Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 89


__ADS_3

"Ibu... ibu..." Panggil Guntur masuk ke dalam rumahnya sambil menggandeng masuk Anin.


"Mas..." Lirih Anin menarik jemari tangannya yang digenggam erat oleh Guntur.


"Ayo!" Guntur menarik tangan Anin tak memperdulikan protesan kekasihnya yang sedang gugup.


"Ibu..." Lirih Guntur melihat ibunya di dapur.


"Guntur?" Ibu Kim menoleh menatap putranya yang baru saja tiba.


"Ibu, lihat siapa yang kubawa!" Ucap Guntur memberi tebakan.


"Siapa sayang?" Suara dari dalam kamar membuat semua orang yang ada di situ menoleh.


Guntur mengernyit melihat pria paruh baya calon ayah tirinya keluar dari kamar ibunya.


"Kau datang?" Tanya Arman melihat Guntur menatap dirinya dingin.


"Ibu?" Guntur beralih menatap ibunya meminta penjelasan.


"Ah, tadi dia membantu ibu mengangkat sayur dan tak sengaja ketumpahan air dan bajunya basah. Sekalian saja dia mandi." Jelas ibu Kim santai.


"Ibu tidak bohong kan?" Ibu Kim menghentikan gerakannya.


"Apa maksudmu?" Tanya ibu Kim mengernyit menatap Guntur penuh pertanyaan.


"Ibumu benar, kami tidak melakukan hal sejauh itu sebelum kami resmi menikah." Jelas Arman berdehem.


Ibu Kim yang baru mengerti arti pertanyaan putranya memerah karena malu.


"Kau Anin?" Tanya ibu Kim mengalihkan pembicaraan menatap Anin yang sejak tadi diam.


"Ah, perkenalkan ibu. Dia calon istriku." Wajah Anin memerah, apalagi Guntur semakin mengencangkan tautan jemarinya.


"Apa kabarmu nak?" Tanya ibu Kim memeluk tubuh Anin yang terlihat canggung.


"Baik, Tante."


"Kok Tante? Ibu dong."


"Ah, iya Bu." Guntur tersenyum sambil memeluk pinggang Anin posesif.


"Dia..." Guntur menunjuk Arman.


"Perkenalkan, aku ayah Guntur." Arman mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Anin.


"Dia masih calon." Sela Guntur yang dijawab decakan oleh Arman. Namun mereka pun akhirnya tertawa bersama.


***


"Aku benar kan?" Ucap Guntur saat mereka perjalanan pulang dari rumah Guntur.


"Apa?"


"Ibuku? Ibuku pasti akan menyukaimu." Jawab Guntur.


"Iya, ibu mas baik. Dia sangat ramah." Jawab Anin tersenyum.


Setelah Jo merestui hubungan keduanya, Zian pulang kampung mengunjungi anak, istri dan ibunya. Jo tak memberikan pengawalan ketat lagi pada putrinya. Dia menyerahkan keamanan putrinya pada Guntur.


Tentu saja diangguki dan disetujui Guntur. Dan bukan hanya hal itu yang membuat Guntur senang, rencana pernikahan Anin dan Zian otomatis gagal. Dan dialah yang akan menikahi gadis impiannya.


***


"Kau pulang nak?" Sapa ibu Zian, Maria.


"Iya ibu." Jawab Zian sambil menyalami tangan ibunya tak lupa juga mencium punggung tangan ibunya.


"Cuci kaki dan tanganmu dulu, sebelum menemui anak dan istrimu!" Saran Maria yang diangguki Zian.

__ADS_1


Zian masuk ke dalam kamar mandi yang ada di belakang, dia memilih membersihkan tubuhnya sebentar karena melakukan perjalanan jauh.


Tatapan matanya menerawang jauh ke depan, entah kenapa dia merasa kosong dan kecewa. Pembatalan pernikahan dengan sang nonanya, atau karena pulang kampung menemui anak dan istrinya yang bukan miliknya. Zian menghela nafas panjang.


"Minumlah nak!" Maria meletakkan secangkir teh di meja makan setelah melihat Zian keluar dari kamar mandi.


Rumah sederhana yang diberikan tuan besarnya kini ditempati ibu dan istri yang sekarang bertambah anaknya yang baru beberapa hari lahir.


"Terima kasih ibu." Zian duduk di meja makan tempat secangkir teh disiapkan.


Zian menyeruput teh itu hati-hati karena masih terasa panas.


"Bagaimana pekerjaanmu nak?" Tanya Maria menemani putranya.


"Baik-baik saja semua Bu."


"Tuan besar mengizinkanmu pulang?" Zian terdiam.


"Tuan dan nyonya memahami keadaan kita Bu. Mereka tentu saja mengizinkanku untuk menemui kalian." Jawab Zian memaksakan senyumnya.


"Mas, sudah pulang?" Istri Zian yang ingin membuatkan susu putrinya terkejut melihat suaminya sudah pulang.


"Iya." Jawab Zian datar.


Istri Zian, Rima menyalami tangan suaminya dan tak lupa mengecup punggung tangan suaminya.


"Apa Abel bangun?" Tanya Maria.


"Iya, Bu. Dia ingin minum susu." Jawab Rima menuju susu Abel, putri Zian ditempatkan.


"Aku akan melihatnya sebentar Bu." Pamit Zian menuju kamar mereka.


***


"Hai, cantik." Sapa Zian melihat bayi kecil itu menggeliat.


"Mas mau gendong?" Tawar Rima.


"Oh, begitu ya. Tapi lama-lama akan terbiasa mas." Tawar Rima lagi.


