Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 47


__ADS_3

Keluarga kecil Jo saat ini sedang sarapan bersama. Memang setiap hari mereka selalu sarapan bersama juga. Anak-anak kali ini akan diantar sopir keluarganya karena Jo harus menghadiri meeting yang sempat tertunda kemarin.


Karina mengantar suaminya sampai ke pintu depan setelah anak-anak mereka berangkat lima belas menit yang lalu.


"Mas...?" Tanya Karina yang saat itu sedang membantu suaminya mengenakan jas kantornya setelah sarapan pagi.


Sambil membawakan tas kerjanya mereka berjalan beriringan menuju pintu depan.


"Hmm.." Jawab Jo singkat.


Memeluk pinggang istrinya sambil mengecupi pipi istrinya berulang kali dengan gemas. Karina hanya tertawa geli sambil menghindari kecupan suaminya.


"Parfum siapa itu mas?" Pertanyaan istrinya membuat Jo menghentikan kecupannya.


Sejenak memejamkan mata setelah itu menghela nafas panjang.


"Aku berangkat baby." Kecupan sekali lagi mendarat di bibir istrinya sekilas.


"Siapa mas?" Desak Karina menatap suaminya penuh harap.


"Huff... baby? Bukannya itu sudah selesai semalam?" Jawab Jo sambil menatap istrinya lekat.


"Dan aku belum mendengar jawaban apapun." Jawab Karina.


"Baby, percayalah! Aku tak akan tergoda oleh siapapun. Kau adalah hidupku, kau adalah nyawaku, kau adalah segalanya bagiku. Apa kau pikir aku akan sanggup berpaling darimu?" Jelas Jo menatap Karina penuh cinta.


"Terima kasih mas, aku hanya bertanya saja." Jawab Karina enteng sambil menyedekapka. kedua tangannya di dada.


"Huff... Baby, suatu saat aku akan mengatakan padamu yang sebenarnya. Tapi kumohon, untuk saat ini saja. Aku belum bisa mengatakannya padamu baby. Trust me. Okay?" Jelas Jo penuh harap menatap istrinya.


"Kau membuatku ragu akan kepercayaanku mas?" Jawab Karina memelas.


Jo melongo, dia bingung apa yang harus dikatakannya lagi.


"Baby, you know that i only love you?" Karina mengangguk mengiyakan masih betah diam.


"Aku tak mungkin macam-macam pada orang lain. Lagipula..." Jo menjeda meneruskan kalimatnya, menggaruk keningnya dengan telunjuknya saja menatap ke sekeliling, bingung mengatakannya.


"Lagipula?" Tanya Karina yang semakin penasaran.


Jo mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya yang terlihat semakin memerah dan berbisik di telinga istrinya.


"Lagipula adik kecilku tak bangun kalau tak ada dirimu di sisiku. Ehm..." Jo berdehem setelah membisikkan kata-kata yang membuat wajah istrinya semakin memerah merona malu.


"Baiklah baby, aku berangkat. Assalamualaikum." Tak lupa Jo mendaratkan ciuman bibirnya ke bibir istrinya sekilas.


"Mas..." Jo tertawa sambil masuk ke dalam mobilnya.


"Wa'alaikum salam..." Lirih Karina membalas lambaian tangan suaminya yang mobilnya mulai menjauh meninggalkan mansionnya.


***


Ken berdiri di depan pintu flat sewa tempat tinggal Anin. Ingin mengetuk pintu yang ada di depannya itu. Namun saat tangannya sudah menggantung di depan pintu tiba-tiba pintu terbuka dan munculah Anin dari dalam pintu.

__ADS_1


"Papa." Sapa Anin yang terkejut melihat Ken berdiri di depan pintu flat sewanya.


"Anin." Balas Ken menyapa sambil tersenyum lembut.


Keduanya terdiam merasa canggung hingga Ken merentangkan kedua tangannya bermaksud menerima pelukan putrinya itu. Anin tersenyum melihatnya dan dia pun menghambur memeluk papanya bahagia.


"Apa kabarmu nak?" Tanya Ken lembut.


"Anin baik. Papa sendiri? Baik-baik saja kan?" Jawab Anin balik bertanya sambil melepas pelukannya.


"Papa baik." Ken mengusak rambut putrinya gemas.


"Yah, berantakan lagi dong pa." Canda Anin sambil tersenyum dan menata kembali rambutnya. Meski dirinya merasa mendapat kebahagiaan tersendiri.


"Putri papa sudah besar ya?" Komentar Ken membuat Anin tertawa senang.


"Oh ya, papa tahu dari mana tempat tinggal Anin?" Tanya Anin menatap Ken masih dengan tatapan polosnya.


"Jadi ini flat sewamu?" Jawaban Ken malah kembali bertanya pada putrinya dan masuk ke dalam tempat sewa itu.


"Iya pa." Jawab Anin mengikuti langkah papanya untuk masuk ke dalam tempatnya.


"Apa uangmu cukup untuk menyewa tempat ini?" Tanya Ken masih sambil menatap seluruh ruangan.


Karena terlihat perabotannya masih baru, bersih dan nyaman meski tidak sebesar apartemen.


