
Sudah sebulan ini mereka dekat, bukan mereka, lebih tepatnya Bram yang mendekati Karina. Entah kenapa dia menemukan semangat hidupnya kembali saat di dekat Karina. Dadanya kembali berdetak setelah lama mati karena kepergian istri dan anaknya. Bukan ingin melupakan tapi dia ingin membuka hatinya kembali untuk orang lain.
Bram tak peduli siapa ayah bayi yang dikandung Karina, jika dia mencintainya dia harus siap menerima segalanya yang ada pada Karina termasuk anak-anaknya yang berada di kandungannya yang belum diketahui siapa ayahnya. Bukan belum diketahui tapi lebih tepatnya Karina yang tidak mau memberi tahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.
"Kau sudah siap?" tanya Bram melihat Karina sudah keluar dari dalam rumah dengan gaun khusus ibu hamil hadiah dari Bram kemarin.
Dia memaksa Karina untuk memakainya dan membuat janji makan malam dengannya. Dan tentu saja Bram tak menerima penolakan.
"Bram..." panggil Karina membuat Bram yang antusias membukakan pintu mobil untuk Karina sejenak menatap Karina seolah bertanya ada apa?
"Kau tak perlu melakukan semua ini padaku." tolak Karina merasa tak enak hati.
Selama sebulan ini Bram selalu memberikan perhatian lebih padanya, pada putrinya dan menemaninya ke dokter kandungan untuk memeriksakan kandungannya.
Meski dengan tegas Karina menolak Bram tetap memaksa untuk mengantarkannya bahkan kesalah pahaman dokter kandungan saat mengajak Bram yang dikira suaminya tak ditolaknya bahkan malah mengiyakan dokter kandungannya.
"Kenapa?" tanya Bram tak merasa bersalah.
"Aku sudah merepotkanmu terlalu jauh." jawab Karina masih berdiri di tempatnya menatap Bram lekat.
"Aku tak merasa direpotkan, aku senang melakukannya." Bram tersenyum manis masih setia berdiri di dekat pintu mobil penumpang yang sudah dibukanya untuk Karina.
"Aku yang tak enak hati." Bram menghela nafas panjang.
"Aku sudah lapar. Kita berangkat sekarang." ajak Bram tersenyum tanpa menjawab ucapan Karina.
Karina yang merasa tak enak hati akhirnya masuk ke dalam mobil Bram dan mereka berangkat ke restoran yang sudah di reservasi oleh Bram.
Flashback on
"Mbak, pak Bram tiap hari nganterin pulang mbak ya?" tanya Maya suatu hari saat tak sengaja melihat keduanya di depan rumah.
Dan Karina pun mau tak mau menceritakan semuanya tentang pria itu.
"Wah, bukannya itu artinya dia menyukaimu mbak?" komentar Maya membuat gerakan Karina terhenti.
__ADS_1
Dia seolah sedang mencerna ucapan Maya. Dan mengingat kembali perlakuan manis Bram selama ini. Benarkah? batin Karina tak menjawab ucapan Maya.
"Iya itu mbak, mana ada pria yang segitu perhatiannya jika tidak menyukai."
"Dia hanya kasihan melihatku hamil tua dan tidak didampingi suami." elak Karina meneruskan makannya.
"Tapi beberapa hari lalu pak Bram menemuiku di tempat kerja mbak." pernyataan Maya membuat Karina sontak melotot pada Maya.
"APA? Kau tak pernah mengatakan padaku?" ucap Karina.
"Maaf mbak, aku lupa." jawab Maya cengengesan. Karina hanya menggelengkan kepala.
" Lalu apa yang dikatakan padamu?" tanya Karina penasaran juga yang dilakukan Bram saat berusaha menemuinya.
"Hmm... awalnya dia hanya membeli bunga untuk seseorang. Lalu dia minta waktu pada bosku untuk bicara denganku. Dan dia bertanya tentang siapa ayah bayi yang sedang di kandung."
"Kau tak mengatakan padanya kan?" sela Karina cepat terkejut.
"Ya nggak lah mbak. Aku kan sudah janji pada mbak. Aku lebih menyayangi mbak kok." jawaban Maya melegakan Karina yang seketika langsung mengelus dadanya lega.