"Sudah laut larut malam, dia pasti haus. Aku istirahat." Elak Zian meninggalkan kamar mereka.


Rima mendesah kecewa. Setelah pernikahan, bukannya keduanya menjadi akrab dan seperti pasangan suami istri seperti orang lain, malah membuat keduanya menjadi canggung hingga saat ini. Bahkan setelah menikah, Zian tak pernah menyentuh Rima.


***


"Nona?" Tanya Zian tak percaya tuan putrinya menghubunginya.


"Zian, besok aku mau lamaran. Kau tak kembali kesini?" Tanya Anin dalam ponselnya.


"Cuti saya masih seminggu lagi nona." Jawab Zian tersenyum senang, entah kenapa dia sangat bahagia tuan putrinya menghubunginya.


"Kenapa kau lama sekali cuti? Kau tak akan datang ke acara lamaranku?" Pinta Anin memelas.


"Maaf nona." Sesal Zian tersenyum yang tidak dilihat Anin tentunya.


"Yah, tak apalah. Tapi kau harus datang di pernikahanku nanti!" Titah Anin.


"Akan saya usahakan nona." Jawab Zian merasakan dadanya berdegup kencang juga sesak secara bersamaan.


Senang karena dia adalah teman prioritas nonanya. Sesak karena mendengar acara pernikahan itu.


"Tidak. Kau harus berjanji." Tegas Anin.


"Baik nona." Jawab Zian mengalah.


"Terima kasih Zian." Jawab Anin menutup panggilannya.


Zian pun menatap ponselnya setelah memastikan sudah terputus sambungannya.

__ADS_1


"Selamat nona." Bisik Zian lirih dengan menahan sesak di dadanya.


"Mas .." Zian tersentak langsung berbalik menatap Rima yang sudah ada di belakangnya.


"I.. iya .." Jawab Zian gugup merasa bersalah.


"Boleh kita bicara berdua?" Pinta Rima.


"Tentu. Duduklah!" Zian ikut duduk di kursi luar di belakang rumah.


Keduanya masih terdiam, tak ada yang memulai pembicaraan.


"Dia majikan mas?" Tanya Rima.


Zian sontak menoleh menatap Rima tak paham.


"Yang menghubungi mas tadi?"


"Iya, dia putri tuan besar Jonathan." Jelas Zian tanpa sadar bibirnya terus tersenyum, padahal Zian bukan pria yang gampang tersenyum karena hal-hal kecil.


Sering bersikap tegas, datar dan dingin ketimbang senyum.


"Mas menyukainya?" Zian membeku mendengar ucapan istrinya.


"A.. apa maksudmu?" Tanya Zian merasa bersalah.


"Gak usah bohong mas, aku tahu dari wajah dan tingkah mas yang tadi berbicara dengannya di telpon tadi." Rima masih mempertahankan senyumnya, meski merasa miris.


"Aku hanya menghormatinya." Tegas Zian mencoba mengelak.


"Tapi sikap mas berubah saat bicara dengannya." Ucap Rima. Zian terdiam, dia memang merasa lain saat bersama putri majikannya tersebut.


Hatinya menghangat, dadanya akhir-akhir ini selalu berdegup kencang bahagia. Apalagi saat putri majikannya tersenyum hangat padanya. Tapi dia sadar diri siapa dirinya. Dan mencoba meredam perasaannya itu.


"Kita sudah berjanji akan berpisah setelah menemukan orang yang kita sayangi bukan? Dan apalagi putriku sudah lahir. Mas tak perlu bertanggung jawab atas dia." Ucap Rima lagi, yang lagi-lagi membuat hati Zian mencelos merasa bersalah.


"Aku sudah berjanji untuk menjaga kalian." Tegas Zian menatap Rima lekat.


"Mas, mas bisa menjagaku meski bukan sebagai seorang suami. Bisa sebagai adik atau saudara. Aku tak mau mengikat mas dalam pernikahan yang tidak mas kehendaki. Apalagi mas harus sampai menahan diri padaku dan pada seseorang yang mas sukai." Jelas Rima membuat Zian semakin merasa bersalah.


"Maaf." Zian menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Tidak mas, ini bukan salah mas. Mas memang bukan orang yang mudah jatuh cinta atau menyukai seseorang. Dan sekarang saat mas menyukai seseorang mas tak seharusnya menahan diri." Ucap Rima lagi.


"Dia... akan menikah dengan pria yang dicintainya." Rima terdiam mendengarnya.


"Mungkin melihatnya dia bahagia itu sudah cukup bagiku." Jawab Zian lagi tersenyum getir.


"Mas sudah mengutarakan isi hati mas?" Tanya Rima.


"Tidak. Aku tak pantas untuknya." Zian menggeleng.


"Coba mas ungkapkan dulu perasaan mas. Setelah itu mas pasti akan sedikit lega." Saran Rima.


"Aku tak mau membuat dia bimbang nantinya." Jawab Zian.


"Kalau tidak diungkapkan, selamanya akan mengganjal di hati kita." Ucap Rima. Zian menatap Rima.


"Aku sudah mengurusnya, mas besok tinggal tanda tangani yang dikirim pengacara mas." Zian kembali menatap Rima lekat.


"Maaf."


"Boleh aku minta satu hal mas?" Pinta Rima.


"Apa?"


"Biarkan Abel menganggap mu ayahnya mas, bolehkah?" Pinta Rima dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tentu. Tentu saja." Jawab Zian tersenyum lega. Keduanya pun tersenyum bersamaan sambil menatap bintang yang bersinar terang di langit.

__ADS_1


TBC


__ADS_2