"Ah, uang jajanku masih banyak sisa untuk menyewanya pa." Jawab Anin tersenyum ragu mendengar pertanyaan papanya.


"Apa uang jajan dari papa cukup? Apakah masih ada sisa? Mau papa tambahkan lagi?" Tawar Ken sambil mengambil ponselnya untuk melakukan transaksi.


Ken terdiam, membatalkan niatnya untuk mengirim uang pada putrinya tersebut. Dia mencerna semua ucapan putrinya. Sungguh berbeda dengan putrinya yang lain. Padahal kebutuhan apapun akan secepatnya terpenuhi jika putrinya itu mengatakannya. Namun putrinya malah menolak mentah-mentah tawaran tambahan uang jajan darinya.


Sungguh, kau benar-benar mirip dengan mommy mu waktu muda dulu. Selalu teliti dan hati-hati permasalahan keuangan. Batin Ken tersenyum sambil mengusak lagi rambut putrinya.


"Papa, kok berantakin lagi sih." Canda Anin cemberut, bibirnya bahkan manyun ke depan. Ken tertawa melihat sifat kekanak-kanakan dari putrinya itu yang sudah lama tak ditunjukkannya.


"Kau sudah rapi mau berangkat praktek kerja?" Tanya Ken setelah menatap dengan teliti pakaian yang dikenakan putrinya sudah rapi dengan menenteng ransel sekolah.


"Iya pa."


"Oh ya, pakai mobilmu kembali. Papa akan membeli lagi setelah dari sini nanti.


"Jangan pa! Toh, kantornya dekat, jalan kaki juga sampai. Lebih sehat lagi. Dipakai papa sajalah. Memang papa mau ke kantor mau naik apa?" Komentar Anin tersenyum lembut.


"Papa bisa naik taksi nanti." Tolak Ken memaksa memberikan kunci mobil.


"Pa, please. Sekarang Anin belum butuh pa. Nanti saja kalau sudah selesai PKL ya?" Pinta Anin membuat Ken lagi-lagi merasa bangga sekaligus bersalah.


"Apa kau tak nyaman di rumah papa?" Tanya Ken dengan mode serius. Anin terdiam.


"Gak kok pa, Anin nyaman. Anin pindah karena PKL saja. Nanti setelah PKL selesai Anin balik lagi kok." Ucap Anin beralasan.


"Apa karena mobilmu dipakai papa?" Tanya Ken merasa semakin bersalah.

__ADS_1


"Mungkin itu salah satunya. Namun Anin hanya ingin belajar mandiri pa." Jawab Anin membuat Ken tersentuh.


"Maaf nak, maafkan papa." Bisik Ken menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Gak pa, bukan salah papa juga. Bagaimana pun juga nantinya, Anin tetap harus berani mandiri. Anin akan mencoba hidup hanya tergantung pada diri Anin sendiri. Nanti kalau Anin kesulitan, Anin akan bilang ke papa." Jelas Anin tersenyum, ingin menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja sendiri.


Ken memeluk putrinya sekali lagi. Maaf nak, maafkan papa. Batin Ken miris.


***


Saat jam makan siang, ponsel Anin berdering. Daddy Jo menghubunginya.


"Daddy..." Sapa Anin setelah mengucapkan salam.


"Hei princess." Jawab Jo tersenyum di seberang sana.


"Ada apa dad?" Tanya Anin antusias, kini dia membatalkan niatnya untuk menuju kantin karena saat itu jam makan siang kantor.


Anin duduk di taman dekat kantin sambil menerima panggilan Daddy Jo.


"Daddy sudah mengirimkan jadwal pertemuanmu dengan doktermu. Kau datanglah kesana saat jemputan Daddy nanti datang." Jelas Jo membuat Anin terdiam.


Sebenarnya dia enggan bertemu dengan dokter psikolog itu. Dia merasa canggung saat menceritakan tentang dirinya.


"Biarkan aku akan berangkat sendiri dad?" Tawar Anin memelas.


"No princess. Biar diantarkan sopir papa, kalau kau tak mau menerima mobil dari Daddy. Mengerti?" Ucap Jo. Anin menghela nafas.


"Okay dad." Jawab Anin pasrah.


"Setelah pulang kerja nanti biar dijemput." Ucap Jo lagi.


"Okay dad." Jawab Anin tak bersemangat, malah membuat Jo tertawa.


"Tepati janjimu princess Daddy!" Goda Jo.


"Yes Daddy."


"Anak pintar. Oh ya, kau sudah makan?" Tanya Jo.


"Ini mau ke kantin dad, waktunya makan siang." Jawab Anin berdiri dari bangku untuk menuju kantin.


"Selamat makan princess. Makan yang banyak, okay!"


"Okay dad."


"I love you princess."


"Love you dad."


Anin menutup ponselnya. Seseorang yang sudah menguping pembicaraannya mereka tadi tersenyum seringai.


"Huh, dasar murahan. Ternyata kau seorang sugar baby. Pantas saja kau menolak Teddy." Bisik seseorang itu setelah Anin meninggalkan bangku taman itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2