Flashback off
"Ayo!" lamunan Karina buyar saat Bram sudah membukakan pintu mobil untuknya.
Karina pun turun dengan menerima uluran tangan Bram. Karina menatap restoran mewah di depannya. Sungguh perbedaan yang sangat signifikan antara dirinya dan Bram. Karina menghela nafas gugup. Baru kali ini dia diajak makan malam mewah di restoran mewah pula oleh seorang pria setelah tiba di negara ini.
Nyali Karina langsung menciut, pantas saja gaun yang diberikan Bram tampak mewah dan mahal karena dia juga akan mengajaknya untuk makan malam di tempat mewah. batin Karina tersenyum getir.
****
Makan malam berakhir dengan lancar tanpa kurang suatu apapun. Bahkan Bram mengirisnya steik daging yang dipesan Bram untuk Karina. Dan Karina tidak sempat menolak karena dirinya pun kesulitan mengirisnya karena perut besarnya yang semakin sulit membuatnya bergerak bebas.
Bahkan Bram sudah membuatkan cuti melahirkan lebih awal di kantornya tanpa bertanya pendapat Karina. Awalnya dia marah karena perlakuan Bram yang seenaknya. Namun karena kondisi kehamilannya yang berbeda dengan wanita hamil pada umumnya karena hamil anak kembar. Karina pun menurut.
Kini Bram memarkirkan mobilnya di dekat Confederation bradge salah satu jembatan yang terkenal di Kanada. Hawa dingin salju di musim dingin membuat Karina merapatkan mantelnya setelah keluar dari mobil. Bram memakaikan mantelnya juga untuk menghangatkan Karina.
__ADS_1
"Dingin?" tanya Bram sambil mengusap kedua lengan Karina dari belakang setelah merapatkan mantelnya pada Karina.
"Hmm."
"Kau tahu, disini tempat yang terkenal untuk kencan para pemuda di negara ini."
"Iyakah?" Karina merasa tak tenang, perasaannya gugup.
Dia tak mau besar kepala dengan ucapan yang dikatakan Maya kemarin. Apalagi hatinya masih terpaut dengan ayah si bayi yang tak diketahui bagaimana kabarnya. Bukan tak diketahui tapi Karina tak mau mencari tahu Karina dirinya belum siap untuk tahu jika keadaan suami sirinya sudah berbahagia dengan wanita lain.
Tanpa sadar air matanya menetes saat mengingat keadaannya yang kurang beruntung. Karina langsung mengusapnya cepat agar Bram tak menyadarinya.
"Aku mau pulang." ucap Karina bergegas menuju mobil.
"Tunggu! Karina." seru Bram mengikuti langkah Karina yang tergesa-gesa.
Bruk...
Bram tepat waktu meraih tubuh Karina yang tak sengaja tersandung karena melangkah terlalu cepat. Keduanya sama-sama terengah. Karina yang kaget karena hampir terjatuh dan Bram yang lega karena tepat waktu mendekap tubuh Karina.
Karina pasti akan menyesal seumur hidupnya jika sampai terjadi sesuatu pada bayinya. Bram melepas dekapannya dan memegang erat kedua bahu Karina menatapnya lekat. Tatapannya sangat kesal melihat kecerobohan Karina.
"Kau tahu apa yang kau lakukan ha?" teriak Bram ngos-ngosan. Karina hanya diam menunduk dan berjengit kaget atas teriakan Bram.
"Kau mau membahayakan bayimu?" seru Bram sudah tak berteriak kencang seperti tadi.
"Bisakah lebih hati-hati lagi?" semakin lunak saja suara Bram melihat bahu Karina bergetar menahan tangis.
"Maaf." lirih Karina menahan tangis entah karena diteriaki Bram atau ingatan tentang masa lalunya.
"Kau sungguh membuatku cemas." Bram menarik Karina ke dalam pelukannya.
Bukannya diam Karina malah semakin mengencangkan tangisannya. Seolah ingin meluapkan segala emosinya. Bram terdiam merasa bersalah karena teriakannya.
TBC
__ADS_1