
Rian memasuki ruang kerja tuannya pagi itu setelah kunjungan proyeknya kemarin. Tak henti-hentinya dia menggerutu karena kemarin harus pulang malam lagi karena perjalanan pulang kemarin terjadi longsor di beberapa titik. Dia pun harus rela tidur di sofa luar kamar karena istrinya marah dia pulang larut.
Padahal siang hari, Rian sudah berjanji akan segera pulang. Namun siapa tahu jika terjadi kemacetan panjang dalam perjalanannya.
"Selamat pagi tuan." Sapa Rian langsung menyelonong masuk kedalam ruang kerja Jo tanpa mengetuk pintu seperti biasa.
"Aku sudah mengatakan padamu untuk memberi tanda saat hendak masuk kan?" Bukannya menjawab sapaan Rian, Jo terlihat marah karena tidak sengaja dikejutkan dengan kedatangan Rian.
"Maaf tuan, saya lupa." Jawab Rian enteng. Jo menatap tajam pada Rian.
Bukannya takut, Rian malah terlihat biasa saja. Karena sudah terlalu seringnya dia diperlakukan seperti itu.
"Kau benar-benar menyebalkan." Umpat Jo menyandarkan punggungnya mengalah untuk mendengarkan hasil kerjanya kemarin.
"Apa yang ingin kau katakan?" Jo pun sudah merendahkan suaranya.
Menghela nafasnya untuk menahan emosinya pada Rian. Karena Jo tak akan pernah marah dengan sungguh-sungguh pada asistennya itu. Rian terlalu banyak berjasa padanya dan juga perusahaan. Jo tak mempermasalahkan tingkah Rian, karena Jo tahu, seberat apa pekerjaannya. Mungkin jika terlihat cuek dan acuh, dia sedang ada masalah di rumah atau ada sesuatu yang tidak pas dengan keinginannya.
Entah itu dalam urusan pekerjaan atau dalam hal urusan pribadi. Makanya Jo membiarkannya karena tahu Rian memiliki batasan diri bagaimana dia berperilaku. Baik saat pertemuan berdua saja atau di hadapan orang lain.
"Mengenai proyek yang saya kunjungi kemarin berjalan lancar tanpa hambatan. Dan sesuai prosedur tidak ada masalah berarti." Jelas Rian singkat. Jo bukannya puas malah mengerutkan keningnya heran.
"Lalu apa yang membuat bagai kebakaran jenggot?" Tanya Jo menatap Rian lekat.
"Ah, itu.... masalah pribadi." Jawab Rian tak mau menjelaskan panjang lebar.
"Ah, apa lagi-lagi istrimu tidak mengizinkanmu masuk ke kamar?" Tebak Jo tepat sasaran.
Rian menghela nafas panjang, dia sudah mengira tuannya akan tahu tentang keadaan dirinya dan istrinya.
"Hahaha ....hahaha..." Tawa Jo menggelegar memenuhi ruang kerja kedap suaranya.
Rian hanya bisa manyun cemberut melihat tuannya menertawakan dirinya. Rian tahu istrinya sering bertemu dengan istri tuannya itu untuk berbagi cerita tentang masalah sehari-hari atau hanya sekedar ghibah hal-hal yang tidak penting. Bahkan istrinya juga menceritakan bagaimana dirinya menghukum suaminya jika tidak menepati ucapannya.
Yaitu tidur di luar kamar. Dan itu artinya dia tidak akan bisa mendekap tubuh istrinya saat tidur. Itu sungguh sangat menyiksa Rian. Bagaimana pun dia sangat mencintai istrinya.
Dia akan bisa tidur nyenyak jika tidurnya mendekap istrinya. Apalagi pekerjaannya sungguh sangat menguras tenaga dan emosinya dari pagi. Dan Rian yakin, tuannya itu dapat informasi tentang dirinya dari nyonya bos yang bercerita.
__ADS_1
"Seharusnya kau menepati janjimu yang kau ucapkan. Wanita memang selalu mendetail seperti itu." Nasehat Jo setelah tawanya berhenti.
"Dalam perjalanan pulang terjadi longsor di dekat proyek, apa saya bisa menebaknya jika akan terjadi kemacetan panjang?" Jawab Rian masih menampakkan raut wajah kesalnya.
