
Jo membaringkan tubuh Anin di ranjang apartemennya. Meski jarang ditempati Jo selalu menyuruh seseorang untuk membersihkan dan memelihara apartemennya agar tetap bersih saat tiba-tiba dia ingin menempatinya. Tentu saja Jo bukan orang yang akan lari dari masalah jika dia bertengkar dengan istrinya. Dia selalu melakukan itu mungkin untuk hal seperti ini.
Atau mungkin suatu saat akan mengajak istrinya menghabiskan waktu berdua saja tanpa gangguan anak-anak, seperti bulan madu mungkin.
Jo segera menghubungi dokter pribadi keluarganya dan segera menyuruhnya datang ke apartemennya. Tak lupa dokter psikolog Anin juga diminta untuk datang memeriksa kondisi psikisnya pasca kejadian itu.
***
Tak sampai setengah jam, dokter pribadinya sampai.
"Tuan Jonathan." Sapa dokter itu sopan meski umurnya lebih tua dari Jonathan tapi karena sudah seperti majikan baginya.
"Masuklah!" Jo masuk diikuti dokter itu setelah membukakan pintu.
"Anin?" Sentak dokter itu terkejut melihat siapa yang diperiksanya.
Jo mengangguk, tatapan matanya sedih dan cemas. Dia bergerak gelisah, dia tak mungkin merahasiakan hal ini terus-menerus dari istrinya. Bagaimana pun juga istrinya berhak tahu apa yang terjadi dengan putrinya selama ini. Dari pada nanti dia tahu dari orang lain, lebih baik dia memberi tahunya langsung.
"Cepat dok!" Titah Jo tak sabar.
"Ah, baik tuan." Dokter itu mendekat dan memeriksa tubuh Anin dengan teliti.
Jo keluar ke pintu depan saat bel pintu apartemennya berbunyi. Dokter psikolog Anin datang dengan sedikit tergesa karena katanya mendesak.
"Masuk dok!" Titah Jo masuk ke dalam diikuti oleh dokter itu.
"Dokter Rahman?" Dokter psikolog itu menyapa dokter yang telah selesai memeriksa kondisi Anin.
"Dokter Alya, apa kabar anda?" Sapa balik dokter pribadi Jo yang bernama Rahman itu.
"Bisa nanti reuninya? Putriku lebih penting." Sela Jo dingin.
"Maaf tuan." Jawab keduanya.
"Bagaimana dok?" Tanya Jo pada Dr. Rahman.
"Secara fisik tak ada yang luka, mungkin hanya sedikit memar dari benturan benda tumpul meski tak terlalu banyak. Tekanan darahnya naik mungkin karena gugup dan ketakutan sehingga mempengaruhi emosi jiwanya. Biarkan dokter Alya untuk memeriksa perihal kondisi psikisnya." Jelas Dr. Rahman yang membuat Jo semakin emosi dengan kedua tangannya mengepal marah karena Anin mengalami luka fisik meski tidak seberapa.
Tapi hal itu mampu membuat Jo murka.
"Non Anin, anda bisa mendengar saya?" Tanya Dr. Alya sambil memegang tangan Anin lembut.
"Dokter... dokter...hiks...hiks..." Dr. Alya menghela nafas berat mendengar jawaban pasiennya malah membuatnya menangis lagi.
"Ada apa? Kenapa dia menangis lagi? Bukannya sudah tenang?" Jo mendekati karena terkejut Anin kembali menangis dan mendekap tubuh Dr. Alya.
"Sebaiknya kita tinggalkan mereka tuan." Saran Dr. Rahman mengajak Jo meninggalkan keduanya.
"Bagaimana mungkin aku meninggalkan putriku yang sedang histeris?" Seru Jo marah.
__ADS_1
"Anin adalah seorang perempuan tuan, seorang perempuan akan lebih nyaman berbagi cerita dengan perempuan juga meski kita ayahnya." Saran Dr. Rahman membuat Jo melunak dan meninggalkan kamarnya untuk memberi ruang pada putrinya untuk mengatakan keluhannya.
