
"Be careful John, Josh..." seru Jo melihat kedua putranya terjatuh dari papan seluncur itu.
Hanya John yang mengeluh kesakitan, beda dengan Josh si bungsu. John lebih lebay dan banyak tingkah ketimbang adiknya. Padahal kalau diperhatikan lebih lagi, Josh jatuh lebih sakit ketimbang John tapi lagi-lagi John yang merespon lebay. Sehingga Josh tak jadi mengeluh kesakitan melihat kakaknya berteriak kesakitan.
"Apa yang Daddy katakan! Josh lebih sakit tapi dia tak selebay dirimu." seru Jo melihat kaki John yang sakit sedikit bengkak.
Josh tersenyum dalam hati melihat daddy-nya membelanya.
"Tapi ini sakit Daddy.." keluh John meringis kesakitan.
"What's happen honey...?" suara Karina mendekati putra kembarnya yang terlihat sama-sama terduduk di tepi pantai dengan tampang meringis.
Ketiganya spontan menoleh menatap sang mommy yang sedang mendelik tajam pada si kembar, yang ditatap langsung menciut. Kalau mereka berani mengeluh pada sang mommy mereka pasti akan diomeli dari a-z.
"No problem mom." jawab John tersenyum meski menahan sakit.
"Are you okay Josh?" tanya Karina lembut.
"Uhm...uhm..." Josh melirik pada sang kakak dan Daddy nya.
"Daddy." teriak gadis kecil berusia delapan tahun itu langsung menghambur memeluk Jo.
"Oh my..." Jo yang belum siap langsung terjungkal ke bawah. Malah membuat semua orang tertawa.
"Princess... jangan mengagetkan Daddy seperti ini!" seru Jo. Membuat semuanya semakin tertawa.
"Baby, berteduhlah! Aku akan menggendong anak-anak." ucap Jo menatap Karina penuh cinta.
"Aku ingin mengajak kalian makan siang. Baby sudah kelaparan honey." jawab Karina sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit.
"Oh, i'm sorry baby." Jo mengecupi perut istrinya.
***
Setelah masing-masing mandi, semuanya menuju ruang makan yang makanannya sudah disiapkan oleh pelayan resort itu. Setelah sepuluh tahun pernikahan, Jo mengajak seluruh keluarga besarnya untuk berlibur ke Bali. Mereka menempati resort milik keluarga besar Alensio. Sudah lebih dari tiga hari mereka menghabiskan liburan itu di resort dengan bersenang-senang di pantai dekat resort.
__ADS_1
Pantai itu masih terbilang baru dan belum begitu terkenal sehingga keluarga kecil Jonathan menghabiskannya disana dengan sedikit tenang dan nyaman. Meski banyak orang lain namun tak seramai pantai-pantai yang lain.
"Dimana Anin?" tanya Jo melihat anggota keluarganya belum genap.
"Oh my, pasti dia belum kembali." guman Karina.
"Kemana dia baby?" tanya Jo mendengar gumanan istrinya.
"Ah, tadi dia minta izin untuk membeli sesuatu di kota. Sampai sekarang belum kembali." jawab Karina mulai cemas. Dia baru ingat sebelum melihat si kembar terjatuh tadi.
"Aku akan menghubungi ponselnya." Jo langsung meraih ponselnya untuk menghubungi ponsel Anin.
Namun pada deringan ketiga ponsel tersambung tapi tidak diangkat.
"Ponselnya aktif, tapi dia tak mengangkatnya." ucap Jo cemas.
"Aku akan menjemputnya."
"No baby. Aku yang akan menjemputnya. Kau harus menjaga baby." Jo mengambil jaket, ponsel dan kunci mobilnya. Tak lupa mengecup perut dan bibir istrinya.
"Yes Daddy." jawab ketiganya kompak.
Jo langsung tancap gas, untuk saja sebulan lalu dia memasang aplikasi pelacak pada ponsel putri sambungnya itu. Meski dia putri sambungnya, Jo memperlakukan sama anak-anaknya seperti anak-anaknya yang lain. Benar akan dibela, dan salah tentu saja harus dihukum tidak pilih kasih.
