
‘’Lalu?’’ tanya Naruto.
Kedua pasangan itu saling bertatapan. Minato memegang tangan Kushina sambil mengangguk.
‘’Baju yang kau temukan itu adalah pakaiannya,’’ jawab Kushina.
‘’Kalau begitu kenapa dia tidak tinggal bersama kita?’’ tanya Naruto.
‘’Aku memberinya misi untuk meninggalkan desa saat umurnya 12 tahun. Dan sampai sekarang, dia masih di luar sana,’’ jawab Minato.
Naruto terbelalak. ‘’12 tahun? Ayah menyuruhnya pergi dengan usia semuda itu?’’
‘’Ya, hampir sama dengan usiamu saat ini,’’ jawab Minato.
‘’Tapi kenapa Ayah sampai menyuruhnya meninggalkan desa di usia yang masih muda seperti itu?’’
‘’Itu semua demi kebaikan dirinya,’’ jawab Minato.
Naruto akhirnya mengerti setelah mendengar cerita tadi. ‘’Kalau aku hanya memakai bajunya, seharusnya orang-orang tidak perlu memanggilku nomor dua dattebayo.’’
Kushina menggeleng. ‘’Kau bukan saja memakai bajunya. Tapi, penggambaran diri kalian juga sama dattebane.’’
‘’Penggambaran diri?’’ tanya Hinata.
‘’Warna rambut dan tiga garis di wajahmu….’’
Hinata terbelalak saat menyadari ucapan Kushina.
‘’Kalian sama-sama memilikinya. Selain itu, namanya juga adalah … Naruto,’’ lanjut Kushina.
Deg!
Naruto dan Hinata bersamaan tersentak.
__ADS_1
‘’Na-Namanya juga adalah Naruto?’’ habis pikir Naruto.
Ketiga orang itu terbelalak saat melihat butiran air mata Hinata terjatuh.
‘’E-Eh? Hinata-chan, kenapa kau menangis?’’ tanya Kushina cemas.
Tangan Hinata mengepal. ‘’Naruto-kun juga ada di sini?’’
‘’Eh?’’ bingung ketiganya.
‘’Ano, Hinata nee-chan. Aku memang ada di sini,’’ bingung Naruto.
Hinata mengusap air matanya dan menatap Minato dengan tatapan serius. ‘’Yondaime-sama! Bisakah Anda memberiku misi untuk keluar desa untuk beberapa hari?’’
‘’E-Eh? Kenapa tiba-tiba?’’ tanya Minato.
‘’Onegai!’’ mohon Hinata dengan butiran air mata.
‘’Arigatou, hontoni arigatou,’’ isak Hinata.
Naruto yang melihatnya tidak mengerti, begitu juga dengan kedua pasangan tadi.
......................
Hinata membuka laci di samping tempat tidurnya. Ia meraih robekan baju berwarna orange.
Mata Code memicing. ‘’Shine(Matilah).’’
Burn!
Namun, seseorang datang menghalang kekuatan besar itu yang tidak lain adalah Naruto.
Naruto tersenyum karena sebelum ajalnya menjemput, ia masih bisa melindungi anaknya. Ia menoleh melihat semua teman-temannya yang tidak menerima hal itu, sampai akhirnya Sasuke datang paling terakhir.
__ADS_1
‘’Naruto!’’
Hinata berlari sekuat tenaga untuk mencapai suaminya. ‘’Naruto-kun!’’
......................
‘’Ayah, Ibu, bagaimana dengan baju ini?’’ tanya Naruto muncul membuat kedua orangtuanya menoleh.
‘’Na-Naruto-kun?’’
......................
‘’Dattebayo! Itulah yang dia katakan juga. Tapi, aku tidak bisa melihat wajahnya,’’ kata Naruto.
‘’Kalau aku hanya memakai bajunya, seharusnya orang-orang tidak perlu memanggilku nomor dua dattebayo.’’
‘’Warna rambut dan tiga garis di wajahmu … Kalian sama-sama memilikinya. Selain itu, namanya juga adalah … Naruto,’’ lanjut Kushina. (Hinata teringat)
Hinata memeluk kain robekan yang tidak lain adalah milik Naruto dari pertempuran terakhirnya melawan Code. ‘’Naruto-kun, apakah itu adalah dirimu?’’
......................
Keesokan harinya…
Naruto mengerutkan dahi saat hendak bergabung untuk sarapan. ‘’Are? Hinata nee-chan tidak ikut sarapan?’’
‘’Dia sarapan lebih dulu dattebane, dan sudah menuju ke kantor Hokage,’’jawab Kushina.
‘’Eh? Tapi Ayah masih ada di sini bersama kita dattebayo. Bahkan belum mandi,’’ kata Naruto.
Kushina menghela nafas disertai senyuman. ‘’Sudah, kau juga sebaiknya sarapan. Bukankah akan ada pertemuan dengan tim Minato?’’
‘’Aa benar juga! Aku tidak boleh sampai telat,’’ kata Naruto.
__ADS_1