Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 32


__ADS_3

Akhir pekan, Jo memutuskan untuk libur. Pagi itu dia menghabiskan waktunya di ruang olahraga di dalam mansionnya. Dia memilih berdiam diri di mansion untuk menemani istrinya setelah seminggu penuh bekerja di kantor. Apalagi akhir-akhir ini dia sering lembur dan pulang malam.


Waktu berduaannya dengan istrinya semakin berkurang saja. Apalagi saat dirinya berhasrat dan istrinya sudah terlelap pulas di ranjangnya. Jo terpaksa menahan diri hingga pagi menjelang. Itupun jika dia tak kecolongan dengan putri kecilnya yang merengek bangun pagi-pagi sekali. Hingga dia memutuskan untuk menghabiskan waktunya pagi itu di ruang olahraga.


Apalagi si kembar dan Hana menginap di mansion orang tuanya karena ini akhir pekan.


Setelah Karina selesai mengurus bayinya, dia kembali ke kamar. Namun tak ditemui suaminya di ranjang. Karina menatap sekeliling, bermaksud menebak keberadaan suaminya. Namun nihil, dirinya belum menemukan kira-kira dimana suaminya.


Hingga mendengar dering ponsel bukan dari ponselnya membuat Karina mendekati ponsel yang diyakini milik suaminya. Yang itu artinya suaminya pergi tak jauh dari mansionnya. Ke ruang olahraga mungkin? Tebak Karina.


Karina melirik nomer ponsel tak terdaftar di layar ponsel suaminya. Dia mengernyitkan keningnya berusaha berpikir, siapa gerangan yang menghubungi suaminya pagi-pagi begini.


Belum sempat Karina mengambilnya, ponsel itu sudah mati. Karina memutuskan untuk mandi. Namun lagi-lagi ponsel itu berdering kembali dengan panggilan nomer yang sama. Karina meraihnya dan membawa ponsel itu ke ruang olahraga tempat suaminya kira-kira berada.


Namun lagi-lagi mati saat Karina belum sampai di ruang olahraga. Dia tak berani mengangkat panggilan itu karena menghormati dan menghargai suaminya kecuali suaminya menyuruhnya untuk mengangkat panggilan itu, Karina baru akan mengangkat ataupun mengutak-atik ponsel suaminya.


Dia percaya sepenuhnya pada suaminya. Karina berhenti sebentar di dekat pintu masuk ruang olahraga mansionnya. Lagi, ponsel itu berdering dengan nomer yang sama.


Karina segera melangkah lebih cepat masuk ke dalam ruang olahraga mencari keberadaan suaminya yang sedang berlari di atas treadmill.


"Mas..." Panggil Karina mengeraskan suaranya. Namun suaminya tampak tak bergeming.


Karina melirik ponsel itu mati lagi. Dia terlihat menghela nafas panjang. Dan ponsel itu berdering lagi.


"Mas..." Karina menyentuh bahu suaminya membuat Jo tersentak menoleh ke arah sentuhan yang sudah dihafali sebagai istrinya.


"Baby..."


"Ponselmu berdering sedari tadi." Ucap Karina mengulurkan ponsel suaminya yang sudah mati lagi.


"Siapa?" Tanya Jo melirik ponselnya yang tertera nomer baru.


Jo menyerahkan kembali ponselnya pada istrinya. Karina dengan heran menerimanya kembali.


"Dia berkali-kali menghubungimu. Siapa tahu itu penting." Saran Karina.


"Entahlah. Aku benci mengangkat panggilan nomer tidak dikenal." Jo menarik tubuh istrinya menempel padanya.


"Mas, aku belum mandi." Pekik Karina saat suaminya melakukan gerakan tiba-tiba.


"Kau masih tetap menawan baby." Jo mencium bibir istrinya yang menjadi candu untuknya itu.


Namun lagi-lagi dering ponsel Jo membuyarkan kesenangannya. Jo berdecak kesal.


"Halo." Jawab Jo kesal.


"..."


"Siapa ini?" Seru Jo masih berwajah kesal.

__ADS_1


Karina hanya memperhatikan raut wajah suaminya yang berubah-ubah. Antara kesal dan marah.


"..."


"Lebih baik kau hubungi asistenku." Jawab Jo sambil menutup ponselnya kasar.


Terdengar mengumpat tak suka. Karina yang hendak melangkah pergi ditahan oleh Jo yang merengkuhnya dari belakang.


"Mas, aku harus mandi. Masih bau." Rengek Karina karena suaminya bukannya berhenti malah semakin intens mengecupi tengkuknya.


"Mas..." Desah Karina.


Yang dibuyarkan lagi oleh dering ponselnya.


"Ah, **** ..." Umpat Jo melihat layar ponselnya dengan nomer yang sama yang menghubunginya tadi.


