
Jo melangkah memasuki restoran lantai lima yang ada di hotel itu. Dia dapat melihat Rian yang sedang memberi perintah pada pelayan restoran untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan rekan bisnisnya dari Sing*pur*, siapa lagi kalau bukan dengan Mr.Alex dan sekretarisnya yang masih satu kampus dulu dengan Jo.
Jo sebenarnya sudah malas untuk bertemu dengan mereka, kalau saja bukan karena keprofesionalannya sebagai pebisnis, Jo enggan untuk melanjutkan kerjasama mereka meski tidak sedikit keuntungannya yang diperoleh.
"Apa mereka sudah datang?" tanya Jo pada Rian saat sudah tiba di depan pintu ruangan privat restoran.
"Belum tuan, mungkin sebentar lagi." jawab Rian sambil melirik jam tangannya.
"Selamat pagi Mr. Jo!" sapa Mr. Alex yang baru saja tiba dan tentu saja dengan Annie yang ikut datang dan berdiri di samping Mr. Alex.
"Ah, selamat pagi juga Mr. Alex!" sapa balik Jo dengan senyum mengembang yang dipaksakan.
Kini ganti menatap Annie yang sejak tadi menatapnya lekat dengan senyum sejuta watt nya. Yang malah membuat Jo muak menjijikkan menerima senyum itu.
"Selamat pagi, Mr. Jo!" Annie dengan berani menyapa lebih dulu demi keprofesionalannya padahal niatnya memang untuk menggoda Jo, Jo menatap dingin.
Tatapan Annie malah beralih ke bawah dan tentu saja pikiran mes*m Annie mengarah kemana, dan oh my God, adik kecil Jo masih terlihat tegak jika diperhatikan dengan teliti. Jo melirik sambil bercakap dengan Mr. Alex, ingin tahu kenapa Annie menatapnya intens pada celananya.
Dan oh shit, Jo mengumpat kesal saat mengingat tadi dirinya di kamar hotel sempat tegang karena mengingat percintaan panasnya dengan sang istri tadi. Jo merutuki dirinya dan mengumpat kesal.
Jo melirik pada Annie yang menatapnya mes*m dengan tatapan ingin melahapnya, apalagi selama ini dia begitu menginginkan bercinta dengan Jo yang sempat merengek semalam untuk disentuh Jo.
Seharusnya Jo sadar kalau jasnya menutupi bagian tubuh bawahnya, tapi sialnya karena memang tadi dia tidak bisa mengendalikan nafsunya agak sedikit sulit tadi dia mengendalikan diri namun tidak sepenuhnya tertidur.
Mereka pun masuk ke dalam ruang privat restoran yang memang sudah disiapkan oleh pihak Jo. Dan mereka pun duduk di tempat yang telah disediakan. Jo dan Mr. Alex berbincang membahas tentang proyek mereka yang sudah berjalan dan juga proyek yang akan dilaksanakan setelah ini.
Mereka berencana untuk mengunjungi proyek-proyek itu setelah sarapan. Jo didampingi Rian sebagai asisten pribadinya dan Mr. Alex yang didampingi Annie sebagai sekretarisnya atau entahlah. Jo sudah curiga sejak melihat keduanya berinteraksi.
__ADS_1
Dan Jo tahu betul siapa Annie, dia bisa melakukan apapun demi hal yang diinginkannya termasuk menggodanya sampai dia jatuh ke pelukannya mungkin. Tapi Jo bukan orang yang mudah tergoda, baginya Karina sudah segala hidupnya. Tak ada yang bisa menggantikan istrinya itu.
***
Perbincangan dan sarapan berjalan lancar, mereka bersiap untuk menuju proyek-proyek mereka. Mobil pun sudah disiapkan oleh perusahaan Jonathan.
"Sebentar!" ucap Mr. Alex melihat ponselnya berdering dan dia pun pamit pada Jo untuk menerimanya sebentar.
"Tentu." jawab Jo tersenyum terpaksa karena dengan berlalunya Mr. Alex, itu artinya dia akan berdua dengan Annie, karena Rian sebagai sopirnya sedang bersiap di kursi kemudi.
"Hai Jo!" sapa Annie membuat Jo berdecak kesal.
