Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 35


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Jo penuh rasa cemas setelah melihat dokter selesai memeriksa keadaan istrinya.


"Nyonya shock, dia juga stres. Baby blues pasca melahirkannya juga belum sepenuhnya kembali normal meski sudah masa nifasnya selesai. Nyonya sepertinya mengalami trauma dan tertekan dari sesuatu. Saya harap tuan untuk tidak membuatnya semakin tertekan. Banyaknya masalah yang menghampirinya akhir-akhir ini membuat nyonya tak mampu untuk berpikir jernih. Beri ruang dan suasana yang nyaman untuk nyonya. Saya akan meresepkan obat yang tidak akan mengganggunya selama menyusui, minumkan satu kali sehari saja." Jelas dokter itu panjang lebar.


Dia pun langsung pamit diantar asisten rumah tangga yang mengantarnya ke kamar tadi. Jo terdiam mendengar penjelasan dokter itu merasa bersalah. Seharusnya dia tahu istrinya tidak sekuat itu meski dari luar terlihat baik-baik saja.


"Baby, wake up please. I Miss you." Bisik Jo sambil meremas jemari tangan istrinya.


Namun Karina tetap tak bergeming, masih setia menutup mata seperti orang sedang tidur. Jo mengusap rambut istrinya lembut. Setelah dokter memeriksanya Jo mengganti pakaian istrinya yang basah air mata dan keringat dengan piyama yang bersih.


Setiap gerakan yang dilakukan Jo tak membuat istrinya membuka matanya karena sentuhan tersebut. Membuat Jo semakin cemas dan khawatir.


"Alam bawah sadar nyonya sepertinya tak menginginkan untuk bangun, apalagi sekarang banyak masalah yang sedang dihadapinya yang membuat shock dan stres serta baby blues pasca melahirkan yang dialaminya membuat nyonya semakin tertekan." Jelas dokter tadi masih terngiang di telinga Jo.


Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya mengusap frustasi.


"Sorry baby, please wake up. Open your eyes, please!" Pinta Jo memelas meremas lembut jemari tangan istrinya.


Suara Jo terdengar putus asa dan frustasi. Dia sungguh merasa bersalah tak mengetahui apa yang terjadi pada istrinya beberapa waktu sebelumnya. Dia yang juga tersulut emosi malah tidak sengaja semakin menekan emosi istrinya yang sedang labil.


"Maaf baby, maafkan aku." Bisik Jo lirih sambil terus meremas lembut jemari tangan istrinya dan mengecupi punggung tangan itu berulangkali.


***


Mr. Alex memilih untuk menggunakan satu kamar hotel yang disediakan pihak perusahaan Jo untuk menginap bersama istri mudanya. Memang tujuannya berkunjung ke tanah air selain sekaligus mengunjungi kerja sama proyeknya, Mr. Alex juga merindukan istri mudanya itu tanpa tahu bahwa istri mudanya sedang mengincar pria lain yang tak lain adalah Jo sendiri, rekan bisnis mereka.


"Aku merindukanmu sayang." Bisik Mr. Alex memeluk tubuh Annie dari belakang yang sedang duduk di meja rias.


Mr. Alex mengecupi tengkuk leher Annie dengan intens, memberikan jilat*an mesra dan tak lupa meninggalkan kissmark tanda kepemilikan. Annie memang sedang hor*ny, namun bukan dengan suami tuanya ini. Dia sungguh sangat terpesona pada penampilan Jo malam ini. Annie ingin merasakan sekali saja di bawah kungkungan tubuh Jo yang pasti sangat seksi itu.


Annie mencoba melayani suaminya itu dengan membayangkan wajah Jo sebagai fantasinya. Jika tidak begitu, Annie tak akan pernah merasakan nikmatnya bercinta. Namun saat pelepasan entah kenapa dia merasa jijik karena yang didapatkan bukan Jo sesuai bayangannya tapi pria tua yang sialnya sudah menjadi suami siri nya itu.


***

__ADS_1


"Daddy .." Seru ketiga anaknya muncul di kamar Jo, menatap Karina sedih.


Jo yang masih setia mengecupi punggung tangan istrinya mendongak menatap ke arah ketiga anaknya yang menatapnya sendu.


"Yes, boys, princess." Jawab Jo balas menyapa.


Jo menghampiri anak-anaknya yang tak berani masuk ke dalam kamar sambil menatap sang mommy sendu.


"Kalian belum tidur?" Tanya Jo menatap ketiga anaknya bergantian.


Ketiganya saling menatap bergantian, ragu untuk menjawab pertanyaan Jo. Jo masih setia menunggu jawaban dari anak-anaknya dengan senyum ramah agar anak-anaknya tak takut padanya meski wajahnya tidak sedang baik-baik saja.


