sudah sejauh apa hubungan kalian?" Tanya Jo menatap Anin penuh intimidasi.


"Apa maksud Daddy?" Jo menatap Anin intens.


"Kalian sudah berhubungan intim?" Tanya Jo menahan nafas berharap apa yang ditanyakannya dijawab tidak oleh putri istrinya itu.


"Tidak...tentu tidak.. Kami tidak sejauh itu Daddy. Aku masih tahu batasan-batasan yang dikatakan mommy. Aku... aku mencintainya daddy. Tapi aku tidak bodoh." Jawab Anin langsung menggeleng kuat dan menjawab cepat.


Jo menghembuskan nafas lega setelah mendapatkan kejujuran putri sambungnya.


"Terima kasih princess, kau memang putri kecilku." Bisik Jo mendekat Anin dan memeluknya erat.


"Aku sudah besar Daddy." Jawab Anin dalam dekapan itu membuat Jo tertawa terbahak-bahak.


"Sampai kapanpun kau tetap putri kecil Daddy." Ucap Jo sambil mencubit kedua pipi Anin gemas sambil tertawa bahagia.


"Lalu?" Jo menjeda ucapannya.


"Ya?" Tanya Jo lagi menatap Anin lekat.


"Apa yang kalian lakukan di kamarnya?" Anin tersentak kaget dengan pertanyaan Jo.


"Kami... kami hanya tidur bersama, hanya saling berciuman tidak lebih. Sungguh Daddy, mas...eh maksudku pak Guntur pun tak mau merusakku katanya ada seseorang yang harus dihormatinya." Jawab Anin malu-malu.


"Tapi? Bukannya Guntur sudah bertunangan?" Tanya Jo lagi membuat Anin terdiam.


"Itu katanya dia dijodohkan, padahal dia tak menginginkannya. Dia melakukan atas paksaan ayahnya demi bisnis mereka." Jelas Anin berdasarkan cerita Guntur yang tentu saja bagian ibunya tidak diceritakan pada Anin.


"Kau yakin dia tidak memanfaatkanmu?" Tanya Jo menatap Anin lekat.


"Aku percaya berdasarkan naluriku, kalau dia juga tulus mencintaiku juga." Jawab Anin yakin. Jo tersenyum menatap Anin penuh kasih.


"Tapi aku harus mementingkan belajarmu princess." Saran Jo.


"Of course Daddy." Jo tersenyum mendengar jawaban yakin Anin.


"Kau butuh bantuan Daddy?" Tawar Jo.


"Maksud Daddy?" Tanya Anin mengernyit tak paham.


"Aku bisa memutuskan pertunangan mereka dan bertunangan denganmu princess." Tawar Jo.


"No Daddy. Aku akan menunggu bagaimana perjuangannya untuk memperjuangkanku Daddy. Memperjuangkan aku sendiri karena mencintaiku, bukan Aku karena aku adalah putri Daddy." Jawab Anin yakin.


"Okay." Jawab Jo puas dengan jawaban Anin.


"Princess?" Panggil Jo saat Anin hendak keluar dari ruang kerjanya.

__ADS_1


"Yes, Daddy." Anin berhenti dan berbalik ganti menatap Jo.


"Daddy akan senang jika kau tak melakukan sentuhan sejauh itu. Kau tahu kenapa Daddy dulu menikah siri dengan mommymu saat mommymu masih bersuami papamu?" Tanya Jo menatap Anin lekat.


"Memang kenapa dad?" Anin memang pernah menanyakan saat waktu dirinya kecil dulu, dia tak sengaja menguping pembicaraan keduanya dan Anin langsung menginterogasi mommynya.


"Karena Daddy tak mau melakukan dosa lebih dari itu. Bagaimana pun juga jika dua orang berbeda jenis kelamin bersama maka akan ada setan untuk orang ketiganya. Meskipun poliandri dilarang di negara kita. Tapi Daddy tulus mencintai mommymu saat itu. Apalagi mendengar hubungan mommymu dan papamu sudah tidak sehat lagi." Anin terdiam, dia mencerna kata-kata daddynya.


"Dan Daddy harap, jangan kecewakan Daddy dan mommy. Kalau kau memang tak mau berbuat dosa lebih jauh. Daddy siap membantu princess untuk mengurus pernikahanmu dengan Guntur sebelum kau kehilangan kehormatan sebagai seorang gadis. Kau paham kan maksud Daddy? Daddy selalu tahu apa yang kalian lakukan di belakang. Daddy mengawasi semuanya. Daddy hanya tak mau kau menyesal nantinya." Peringat Jo menatap Anin serius penuh harap.


Anin terdiam merasa bersalah karena beberapa kali dia merasa murahan di hadapan Guntur. Dia sangat mencintainya, sungguh sangat mencintainya. Untung saja Guntur tipe pria yang tak mau merusak orang yang dicintainya.


"Maaf Daddy .. Anin minta maaf. Anin janji akan berubah." Anin menunduk merasa bersalah, air matanya menetes.


"No problem princess... Daddy melakukannya karena Daddy menyayangimu. Jangan sampai kesalahan yang pernah kami lakukan juga kau lakukan princess!" Nasehat Jo membuat Anin menangis semakin kencang dalam pelukan Jo.


***


"Kau sudah mendapatkan siapa pelakunya?" Tanya Jo sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya sambil menatap keluar jendela kaca di ruang kerjanya.


"Sudah tuan." Jawab Rian menunduk hormat.


"Siapa?" Jo berbalik menatap Rian mendekat ke meja kerjanya.


"Larasati Wicaksana, adik tuan Guntur. Sepertinya dia merasa jengkel karena nona Anin berhubungan dengan kakaknya." Jelas Rian sambil menyerahkan tablet pada Jo yang memperlihatkan wajah gadis yang berani membully putrinya.


"Kau tahu kan apa yang harus dilakukan?" Tanya Jo menatap Rian tajam.


Sarat akan kemarahan yang ingin dilampiaskan pada gadis dalam foto itu.


"Ya tuan."


"Bagus." Jo meletakkan tablet itu di meja sambil menatap tajam dan dingin pada foto itu.


"Ada lagi yang harus saya sampaikan tuan?" Ucap Rian lagi teringat sesuatu.


"Ya?" Jo mendongak menatap Rian penasaran.


"Beberapa hari lalu orang kita menangkap seseorang yang mengawasi non Anin. Dia bahkan mengambil kabar nona dan juga meretas laptop nona untuk mencari identitas nona." Jelas Rian.


"Meretas data Anin dan mengawasi serta mengambil fotonya?" Tanya Jo memastikan pendengarannya.


Rian pun menyerahkan kamera dan hasil foto yang diambil kamera tersebut. Jo mengambil kamera serta foto-foto Anin di berbagai sudut dan saat dengan siapapun mulai dari pagi hingga malam hari selama dua hari.


"Orang brengsek mana yang berani mengawasi putriku?" Tanya Jo marah meremas foto itu.


"Dia a suruhan tuan Wicaksana." Jawab Rian semakin kepalan tangan Jo menguat.


"Brengsek. Apa lagi yang dilakukan penjilat itu?" Teriak Jo kesal. Dia tahu betul watak Wicaksana.


TBC

__ADS_1


__ADS_2