Dia sudah mencoba menghindari Annie agar tak mengajaknya bicara tadi. Namun dasar Annie wanita murahan, dia tersenyum menggoda Jo yang tak ditanggapi baik oleh Jo.
"Ada apa?" jawab Jo ketus memalingkan muka.
Jo menatap marah, tajam dan dingin pada Annie yang dengan berani-beraninya menggodanya. Dan Jo bukan pria munafik, meski tak sepenuhnya kembali bangkit, namun adik kecilnya sedikit bereaksi karena dari pagi Jo tak mampu menidurkan sepenuhnya.
Jo ganti menatap sekelilingnya, ramai orang disana untung saja tak ada yang memperhatikan interaksi mereka apalagi gerakan cepat Annie yang dengan beraninya.
"Apa kau ingin terlihat lebih murahan lagi?" ucap Jo dengan nada rendah yang hanya didengar keduanya dengan menekankan kata murahan.
"Hmm... aku akan bersikap lebih dari murahan agar bisa mendapatkan denganmu. One night stand mungkin?" goda Annie yang malah tersenyum puas melihat Jo bereaksi meski hanya sedikit. Dan wow... sepertinya adik kecilnya sangat... besar... dan panjang.
Jo semakin kesal dan emosi saja, menatap Annie dengan sorot penuh kebencian dan kekesalan. Kalau saja dia bukan sekretaris Mr. Alex, dia pasti akan mempermalukannya. Belum selesai emosi dan kekesalan Jo mereda, tiba-tiba suara Mr. Alex menginterupsi bahwa panggilan ponselnya sudah berakhir.
"Maaf Mr. Jo, aku ada sedikit urusan, bagaimana kalau kunjungan proyeknya dengan sekretarisku saja. Kalian kan teman satu kampus dulu." ucap Mr. Alex membuat Annie mengeluarkan senyum seringainya yang tak dilihat Mr. Alex tapi dilirik Jo yang membuat Jo semakin bertambah kesal saja dan jijik melihat Annie.
__ADS_1
"Kita bisa melakukannya lain kali..." elak Jo.
"Tidak! Aku butuh laporan tentang kunjungan proyek ini." tolak Mr. Alex tegas.
Semakin lebar saja seringaian di bibir Annie menatap Jo lekat. Yang malah membuat Jo semakin menahan kekesalannya.
"Baiklah, jika itu keinginan Mr. Alex." jawab Jo akhirnya membuat Annie semakin lebar saja senyuman seriangainya.
"Saya butuh bantuan anda Mr. Jo." ucap Annie setelah Mr. Alex pamit pergi dengan sopirnya.
"Ah, saya akan minta asisten saya menemani anda." ucap Jo menatap Annie dengan senyum seringai juga.
"Apa anda lupa dengan perjanjian anda tuan, andalah yang akan menunjukkan segalanya pada klien anda." jawab Annie ganti tersenyum seringai pada Jo merasa menang.
"Anda salah nona, klien saya Mr. Alex bukan anda. Anda hanyalah sekretarisnya saja. Kalau Mr. Alex tidak terima, silahkan akhiri saja kerja sama ini." senyum seringai kembali ditunjukkan Jo dan beralih menatap Rian yang bersiap di pintu mobil.
"Rian."
"Ya tuan."
"Tolong temani nona Annie mengunjungi proyek-proyek kita. Dia butuh laporan untuk diberikan pada bosnya." Jo beralih menatap Annie "kuharap kau memperlakukan baik dia, ada hal yang harus aku urus." ucap Jo lagi dengan nada ketus dan sarkas.
Annie yang mendengar hal itu berdecak kesal dan mengumpati Jo, dia sungguh kehilangan kesempatan untuk berduaan dengan pria yang diincarnya.
"Jo..." teriak Annie yang tak digubris Jo yang terus kembali masuk ke dalam hotel.
Jo sudah tak peduli dengan teriakan Annie, entah kerja samanya akan batal atau berakhir atau dia akan rugi, persetan dengan semua itu. Jo malas harus berduaan dengan wanita murahan itu yang pasti akan menggodanya sampai membuatnya kesal. Lebih baik dia menghubungi istrinya untuk meredakan kekesalannya ini.
__ADS_1
TBC