Namun dia segera meriject nya.


"Memang siapa mas?" Tanya Karina penasaran memberanikan diri untuk bertanya mengapa dia terlihat tak suka.


"Tidak penting." Jawab Jo singkat.


"Tapi .."


"Aku mandi dulu, gerah." Pamit Jo meninggalkan ruang olahraga meninggalkan istrinya yang termenung disana.


Saat dia menyiapkan pakaian suaminya, ponsel suaminya berdering lagi. Karina melirik nomer yang sama lagi yang menghubungi suaminya.


"Mas, ponselmu berdering lagi?" Teriak Karina dari pintu kamar mandi.


"Angkat saja baby!" Teriak Jo dari dalam kamar mandi.


"Halo."


"..."


"Maaf, ini siapa?" Tanya Karina.


"..."


"Maaf, saat ini..."


"..." Teriakkan dari seberang ponsel membuat Karina mengelus dadanya.


"Maaf. Tuan Jonathan sibuk." Karina menutup ponsel suaminya kasar.


Tadi dia mendengar suara wanita di seberang telepon itu. Dadanya tiba-tiba berdetak kencang. Pikirannya memikirkan hal yang buruk, namun langsung ditepisnya perasaan buruk itu. Dia percaya suaminya, pasti dia ada hubungannya dengan pekerjaan dengan suaminya.


Cklek

__ADS_1


Karina menoleh menatap ke arah pintu kamar mandi dibuka. Tampak suaminya selesai mandi dengan handuk masih membalut di pinggangnya.


"Ada apa baby?" Tanya Jo melihat istrinya tampak tegang dengan memegang ponselnya.


"Ah, bukan apa-apa. Aku akan mandi juga." Karina menghindar, setelah meletakkan ponsel suaminya di meja nakas samping tempat tidur, dia masuk ke dalam kamar mandi.


Jo mengernyit heran, dia menghampiri ponselnya dan melihat riwayat panggilan terakhir.


'Wanita ini lagi. Mau apa dia sebenarnya.' batin Jo kesal. Dia memakai pakaian yang disiapkan istrinya.


**


Cklek


Pintu kamar mandi terbuka, Karina keluar dari dalam kamar mandi melihat suaminya yang masih duduk di ranjang sambil mengutak-atik ponselnya.


Jo mendongak menatap istrinya yang tak tersenyum sama sekali malah menatapnya dengan tatapan kecewa. Karina langsung masuk ke dalam walk-in closet untuk mengganti pakaiannya.


"Baby..." Panggil Jo mengikuti langkah istrinya. Karina hanya diam, sambil terus memakai pakaiannya.


"Aku bisa jelaskan? Apa yang dia katakan padamu, jangan pernah mempercayainya." Ucap Jo berdiri di depan istrinya sambil menelan salivanya melihat kemolekan tubuh istrinya membuatnya lagi-lagi adik kecilnya berdiri tegak.


"Memang ada apa?" Tanya Karina acuh tanpa menatap suaminya, pura-pura sibuk memilih pakaiannya.


"Panggilan tadi, itu.."


"Aku percaya padamu mas." Jawab Karina tegas, menatap wajah suaminya intens.


Namun tak ditampiknya kalau ada sedikit kekecewaan pada dirinya. Sampai hari ini, suaminya tak menceritakan perihal wanita yang sempat memperkenalkan diri padanya bernama Annie, wanita bule yang mengaku rekan bisnis suaminya yang pernah memeluknya.


Karina tak pernah bertanya kenapa ingin suaminya jujur dengan sendirinya, namun sepertinya hal itu tak membuat suaminya sadar. Dan lagi sekarang, karena umpatan wanita itu di ponsel tadi membuat Karina bagai dihujam sembilu.


"Tapi wajahmu tak menampakkan kepercayaan." Karina terdiam sudah memakai pakaiannya lengkap.


Dia berbalik menatap wajah suaminya.


"Lalu, apa yang harus kulakukan agar kau percaya?" Tantang Karina menatap suaminya lekat. Jo diam menatap juga pada istrinya lekat.


"Cium aku!" Bisik Jo yakin.


"Apa?" Karina melongo, pintar sekali suaminya ini memodusinya.


Bukannya marah, dia malah tertawa. Dia memang tak bisa lama-lama marah pada suaminya. Meski masih tersimpan sedikit kekecewaan pada dirinya, dia berusaha tak memikirkannya. Dia akan berpikir positif. Jo ikut tertawa mendengar tawa istrinya.


"Aku hanya mencintaimu baby, trust me!" Bisik Jo disela-sela ciuman istrinya.


"Me too." Jawab Karina, keduanya pun berciuman mesra di dalam walk-in closet itu, hingga waktu sarapan menyadarkan Karina untuk menghentikan cumbuan suaminya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2