
Brak
Pintu ruang kerja Guntur dibuka kasar oleh Alea. Guntur sedang bersama dengan dua orang bawahannya membahas tentang sesuatu. Ketiganya langsung menoleh bersamaan menatap Alea.
"Kalian keluarlah, kita bahas lagi nanti!" Titah Guntur pada dua orang bawahannya yang langsung diangguki dan pergi meninggalkan ruangan Guntur.
"Baik pak." Keduanya keluar dari ruang kerja Guntur.
"Kau tak bisa membatalkan pernikahan kita yang tinggal beberapa hari mas?" Seru Alea tanpa basa-basi.
"Aku bisa dan aku juga mampu." Jawab Guntur yakin.
"Undangan sudah disebar, semua sudah dibooking, tak mungkin dibatalkan." Seru Alea lagi sambil berdiri mendekati Guntur duduk di sofa single.
"Aku tak pernah mengiyakan semua pernikahan itu. Sejak awal aku sudah menolaknya bahkan saat perjodohan itu dimulai. Pertunangan pun begitu. Aku sudah memberikan penjelasan padamu bahwa aku mempunyai seseorang yang kusukai. Tapi bukan kau." Jawab Guntur tersenyum mengejek.
"Tapi... semua orang sudah tahu ..."
"Aku sudah membatalkannya dan mengumumkannya dan mungkin sebentar lagi semua orang akan tahu." Jawab Guntur percaya diri.
"Kau .. brengsek kau mas." Umpat Alea menatap Guntur nyalang.
"Sekarang semua milikku dan aku tidak terlalu butuh untuk kerja sama dengan keluargamu kalau mereka suatu saat menarik investasi, aku siap membeli saham keluargamu." Jawab Guntur berdiri dari duduknya mendekati Alea.
"Mas, aku tak mau membatalkan rencana kita." Jawab Alea.
"Perjodohan itu hanya kehendak tuan Wicaksana terhormat yang sayangnya sudah tidak terhormat lagi. Kau bisa menuntut semuanya pada dia. Aku tak pernah mengiyakan semuanya. Kulau yang antusias sendiri menerimanya. Jadi jangan salahkan aku jika membatalkan semuanya." Ucap Guntur sarkas.
Emosinya merasa terpancing. Dia sudah tak sabar ingin mengakhiri semuanya dan bersatu dengan kekasihnya untuk melamarnya.
Plak
"Brengsek kau mas, tunggu pembalasanku!" Ancam Alea meninggalkan ruangan Guntur dengan menggeram kesal.
Yang dikatakan Guntur semuanya benar, hanya dirinya sendiri yang terlalu antusias dengan perjodohan mereka. Alea memang sangat mencintai Guntur. Dirinya lah yang memohon pada orang tuanya untuk melakukan perjodohan dengan Guntur sebagai balasan investasi besar yang diberikan dari pihak perusahaannya untuk perusahaan Wicaksana yang sayangnya sekarang semua sudah beralih pada Guntur.
Dan Alea yakin Guntur terpaksa melakukan cara tersebut untuk membatalkan hubungannya dengan dirinya.
***
Guntur memegangi pipinya yang terasa panas saat ditampar oleh Alea tadi. Sepertinya Alea melampiaskan seluruh kekuatannya untuk membalas segala perlakuannya selama ini. Namun dia tidak peduli, dia ingin mengakhiri semuanya dengan membuktikan dirinya sebesar apa perjuangannya untuk mempertahankan perasaannya pada kekasihnya.
"Kau sudah siapkan semuanya?" Tanya Guntur saat Raka memasuki ruangannya setelah Guntur menghubunginya.
"Semua sudah disiapkan tuan, tinggal menunggu check up kesehatan nyonya apakah baik-baik saja." Jawab Raka membuat Guntur tersentak.
"Apa maksudmu? Ada apa dengan ibu?" Tanya Guntur cemas.
"Bukannya tuan meminta saya untuk mengantar nyonya check up kesehatan hari ini?" Jawab Raka heran karena Guntur seolah lupa dengan apa yang dititahkan tadi.
"Begitukah?" Jawab Guntur seperti orang bodoh saja.
"Apa tuan muda tak apa?" Tanya Raka cemas.
__ADS_1
"Aku terlalu bahagia akan bertemu dengannya setelah menahan diri sebulan lebih Raka. Aku merindukannya. Aku tak cukup puas melihatnya dari foto-foto yang dikirim orang kita. Apalagi selalu ada pria itu dimanapun dia berada. Aku takut dia melupakanku." Curhat Guntur sambil menatap jendela ruang kerjanya sambil meletakkan kedua tangannya di kedua saku celananya masing-masing.
"Jika dia berjodoh dengan anda, pasti akan bersatu suatu saat nanti." Jawab Raka membuat Guntur terdiam merenung.
"Dimana ibu sekarang?" Tanya Guntur mengalihkan pembicaraan.
"Seharusnya beliau sudah sampai rumahnya." Jawab Raka sambil melirik jam tangannya menunjukkan pukul sebelas siang.
"Apa maksudmu seharusnya?" Guntur langsung berbalik menatap Raka tajam.
"Ehm... sepertinya ada yang sedang reuni." Jawab Raka ambigu.
Berdasarkan informasi yang didapatnya dari sopir yang mengantar nyonya Kim, tadi nyonya Kim bertemu dengan seorang pria paruh baya dan sepertinya mereka berbincang akrab. Dan yang lebih membuat Raka terkejut, pria itu adalah ayahnya, ayah kandungnya, Arman Ibrahim. Raka shock tentu saja saat dia mendengar informasi itu tadi.
"Boleh aku bertanya ada apa ini?" Suara Raka membuat Arman berdehem kaku merasa ketahuan seperti orang selingkuh.