"Daddy menangis?" Tanya Hana mengusap air mata Jo yang belum mengering.


Jo tersentak langsung mengusap sisa-sisa air mata yang mungkin masih bisa dilihat putrinya.


"No princess. Daddy hanya mengantuk, jadi saat menguap tadi, air mata Daddy ikut jatuh karena tak tahan ingin tidur. Sekarang kalian tidur, sudah malam anak-anak!" Titah Jo menggiring anak-anaknya keluar kamarnya.


"Apa mommy baik-baik saja?" Tanya Josh menatap wajah Jo lekat menuntut jawaban.


"Tadi kami melihat dokter keluar dari kamar Daddy, apa mommy baik-baik saja?" Ganti John yang bertanya sambil menatap Jo penuh intimidasi.


Jo terdiam, dia bingung akan menjawab apa. Bagaimana pun si kembar memiliki kecerdasan diatas anak normal lainnya. Sehingga dibohongi seperti apapun Jo yakin si kembar tidak akan semudah itu percaya. Beda dengan putrinya Hana, si polos yang sangat lugu.


"Mommy hanya sedikit tak enak badan, mungkin kecapekan. Dia baru minum obat dari dokter, jadi mommy pasti mengantuk. Kalian juga tidur, ini sudah malam. Biarkan mommy tidur." Hibur Jo dengan berbagai alasan agar anak-anaknya tak terlalu mencemaskan istrinya.


Ketiganya pun akhirnya menurut untuk keluar dari kamar sang mommy untuk tidur di kamar mereka masing-masing.


"Daddy." Panggil Hana dengan nada imutnya.


"Yes, princess Daddy." Jo menatap putrinya yang berada dalam gendongannya.


"Aku mau tidur ditemani Daddy, boleh?" Pinta Hana menatap wajah Jo dengan menampilkan tatapan puppy eyes nya.

__ADS_1


Jo sebenarnya ingin segera menemani istrinya kembali karena tak mau meninggalkannya sendirian di kamar. Tapi dia juga tak mungkin menolak keinginan putrinya hanya untuk ditemani sampai terlelap.


"Ok princess." Jawab Jo memaksakan senyumnya, dia segera memanggil salah satu asisten rumah tangganya untuk menemui istrinya sementara dirinya menidurkan putrinya terlebih dulu.


***


Karina membuka matanya perlahan, menatap ruang yang terasa familiar di matanya.


"Ini di kamar." Bisik lirih Karina, merasa berat di pinggangnya.


Lengan suaminya memeluknya erat yang tertidur pulas di sisinya dengan wajah dan tubuhnya miring menghadap padanya. Terlihat raut wajah lelah, sedih dan cemasnya meski matanya tertutup. Karina mencoba menyingkirkan lengan suaminya karena dia merasa ingin ke kamar mandi menunaikan hajatnya.


Karina melirik jam dinding kamarnya menunjukkan pukul satu pagi. Sudah lebih dari lima jam dia pingsan. Karena hasratnya ingin membuang hajatnya, mau tak mau Karina membuka matanya karena merasa sudah tak tahan lagi. Namun bukannya dilepaskan, Jo semakin mengeratkan pelukannya dengan masih menutup matanya.


"Mas, aku mau ke toilet." Bisik Karina membuat Jo tersentak, sontak membuka matanya mendengar suara lemah istrinya.


"Kau sudah bangun baby?" Tanya Jo menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya.


"Aku ingin ke toilet mas, sekarang!" Jawaban Karina sontak membuat Jo refleks membopong tubuh istrinya menuju toilet.


"Mas ... Aku masih bisa jalan." Pekik Karina kaget yang tiba-tiba menggendong tubuhnya.


"Tidak. Kau masih belum baik-baik saja." Tolak Jo tetap membopong tubuh istrinya sampai masuk ke dalam kamar mandi.


Jo mendudukkan tubuh istrinya ke dudukan closet dan juga membantunya melepas celana tidurnya. Namun...


"Mas, keluar! Aku bisa sendiri." Tolak Karina dengan wajah memerah.


"Aku sudah melihat semua milikmu baby, kenapa masih malu." Ucap Jo asal.


"Mas..." Teriakkan Karina yang menahan rasa malunya membuat Jo tertawa dan terpaksa keluar dari dalam kamar mandi.


Dia memilih untuk menungguinya di depan pintu kamar mandi. Jo tersenyum-senyum sendiri melihat istrinya sudah kembali seperti semula meski Jo belum yakin sepenuhnya. Jo berjanji tak akan membuat istrinya seperti ini lagi.

__ADS_1


TBC


__ADS_2