Jo terlihat tegas dan disiplin di depan semua anak-anaknya. Hanya di depan istrinya dia terlihat lemah dan sangat bucin. Dia akan melakukan apapun untuk istri tercintanya itu. Selama itu untuk kebaikan why not.
Jo mulai menelusuri jejak aplikasi lokasi pada ponselnya yang mengarah pada sebuah gudang kosong di dekat, minimarket tak jauh dari tempat itu. Pikiran Jo kembali cemas dan ketar-ketir, dia berkali-kali berdoa semoga tak terjadi apapun pada putrinya itu.
Hingga Jo memarkirkan mobilnya tak jauh dari pintu masuk gudang kosong yang sepi itu. Jo turun perlahan dari mobil setelah memastikan sekali lagi kalau ponsel Anin berhenti di tempat itu.
"Baby, kuharap ini salah." guman Jo. Dia melangkah perlahan mendekati gudang itu, mengintip sebentar jendela kaca yang sudah kusam itu.
Namun tak terlihat apapun, Jo semakin cemas dan panik. Dia berjalan lebih mendekati pintu masuk yang tidak tertutup itu.
Bruak...
__ADS_1
Suara sesuatu yang jatuh di tanah mengagetkan Jo yang mengendap-endap seperti maling. Jo tersentak dan spontan berlari ke arah suara itu.
Jo langsung melotot tajam melihat sesuatu yang tak dikiranya.
"Breng*sek." Jo langsung menendang seorang pria muda yang mulai menindih tubuh seorang gadis yang diyakini Jo, dia adalah Anin, putri sambungnya.
Pria muda itu langsung nyungsep diatas tubuh Anin yang sudah setengah telanjang dengan pakaian dalam saja menempel di tubuhnya.
"Princess.." seru Jo membangunkan Anin yang masih pingsan seperti bekas dipukuli mungkin mencoba berontak saat pria-pria brengsek itu hendak memperkosanya.
Anin mulai membuka matanya perlahan menatap wajah yang tak asing di depannya langsung menangis histeris.
"Daddy." teriak Anin memeluk tubuh Jo yang dibalas pelukan juga oleh Jo.
"You're okay princess." bisik Jo dalam pelukan itu.
"Daddy... tolong Daddy. Mereka jahat Daddy." bisik Anin ketakutan memeluk erat tubuh Jo.
"Brengsek, siapa yang berani mengganggu kesenanganku?" guman pria muda yang ditendang Jo tadi.
Semua temannya yang berjumlah tiga orang mulai mengepung Jo dan Anin. Jo melepas pelukannya dan memberikan jaketnya pada Anin untuk menutupi tubuhnya.
"Daddy, jangan tinggalkan aku!" Anin tak mau melepaskan pelukannya.
"Tenang princess. Pakai jaket Daddy, ini ponsel, hubungi polisi, mengerti? Daddy akan membalas rasa sakitmu pada mereka semua." geram Jo sambil mengepalkan tangannya.
Anin akhirnya mau melepaskan pelukannya dan melakukan apa yang dikatakan Jo. Sementara Jo mulai berkelahi melawan empat orang pemuda itu. Meski agak sedikit kuwalahan dan babak belur namun akhirnya, polisi tiba di saat yang tepat. Saat Jo sedikit lagi terpojok.
Kini Jo dan Anin dibawa ke rumah sakit sebelum dimintai keterangan lebih lanjut oleh polisi. Meski keempat pemuda itu belum sempat berhasil menyentuh Anin, namun tindakan penculikan dan percobaan pemerkosaan merupakan tindakan pidana yang sangat memberatkan.
Dan Jo ingin menuntut mereka semua untuk dihukum seberat-beratnya. Anin hanya terdiam menatap kosong ke depan dengan Jo terus memeluknya erat untuk menghilangkan ketakutan putrinya itu.
TBC
Season 2 akhirnya...
__ADS_1
Beri like, rate dan vote nya makasih 🙏