"Raka, kau disini nak?" Tanya ibu Kim menatap Raka ramah penuh senyuman.
"Apa nyonya mengenal pria tua ini?" Arman sontak berdecak kesal mendengar sebutan dirinya pada dirinya dari putranya sendiri.
"Dia? Dia tuan Arman, dia adalah asisten Wicaksana setelah beberapa hari lalu mengundurkan diri. Apa kau mengenalnya juga Raka?" Tanya ibu Kim memang tak tahu hubungan keduanya.
Arman berdehem mencegah Raka memberi tahukan siapa dirinya sebenarnya.
"Nyonya, dia..."
"Yang sopan Raka, dia orang yang lebih tua darimu." Peringat ibu Kim menatap Raka marah.
"Raka, kau pergilah!"
"Ayah?" Ibu Kim menatap Raka tak percaya dan beralih menatap Arman meminta penjelasan.
"Dia putra yang selalu kau ceritakan itu?" Tanya ibu Kim pada Arman.
"Ayah, jadi nyonya adalah mantan kekasih ayah yang direbut tuan besar?" Raka langsung bicara blak-blakan yang membuat keduanya sontak pipinya memerah merona tersipu malu. Raka tertawa miris.
"Ah, jadi cinta lama bersemi kembali?" Ejek Raka menatap ayahnya.
"Raka, bukan seperti itu nak?" Elak ibu Kim.
"Apa salah jika sekarang ayah merasakan hal itu lagi? Toh kami sama-sama single." Yakin Arman menatap ibu Kim.
Membuat ibu Kim semakin merona saja wajahnya. Raka melongo tak percaya melihat keduanya seperti remaja yang baru saja kasmaran saja.
"Ayah?"
"Pergilah! Jangan ganggu kesenangan ayah!" Usir Arman pada putranya yang semakin melongo keheranan.
***
"Ibu, kau sudah siap?" Tanya Guntur tiba-tiba muncul di rumah ibunya.
Oh ya, setelah keberhasilan Guntur mengambil milik ayahnya. Guntur memboyong ibunya di rumah barunya yang lumayan besar dan nyaman untuk ibunya. Dia juga memperkerjakan beberapa pelayan untuk mengurus rumah barunya yang lumayan besar itu selain perawat khusus ibunya.
__ADS_1
"Guntur... itu..." Jawab ibu Kim serba salah menatap putranya muncul tiba-tiba di dalam rumah saat dirinya bersama dengan seseorang.
"Paman?" Tanya Guntur sedikit heran melihat ayah Raka ada di rumahnya.
Arman berdiri dari duduknya setelah berdehem menetralkan kegugupannya. Dia sudah bertekad mendatangi Guntur untuk melamar ibu Kim. Guntur mengernyit, mencerna tentang penglihatannya saat ini.
Guntur menatap keduanya bergantian dengan tatapan intimidasi. Arman sebagai pria sejati segera maju di samping ibu Kim sambil menautkan jemarinya pada jemari ibu Kim. Ibu Kim tersentak hendak melepaskan tautan jemarinya namun tidak dibiarkan oleh Arman.
"Jadi?" Tanya Guntur menggantungkan pertanyaannya.
"Kami akan menikah." Tegas Arman menatap Guntur lekat.
Guntur terdiam, dia beralih menatap wajah ibunya yang memerah karena malu-malu seperti gadis remaja yang baru jatuh cinta saja.
"Ayah?" Suara Raka menyela tak percaya melihat kenekatan ayahnya yang benar-benar berniat menikah.
Bukankah mereka sudah tua, sudah seharusnya mereka mendahulukan kebahagiaan anaknya daripada mereka. Arman masih tetap diam tak memalingkan wajahnya dari Guntur yang juga menatapnya lekat.
"Apa jaminan kalau aku harus percaya paman akan membahagiakan ibuku?" Tanya Guntur menantang tatapan lekat Arman.
"Tuan muda." Raka yang menyela ucapan Guntur.
"Seluruh hidupku. Kami ingin bahagia di sisa usia kami. Seumur hidupku, aku berjanji akan menjaganya." Arman menoleh menatap ibu Kim yang juga menatapnya terharu.
Guntur melihat itu semua, menatap keduanya yang sama-sama terpancar perasaan cinta di mata keduanya.
"Sepertinya kita akan jadi saudara." Guntur beralih menatap Raka yang masih tidak terima. Guntur masuk ke dalam kamarnya.
"Tuan muda." Ucap Raka yang masih tidak setuju tentang persetujuan Guntur tentang pernikahan kedua orang tua mereka.
"Batalkan semua rencanaku, aku harus mempersiapkan pernikahan ibu." Ucap Guntur yang melihat Raka mengikuti ke kamarnya.
"Apa tuan muda benar-benar akan merestui pernikahan mereka?" Guntur berbalik menatap Raka sambil melepas kancing kemejanya.
"Apa kau akan terus memanggilku tuan muda disaat kita akan menjadi saudara?"
"Eh...?"
"Pergilah! Lakukan apa yang aku katakan tadi!" Titah Guntur melanjutkan dia melepaskan pakaiannya.
"Boleh aku menolak, adik?"
"Siapa yang adikmu?" Seru Guntur tak terima.
"Kau lebih muda dua tahun dariku, berarti kau adalah adikku bukan?" Jawab Raka tersenyum mengejek.
"Kau?" Ucap Guntur tak bisa berkata-kata. Yang dibalas senyuman ejekan oleh Raka.
"Lakukan setelah mereka menikah! Dan itu diluar pekerjaan." Titah Guntur.
"Baik adik." Raka tersenyum mengejek lagi sambil meninggalkan kamar Guntur.
"Ah, sial. Si brengsek itu ya?" Umpat Guntur.
__ADS_1
TBC