Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Kembali


__ADS_3

Dalam percakapan ponsel :


Jo :"Assalamualaikum ma..." jawabnya saat pada panggilan tertera nama mamanya.


Farida :"Wa'alaikum salam... kau tak pulang nak?"


Jo :"Ada apa ma?"


Farida :"Pulanglah nak! temani mama makan malam. Kakakmu baru saja tiba."


Jo : Terdiam.


Farida :"Mama mohon sayang." Jo tampak menghela nafas.


Jo :"Baiklah ma."


Farida :"Makasih sayang."


Jo menatap lama ponselnya, setelah itu meneruskan pekerjaannya tanpa beralih dari laptopnya.


***


Meski sedikit dengan paksaan, akhirnya Bram memboyong seluruh keluarga Karina pulang ke tanah air. Awalnya Karina menolak membawa anak-anaknya untuk pulang ke tanah air, selain karena takut mereka akan bertemu ayah mereka, Karina juga takut jika hatinya akan kembali goyah bertemu dengan suaminya yang masih menjadi suaminya meski siri.


Bahkan mungkin sekarang dia sudah menikah dengan perjodohan orang tuanya. Karina tak mau menjadi pihak ketiga dari pernikahan mereka. Kini mereka sudah bersiap untuk tinggal landas dari bandara Pearson Toronto. Bram menatap Karina lekat dengan sorot mata terlihat cemas dan takut.


Bram mengira kalau Karina mengalami Aviophobia, sehingga Bram menggenggam erat jemari tangan calon istrinya. Bram tersenyum senang saat memikirkan Karina akan menjadi miliknya sebentar lagi.


"Kau gugup?" tanya Bram saat pesawat berhasil lepas landas.


"Mungkin karena lama tak naik pesawat." jawab Karina santai meski itu bukan alasannya gugup. Kini dia sedang menyuapi si kembar yang satunya disuapi Maya.


"Setelah ini, bagaimana kalau kita menikah di sana sekalian?" tanya Bram dengan tatapan berbinar-binar. Karina terdiam juga menatap Bram intens.


"Aku ingin melihat anak-anak dulu, apa mereka bisa beradaptasi dengan cuaca disana nanti." jawab Karina beralasan meski sebenarnya bukan itu yang dicemaskan.


"Baiklah. Oh ya, selama di sana kalian tinggal di apartemenku saja." ucap Bram lagi.


"Tidak mas. Kita bisa menyewa...."


"Tidak. Aku tak mau kalian menyewa rumah. Jika ada tempat kosong kenapa kita harus menyewa. Aku akan tinggal di rumah mama, kalau itu yang kau cemaskan." sela Bram tersenyum lembut.

__ADS_1


"Tapi mas... aku tak mau dianggap memanfaatkanmu." tolak Karina.


"Tidak ada yang akan berani menganggap seperti itu. Aku akan tenang jika kau berada dalam jangkauanku. Mama juga sudah setuju aku memberikan usul seperti itu. Malah mama menyuruhku untuk memintamu tinggal di rumah mama. Tapi aku sudah memberikan alasan kalau kau tak mau tinggal serumah dengan mereka sebelum kita resmi menikah. Dan akhirnya mama menyetujui usulku jika kalian tinggal di apartemenku." jelas Bram yang terpaksa diangguki Karina.


***


"Semalam kau pulang jam berapa nak?" sapa Farida melihat putranya baru saja keluar dari kamarnya.


Saat semalam putranya menepati janjinya untuk pulang ke rumahnya meski sudah larut malam. Semalam Jo mendapat kabar oleh orang suruhannya, kalau ada penerbangan dari bandara Toronto tujuan Indonesia dengan nama Karina Artamevia. Penerbangan yang akan tiba pukul sebelas siang.


Saat Jo mendengar nama seseorang yang dicarinya tercatat dalam penerbangan esok membuat Jo bergegas menemui orang suruhannya, namun saat akses mau disusup kembali, semuanya gagal. Jo ingin mengetahui dengan siapa saja nama itu kembali ke Indonesia.


Namun data sudah tak bisa disusup lagi, akan butuh waktu lama untuk menyusup kembali dan Jo tak mungkin menunggunya karena waktu sudah hampir tengah malam. Jo memutuskan untuk menunggu orang suruhannya mendapatkan informasi lebih lanjut dan Jo pun pulang ke rumah orang tuanya.