"Apa nyonya Karina tidak mengetahui hal ini?" Tanya Dr. Rahman hati-hati. Jo menggeleng frustasi.
"Kenapa anda tak segera mengatakannya. Beliau pasti akan sedih dan merasa bersalah jika tak mengetahui secepatnya. Apalagi sampai mendengar dari orang lain. Anda jangan membuat wanita menunggu." Saran Dr. Rahman.
"Tapi Anin tak mau membuat cemas ibunya dok? Dia..." Sangkal Jo.
"Itu hanya karena dia terlalu menyayangi ibunya. Sebenarnya dia ingin ditemani ibunya. Wanita yang melahirkannya. Dimana pun kita berada, ibulah tempat pelarian yang lebih baik bagi seorang anak, baik itu anak perempuan maupun anak laki-laki. Makanya pepatah mengatakan surga di telapak kaki ibu." Saran Dr. Rahman membuat Jo semakin gelisah.
"Jemputlah nyonya, saya akan menemani sebentar Dr. Alya!" Saran Dr. Rahman lagi.
Jo pun berdiri dari duduknya, merapikan jas kantornya dan tak lupa juga penampilannya agar tidak terlalu kacau hingga membuat istrinya semakin cemas.
"Aku akan pulang, tolong anda tunggu sebentar disini." Dr. Rahman mengangguk.
Jo segera keluar apartemen untuk pulang ke rumah menjemput istrinya.
***
"Jadi, pria yang difoto tadi adalah ayah murid saya?" Tanya Guntur saat Bram sudah selesai menjelaskan dengan panjang lebar tentang masalah yang terjadi.
"Betul." Jawab Bram singkat.
"Tapi dalam daftar identitas murid tertera nama Keanu..."
"Jadi, gadis SMA tadi putri tiri tuan Jonathan?" Ganti Wijaya yang bertanya dengan ketakutan akan kerja sama mereka.
Bagaimana pun kejadian terjadi di perusahaan tempat anak itu PKL. Dan Wijaya terlambat untuk mengetahui kebenaran tersebut.
"Anda sudah mendengarnya tadi." Jawab Bram sambil menatap berkas-berkas yang hendak dilayangkan untuk menggugat para pelaku.
"Tunggu.. tunggu.. tak akan terjadi hal buruk yang terjadi bukan?" Wijaya bertanya lagi dengan nada cemas.
"Urusan perusahaan, anda bisa menghubungi tuan Rian langsung, setelah mendengar kronologi detailnya, saya hanya meminta anda untuk memberikan pada pengawas PKL untuk sebuah peringatan tegas agar dia bisa lebih bijak dalam menangani masalah seperti ini lagi kedepannya." Jelas Bram sambil menatap wanita pengawas yang sejak tadi hanya diam mendengarkan dia kecemasan yang sangat besar.
Sial, matilah aku! Batin wanita itu meremas tangannya di bawah meja dengan gugup. Apalagi tatapan tajam dari Wijaya mengarah padanya.
"Bagaimana kalau dengan jalur damai dan kekeluargaan, saya akan memberikan hukuman yang setimpal dan pantas bagi siswa lain yang melakukan kesalahan." Usul Guntur namun langsung ditolak mentah-mentah oleh Bram.
"Kurasa anda belum jelas kenapa harus ada saya disini. Masalah ini juga sudah membawa nama baik tuan Jonathan terseret. Dan hal itu menjadi pasal pencemaran nama baik baginya. Apalagi dia adalah seorang pengusaha terkenal dengan bisnisnya yang sudah merambah ke dalam dan ke luar negeri. Jika sampai hal ini terdengar sampai ke telinga semua rekan bisnisnya, kemungkinan apa yang akan terjadi dengan bisnis tuan Jonathan?" Jelas Bram panjang lebar menatap Guntur tajam.
