
Jonathan berlari kecil menuju pembangunan proyek yang sedang rubuh itu. Banyak orang yang berlalu lalang menolong tim evakuasi dan polisi juga ikut membantu para korban. Jo langsung dihadang petugas kepolisian untuk dimintai keterangan terkait masalah robohnya bangunan itu sebagai penanggung jawabnya.
Jo dengan suka rela mengikuti polisi itu ke kantor polisi dengan didampingi Rian yang sudah sibuk menghubungi pengacara keluarga bosnya.
"Maaf tuan, saya hanya ingin meminta keterangan terkait masalah pembangunan proyek yang sepertinya tidak dikerjakan oleh orang yang ahli." ucap petugas polisi itu sedikit ragu mengingat siapa pria muda yang dihadapinya ini adalah putra orang nomer satu tersukses di negara mereka.
"Tentu. Saya akan ikuti prosedurnya agar berjalan lancar." jawab Jo tenang.
Jo tak merasa takut sama sekali, dia malah dengan senang hati bisa membantu kepolisian untuk mengusut tuntas pembangunan proyeknya yang terhitung gagal dan segera mencari tahu siapa dalang di balik kejadian ini.
Jo yakin keuangan yang dibacanya saat pertama kali tiba di perusahaan cabang papanya terlihat janggal. Jo berencana menyelidiki sedikit demi sedikit sekaligus mencari bukti. Namun belum tuntas dirinya mengusut sudah terjadi kecelakaan yang mungkin kerugiannya tidaklah sedikit.
Yang membuat Jo kesal saat ini, pekerjaannya disini pasti akan lebih lama dari perkiraannya. Dan kepolisian pasti akan melarangnya untuk sementara waktu meninggalkan kota ini. Jo kesal namun dia harus bersikap profesional, akan tidak segera selesai jika dirinya emosi. Dan lagi ponsel istrinya sampai sore ini tak ada jawaban. Bertambah kesal pula dirinya.
"Bagaimana Rian?" tanya Jo menatap Rian yang sedang duduk dengan sambil masih mengutak-atik laptopnya mencari sesuatu yang dicurigainya.
"Sedang saya usahakan tuan, semoga cepat mendapatkan hasilnya." jawab Rian tanpa menoleh menatap Jo karena matanya tak bisa dialihkan dari laptopnya.
Kini keduanya masih di kantor polisi masih menunggu pengacara keluarga mereka.
"Ah, dan pengacara sedang dalam perjalanan, mungkin..." belum selesai Rian bicara sapaan seseorang membuyarkan percakapan mereka.
"Apa yang terjadi?" suara bas seorang pria tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.
"Kau lambat sekali." kesal Jo menatap pria yang baru datang itu jengah.
"Ya, aku sedang tak ada di kota ini. Kau yang tiba-tiba menghubungiku mendadak. Kau sungguh mengganggu diriku yang sedang bersama dengan istriku." kesal pria itu menatap Jo jengkel.
Kalau saja bukan sepupunya, dia tak mau datang. Dia lebih suka menghabiskan waktu bersama istrinya karena tinggal menghitung hari kelahiran bayinya.
"Kau dibayar keluargaku untuk setiap saat dan setiap waktu. Jangan banyak alasan." kesal Jo.
"Maaf, bisa kita selesaikan segera?" suara petugas polisi menyela karena melihat kedua pria dewasa itu tak segera diam.
__ADS_1
"Ah, maaf pak. Saya pengacara tuan Jonathan Alensio. Bramantyo Pamungkas." ucap pria yang baru datang tadi sambil menyalami petugas polisi tadi.
"Silahkan duduk!" titah petugas polisi itu setelah membalas menyalami pengacara tadi.
**
"Bagaimana bisa terjadi seperti itu? Pasti banyak terjadi korupsi besar-besaran pada proyek itu." ucap Bram.
Ya, Bramantyo Pamungkas adalah sepupu Jonathan. Dia adalah putra dari kakak ibunya. Pengacara sukses dengan kasus-kasusnya. Sekarang dia adalah pengacara keluarga Alensio atas permintaan Papa Jo, Alensio. Yang tak lain adalah pamannya sendiri. Dan Bram tak bisa menolak karena pamannya itu sudah seperti orang tua yang kedua baginya.
"Kau sudah tahu semuanya kenapa harus tanya lagi?" jawab Jo kesal, karena sekarang dirinya ingin segera istirahat.
Kasus di kantor polisi yang dikiranya akan segera selesai ternyata sungguh banyak menyita waktu. Kepala Jo serasa mau meledak. Hanya istrinya yang mampu membuatnya mereda. Dia ingin berendam di bathtub kamar mandinya sambil video call dengan istrinya yang sejak pagi tak bisa dihubungi.
"Ck..ck..ck... kau selalu seperti itu. Menggampangkan semua masalah. Sekali-kali seriuslah." kesal Bram juga.
Berdasarkan informasi dari kepolisian tadi. Mereka mencurigai para petinggi yang mengurus proyek itu.