"Hahaha.... Lalu kenapa kau berjanji jika tidak memprediksinya. Biasanya kau tidak kurang teliti seperti itu?" Tanya Jo lagi mulai melanjutkan pekerjaannya.
"Ah, itu semua memangnya karena siapa? Sudah lima hari yang lalu janji itu tidak sengaja teringkar karena tuan selalu menyuruh saya melakukan pekerjaan mendadak saat saya pamit pulang." Keluh Rian sedikit kesal. Jo terdiam, kemudian mendongak menatap Rian lekat.
"Ah, begitu ya?" Jo tampak berpikir sambil mengetuk dagunya. "Maaf kalau begitu. Hahah..." Tawa Jo lagi-lagi menggelegar menertawakan keapesan Rian.
"Ah, oh ya tuan. Kemarin saya melihat non Anin di depan gedung kantor." Ucap Rian teringat sesuatu. Jo langsung mendongak menatap Rian terkejut.
"Lalu? Kenapa tak menyuruhnya masuk, tidak... kenapa kau tidak membawanya masuk?" Tanya Jo intens.
"Non Anin bilang dia hanya lewat karena sedang mencari tempat PKL untuk tugas sekolahnya. Dan tak sengaja melewati kantor ini." Jelas Rian lagi.
"Walaupun begitu bawa dia masuk, mungkin dia ingin mampir sebenarnya tapi takut menggangguku." Jawab Jo antusias.
"Non Anin keburu pergi dan naik taksi saat saya menawarkan diri untuk mengantarkannya." Jawab Rian tak mau disalahkan.
Niat hati hanya ingin memberi kabar tentang pertemuannya dengan anak tuannya itu malah kena kekesalan tuannya.
"Masuk!" Sekretarisnya masuk ke dalam ruangannya.
"Tuan, anda sedang ditunggu di ruang meeting." Jo menepuk dahinya tersadar.
Karena antusiasme nya mendengar penjelasan Rian, dia lupa sudah lebih dari lima belas meeting seharusnya dimulai.
"Aku akan segera kesana." Jawab Jo yang diikuti dengan wajah bersalah Rian yang juga sedikit terlupa tentang meeting pagi itu.
Keduanya pun berjalan menuju ruang meeting dengan Rian mengikuti dari belakang.
***
Anin masih berjalan dari satu instansi ke instansi milik pemerintah untuk mencari tempat PKL nya. Namun kebanyakan dari yang didatangi sudah diisi oleh siswa dari kelas lain juga dari siswa sekolah lain yang sama-sama sedang mencari tempat PKL. Baru kali ini dia melakukan segala sesuatunya sendiri.
Melihat kesibukan papanya dan orang rumah lainnya. Mau tak mau membuat Anin harus bergerak sendiri mengurusi masalahnya sendiri. Saat dulu dia tinggal dengan Karina, Anin sudah terima jadi tentang keperluannya. Sang Daddy sudah menyelesaikan segalanya. Sekarang Anin ingin meminta bantuan Daddy Jo, namun dia merasa ragu dan bimbang saat hendak menghampirinya.
__ADS_1
Anin takut jika merepotkan daddy-nya, meski Anin yakin daddy-nya akan mengutamakan kepentingannya sesibuk apapun dia. Banyak orang yang bisa dimintai bantuan untuk mengurus pekerjaannya. Dan Daddy Jo tinggal memberi perintahnya.
Namun Anin meyakinkan dirinya sendiri untuk melakukan sendiri. Bagaimana pun dia harus belajar mandiri, dia tak mau terlalu tergantung agar saat dirinya kesulitan seperti ini bisa mengandalkan diri sendiri.
Namun beberapa hari ini, dia sudah berusaha keras pantang menyerah. Tapi seolah dia mendapatkan pelajaran dari usahanya selama ini, dia berkali-kali ditolak di instansi manapun.
"Ternyata tak semudah itu ya?" Guman Anin saat dirinya istirahat duduk di taman kota dekat instansi pemerintah yang terakhir kalinya didatangi.