Guntur terdiam, apa yang dikatakan Bram benar adanya. Dia juga seorang putra pengusaha, dia tahu betul apa yang namanya nama baik dan kredibilitas kita sebagai seorang pebisnis. Kalau saja namanya tercemar dengan kasus yang bisa mempengaruhi bisnisnya itu akan sangat buruk sekali.
"Anda benar. Tapi mereka masih anak-anak." Bujuk Guntur lagi.
"Anak-anak anda bilang. Dia memang anak sekolah tuan. Tapi kelakuan mereka tak mencerminkan seorang anak-anak. Lebih ke seorang penjahat yang menyerang orang yang lemah. Apa anda tahu akibat yang diterima karena siksaan psikis? Trauma itu tak akan bisa disembuhkan meski seumur hidupnya. Hal itu akan selalu tertanam di otak korban hingga akhir usianya." Jelas Bram tajam.
Guntur terdiam mendengar ucapan Bram menyentil hatinya. Entah kenapa dadanya sesak dan merasa sakit membayangkan gadis tenang seperti Anin mulai gemetar ketakutan dan tak nyaman dengan keadaan sekeliling saat berdekatan dengan orang asing.
__ADS_1
Itu pasti akan menyebabkannya jadi gadis ansos dan introvert meski selama ini dia menatap Anin seperti itu. Jadi, apa Anin pernah mengalami trauma karena kejadian buruk sebelumnya? Batin Guntur menatap Bram yang juga menatapnya tajam.
"Kuharap hal itu bisa membuat pelaku jera." Jawab Guntur akhirnya setelah menghela nafas panjang.
"Harus. Mereka akan dibuat sejera mungkin, bahkan mereka akan merasakan empati juga." Jawab Bram tegas.
"Dan anda." Bram menatap wanita pengawas tadi.
"I..iya tuan..." Jawabnya takut-takut.
"Panggil seluruh siswa yang ada di tempat kejadian pagi tadi, semuanya." Tegas Bram penuh titah dengan menekan setiap kalimatnya.
"Ba..baik tuan." Wanita pengawas itu berdiri melaksanakan perintah Bram.
"Silahkan kalian meninggalkan ruang ini, saya perlu menginterogasi satu persatu yang terlibat dalam kejadian." Usir Bram pada Wijaya dan sekretarisnya termasuk Guntur juga.
Wijaya dan sekretarisnya segera meninggalkan ruangan itu. Wijaya menghela nafasnya panjang.
"Panggil Teddy ke ruanganku dulu!" Titah Wijaya saat mereka sudah masuk ke dalam lift untuk menuju lantai sepuluh dimana ruangannya berada.
"Baik tuan." Jawab sekretaris itu menunduk. Dia tak ikut masuk ke dalam lift karena harus memanggil orang yang dimaksud tuanya.
"Saya akan ikut mendengarkan interogasi itu. Bagaimana pun juga saya guru penanggung jawab mereka." Ucap Guntur enggan untuk berdiri dari tempatnya meninggalkan ruangan itu.
Bram mendongak menatap wajah Guntur. Dia juga sudah tahu aksi heroik Guntur saat menolong Anin di situasi yang terdesak.
"Terserah anda!" Jawab Bram membuat Guntur sedikit tenang karena dia diizinkan untuk tetap tinggal.
***
"Rian."
"Ya, tuan." Jawab Rian di seberang ponselnya.
"Batalkan semua jadwalku hari ini. Kau urus pekerjaan yang bisa kau urus. Dan tunda semua jadwal yang mengharuskan kehadiranku!" Titah Jo saat perjalanan menuju mansionnya.
"Baik tuan." Jawab Rian yang panggilannya sudah dimatikan tuannya sebelum dia menjawabnya.
"Oh bos, bisakah setidaknya kau dengarkan aku sampai akhir?" Guman Rian di seberang telpon yang saat ini dia menemui orang bayarannya yang terlihat ketakutan dan merasa bersalah.
TBC
Terima kasih yang sudah mendukung 🙏🙏
Maafkan typo..🙏
Jangan lupa beri like, rate dan vote nya
Makasih 🙏
__ADS_1