Kini mobil yang mereka tumpangi menuju hotel tempat Jo menginap. Bram naik taxi dari bandara karena asisten Jo menghubunginya dengan segera datang karena terjadi hal yang darurat.
Dalam percakapan ponsel :
Jo :"Aku sudah menghubungimu sejak pagi. Kemana saja kau?" ucap Jo kesal saat sambungan video call nya tersambung.
Kini dirinya sambil benar-benar sambil berendam di bathtub kamar mandi hotel memperlihatkan tubuh telanjang yang terlihat dadanya bertelanjang. Jo meletakkan ponselnya di pinggir bathtub kamar mandi dan mengarahkan padanya.
Karina :"Maaf sayang, tadi aku menyetir. Tak mungkin mengangkatnya. Dan aku terlupa menghubungimu setelah bertemu mama dan papa." jawab Karina pura-pura memelas di hadapan suaminya yang sedang berendam.
Dan wajahnya kini sudah merona memerah malu melihat dada bidang suaminya yang terekspos dan menggoda iman. Untung saja dia sudah berada di dalam kamarnya minta izin untuk istirahat karena capek menyetir dalam perjalanan. Sedangkan Maya dan putrinya tentu saja dengan kedua eyangnya.
Jo :"Kau tahu. Aku takut sekali saat ponselmu tak menjawabnya." melas Jo menatap istrinya sendu.
Karina :"Maaf." lirihnya tersenyum getir.
__ADS_1
Karina sebenarnya tak mau mengangkat panggilan suaminya itu. Setelah dari rumah mantan mertuanya, dia akan langsung ke bandara meninggalkan negara ini untuk selamanya sesuai keinginan papa Jonathan. Dirinya tak paham kenapa menurut sekali atas permintaan tuan besar Alensio.
Mungkin dirinya merasa bersalah karena menjadi orang ketiga di antara Jo dan tunangannya. Karina juga sudah mengirimkan surat pengunduran dirinya pada perusahaan yang telah dinaunginya selama empat tahun terakhir ini. Karina sudah memperkirakan surat pengunduran dirinya itu sampai tepat dirinya sudah meninggalkan negara ini.
Jo :"Baby, I Miss you." lirihnya menatap istrinya sendu. Karina hanya tersenyum getir. "Aku menginginkanmu." ucap Jo lagi. Yang dibalas dengan gelak tawa Karina di seberang.
Karina :"So?" godanya.
Jo :"Puaskan!" Karina malah kembali tergelak mendengar rengekan suaminya di seberang telepon.
Pria itu malah semakin mesum, karena mengarahkan kameranya pada 'adik kecilnya'yang tengah berdiri tegak.
Karina :"Ya. Honey." teriaknya melihat kemesuman suaminya membuatnya semakin tertawa terbahak-bahak.
Namun segera menutup mulutnya terkejut karena takut terdengar dari luar kamarnya.
Jo :"Baby..." rengeknya lagi.
Karina :"Ok...ok..." jawabnya.
Akhirnya setelah menuntaskan hasrat suaminya melalui video call itu. Karina menutup ponselnya. Dia mematikan ponselnya dan mengeluarkan sim card nya dan mematahkan sim card itu. Karina sudah yakin dengan keputusannya untuk pergi jauh dari kehidupan suami sirinya itu.
Karina juga sudah menonaktifkan rekeningnya. Dia hanya membawa uangnya sendiri hasil dari kerja kerasnya selama empat tahun bekerja. Dia tak membawa sepeserpun uang dari Jo ataupun dari Keanu. Tapi entah kenapa cek yang diberi papa Jo ikut terselip di dalam tasnya.
Karina menatap lamat nilai nominal yang tertera pada cek itu. Banyak nolnya disana, mungkin sepuluh atau... tidak... disitu dua belas digit angkanya. Karina membelalakkan lebar matanya. Sungguh serendah itukah aku. Kalau saja saat itu Jo tak memaksaku untuk melakukan pernikahan siri. Mungkin aku tak perlu pergi dari negara ini. Batin Karina merasakan dadanya sesak.
Karina meremas cek itu dan membuangnya asal, namun segera dipungutnya lagi, memasukkan ke dalam tasnya. Dia tak mau mantan mertuanya menemukannya dan berpikir macam-macam.
Karina menatap tampilan layar ponselnya. Terdapat foto dirinya, putrinya dan Jo. Foto saat mereka menghabiskan waktu bertiga. Karina meminta foto itu untuk kenang-kenangan dirinya jika dirinya jauh dari suaminya itu.
"Aku akan selalu mencintaimu. Selamanya." air mata mengalir membasahi pipinya.
Karina menutup mulutnya agar tak terdengar dari luar kamarnya. Sungguh sesakit ini ketika kita sudah mulai mencintai namun harus terpaksa meninggalkannya. Ini lebih sakit saat suami pertamanya Ken meminta izin untuk menikah kembali dulu.
__ADS_1
TBC