Cuaca panas tampak menyengat kulitnya. Dia meneguk minumannya yang baru dibelinya sebelum duduk di bangku taman. Anin menatap sekeliling taman, banyak anak-anak dan orang tua bermain di taman itu. Jam menunjukkan pukul satu siang, waktunya dirinya makan siang. Namun karena belum merasa lapar, dia masih bertahan duduk di situ.
Tiba-tiba bayangan dulu saat bermain dengan adik-adik kembarnya di taman membuat Anin murung. Dia menghembuskan nafasnya perlahan merasa sesak di dadanya tiba-tiba. Dulu sangat bahagia mereka bermain bersama namun sekarang kenangan tinggal kenangan. Kalau dia bisa, dia ingin kembali tinggal bersama mommy Karina dan Daddy Jo, namun dia sudah memutuskan untuk tinggal bersama papanya dan ternyata berakhir seperti ini.
Jarang diperhatikan, jarang makan bersama keluarga, jarang berkumpul dan jarang melakukan aktivitas bersama keluarga. Dulu Daddy Jo pernah berpesan pada kami anak-anaknya, apapun kesibukan kita jangan sampai melewatkan waktu kebersamaan keluarga walau hanya sebentar. Komunikasi pun juga begitu. Namun agaknya tidak berlaku di rumah sang papa. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing.
Meski tidak diperlukan buruk oleh anggota keluarga yang lain. Namun Anin merasa kesepian meski ada bibi asisten rumah tangga. Dia dituntut untuk mandiri di rumah besar itu meski tak sebesar rumah Daddy Jo.
Bahkan fasilitas mobilnya terpaksa dikembalikan pada sang papa karena papanya ke kantor harus naik taksi, karena istri papanya mau mobil ditinggalkan di rumah satu untuk kebutuhannya jika ingin keluar rumah. Karena papanya entah sayang atau takut pada istrinya. Dia memilih mengalah, dan ke kantor dengan naik taksi.
Meski papanya merasa tak enak, dengan senyumannya, Anin meyakinkan papanya baik-baik saja. Namun kenyataannya tidak baik-baik saja, Anin sedikit kesulitan jika hendak kemana-mana. Dia masih tergolong polos dalam untuk transportasi umum.
Meski sekarang sudah terbiasa namun tetap saja kesulitan, jika dibandingkan dulu saat tinggal dengan mommy Karina, dia sering diantar kemanapun yang diinginkan dengan sopir keluarganya.
"Hai..." Sapa seseorang mengejutkan Anin dan menoleh ke arah suara.
Anin diam, tidak menjawab sapaan itu. Dia juga tak ingat mengenalnya. Apalagi perasaan tak nyaman berdekatan dengan lelaki asing meski teman sekolahnya membuat Anin segera meninggalkan bangku taman tanpa menghiraukan pemuda tadi.
"Hei, tunggu! Kau Anin kan? Anak XII A?" Seru pria itu mengejar Anin yang terus berjalan cepat tanpa menjawab panggilan pria itu.
"Aku Teddy teman sekelas, kita sama-sama di kelas yang sama." Serunya tak dihiraukan Anin.
Anin melihat ke belakang berniat untuk mencegat taksi karena mau menghindari pria itu. Anin memang tergolong anak introvert, bukan tak mau mengenal, tapi trauma pasca kejadian buruk beberapa waktu lalu yang terjadi di pulau B membuatnya sungguh tak nyaman jika berdekatan dengan pria asing kecuali keluarganya sendiri. Itupun waktu itu butuh adaptasi yang lumayan lama.
"Hei, kau dengar aku!" Pria itu yang sudah tak sabaran menarik lengan Anin hingga Anin berbalik menatapnya dengan tubuh gemetar langsung menghentakkan kasar tangan pria itu.
"Taksi!" Seru Anin melambai pada taksi yang lewat.
Anin langsung masuk ke dalam taksi tanpa menghiraukan pria itu. Pria itu hanya melongo melihat reaksi Anin yang seolah ketakutan dengannya.
__ADS_1
"Ah, sial... gagal deh mau pedekate." Guman pria itu meninggalkan tempat itu, benaknya tak henti-hentinya memikirkan reaksi berlebihan Anin tadi, pandangannya seolah jijik dan takut terhadap pegangannya.
TBC