"Sekitar jam satu pagi ma." jawab Jo santai, turun ke bawah bersama sang mama untuk sarapan.


"Apa pekerjaanmu begitu banyak?"


"Begitulah, terlalu lama aku telah meninggalkannya." jawab Jo membuat Farida terdiam.


"Baiklah mari kita sarapan!" Jo hanya mengangguk tak bicara lagi.


"Hai Jo." sapa seorang wanita cantik yang usianya selisih tujuh tahun dari Jo.


"Baik. Bagaimana denganmu? Apakah kau belum menemukan wanitamu?" goda wanita itu tersenyum lebar, karena mengetahui semua tentang adiknya karena Sanga mama yang menceritakannya.


Jo hanya menghela nafas dan duduk di kursinya, dia berdecak malas melihat kakaknya yang antusias tentang dirinya.


"Hei ayolah, adikku. Mungkin aku kenal?" tanya wanita itu masih tersenyum menggoda atau lebih tepatnya membujuk adiknya untuk diceritakan padanya semua tentang yang terjadi padanya.


"Jeslin..." panggilan sang mama membuat wanita yang dipanggil Jeslin, kakak Jo itu cemberut tak suka.


"Mommy..."panggil seorang gadis kecil yang sejak tadi hanya diam menyimak percakapan orang dewasa di meja makan.


"Ya sayang?" Jeslin menoleh pada sang putri yang duduk di kursi sampingnya.


"Aku mau lauk itu." katanya menunjuk salah satu ayam goreng yang ada di meja.


"Ambilah baby!" Jo yang duduk di dekat lauk yang dimaksud keponakannya mengambilkan untuk putri kakaknya.


"Thank you uncle."

__ADS_1


"You're well come baby." jawab Jo tersenyum senang, dia sedikit terhibur dengan kehadiran putri kakaknya yang sangat disayanginya ini.


**


Kini mereka sedang menghabiskan waktu duduk bersama di ruang keluarga setelah sarapan pagi. Hari itu weekend.


"Ada apa mama menyuruhku pulang? Bahkan mama melarang ku untuk mengerjakan pekerjaanku meski hanya dari rumah."


"Hei Jo, kau benar-benar tak tahu akan ada acara apa?" Jeslin yang menyahut pertanyaan Jo. Jo ganti menoleh pada kakaknya yang duduk di sofa depannya.


"Memang ada apa?" Jo menatap Jeslin tak sabaran.


"Bram akan menikah, kau tak tahu?" Jo terdiam, entah kenapa dadanya yang berdetak kencang saat kabar itu didengarnya.


"Apa maksud kakak, Bram kita? Sepupu kita?" jawab Jo tak percaya.


"Tentu saja, Bram mana lagi. Dia sedang dalam perjalanan pulang dari Kanada beserta keluarga calon istrinya. Dia mau memperkenalkan pada keluarga besar kita." jawab Jeslin antusias.


"Iya sayang, apa Bram tak memberi tahumu?" sahut sang mama menatap Jo yang masih kebingungan.


Jo menggeleng, namun sedetik kemudian dia tersenyum senang.


"Aku harap kabar itu benar, semoga dia berjodoh dengan pilihannya yang sekarang." ucap Jo tulus.


"Tentu saja. Apalagi calon istrinya berasal dari sini juga, dia pasti tidak sulit menyesuaikan diri dengan keluarga calon istrinya dan sebaliknya." jawab Jeslin lagi.


"Kapan acara pertemuan keluarganya?" tanya Jo sambil mengutak-atik ponselnya mengirim pesan pada orang suruhannya semalam.


"Besok malam dan dia mengharap kehadiran kita semua." jawab Jeslin lagi.


"Setelah pertemuan keluarga itu, dia ingin secepatnya melaksanakan pernikahannya dalam satu bulan lagi. Lagipula calon istrinya sudah tidak punya orang tua meski sudah pernah menikah." Farida juga menyahuti.


"Dan Bram menerima anak dari calon istrinya?" tanya Jo tak percaya.


Keduanya mengangguk. Jo melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit.


"Aku pergi dulu." pamit Jo.


"Kau mau kemana Jo?" Farida berteriak karena Jo sudah hampir membuka pintu depan.


"Menjemput seseorang?"

__ADS_1


"Kau harus pulang kemari untuk menghadiri acara besok." Jo hanya melambai menjawab teriakan sang mama.


TBC


__ADS_2