God Of Shinobi

God Of Shinobi
Bab 71 Buku Jiraiya


__ADS_3

Sepuluh bulan telah berlalu setelah Yahiko, Konan dan Nagato berada dibawah pengawasan Hanzo. Sudah selama itu juga Naruto mengawasi gerak-gerik dari pemimpin Amegakure itu.


Kematian Yahiko adalah alasan terbentuknya Akatsuki yang baru. Aku tidak boleh lengah, kata Naruto dalam hati.


Nagato hanya tersenyum melihat Yahiko dan Konan yang bertarung seperti biasa. Ia menolehkan kepala dan melihat Naruto memandangi langit, membuatnya menghampiri anak berambut kuning itu.


‘’Wajahmu terlihat sangat cemas. Apakah kau memikirkan sesuatu?’’ tanya Nagato.


‘’Aa, aku hanya merindukan orang-orang di desaku,’’ jawab Naruto.


Mendengar jawaban Naruto membuat Nagato kembali mengingat kedua orangtuanya, sehingga ia juga merindukan mereka.


‘’Hari ini tanggal 10 oktober, kan?’’ tanya Naruto.


‘’Benar. Memangnya ada apa?’’ tanya Nagato.


......................


Kediaman Minato & Kushina



‘’Oh, apakah kau sedang membaca Kisah Seorang Ninja Pemberani buatanku? Tapi, ini adalah karya terbitan pertamaku. Kalimatnya kekanak-kanakan dan aku tidak melakukan pekerjaan dengan baik,’’ kata Jiraiya.


‘’Tidak. Aku tidak berpikir begitu. Kisah ini sangat bagus,’’ kata Minato.


Jiraiya tersenyum dengan wajah bodohnya. ‘’Oh? Sungguh?’’

__ADS_1


‘’Iya. Setiap seri babnya, mirip salah satu dari kisah petualanganmu Sensei. Ini hampir seperti autobiografi,’’ jawab Minato.


‘’Tapi, ini sama sekali tidak dijual. Untuk yang selanjutnya, aku pikir akan menambahkan beberapa unsur menggairahkan untuk sedikit membumbuinya,’’ kata Jiraiya tersenyum kaku.


Minato kembali membuka buku itu. ‘’Tokoh utama dari buku ini, aku pikir kebulatan tekadnya untuk tidak pernah menyerah adalah sangat keren. Sensei, dia sangat mirip denganmu.’’


Jiraiya tersenyum malu sambil menggaruk kepala belakangnya. ‘’Ka-Kau pikir begitu?’’


‘’Jadi, aku berpikir. Aku sungguh berharap anakku yang belum lahir bisa menjadi seorang shinobi persis seperti tokoh utama ini. Karena itulah aku ingin meminta izinmu Sensei untuk menamai anakku mengikuti dia,’’ kata Minato.


‘’H-Hei? Apa kau yakin? Itu hanyalah nama acak yang aku pikirkan selama makan ramen,’’ kata Jiraiya.


‘’Naruto … Itu sebuah nama yang indah,’’ kata Kushina yang muncul dari balik tembok.


Kushina memberi salam, membuat Jiraiya akhirnya mengerti.




Minato dan Kushina tersenyum. ‘’Kau adalah sensei-ku. Dan kau adalah shinobi hebat yang memiliki bakat sejati ninja. Tidak ada yang lain sepertimu.’’


‘’Baiklah kalau begitu. Aku juga sudah mau pergi,’’ kata Jiraiya.


‘’Sebentar lagi Kushina akan melahirkan. Kenapa Sensei tidak tinggal sedikit lebih lama untuk melihat anak kami?’’ tanya Minato.


Jiraiya tersenyum. ‘’Aku harus melakukan riset penting untuk karya selanjutnya. Selain itu, aku akan bertemu dengannya saat dia sudah tumbuh cukup besar.’’

__ADS_1


Minato hanya pasrah. Pasangan suami-istri itu mengantar Jiraiya hingga ke pintu. Setelah melihat kepergian Jiraiya, kedua orang itu saling memandang.


‘’Minato, apakah kau memikirkan hal yang sama denganku?’’ tanya Kushina.


‘’Kita sudah bertemu dengan Naruto lebih dulu. Aku begitu terkejut saat membaca karya Jiraiya sensei,’’ kata Minato.


Kushina menggigit bibir bawahnya. ‘’Naruto … Mungkinkah dia….’’


......................


Langit hampir gelap, membuat Kushina menuju ke tempat persalinan. Namun, ia bertemu dengan sahabatnya di tengah jalan.


‘’Bayimu sangat lucu. Siapa namanya?’’ tanya Kushina.


‘’Sasuke,’’ jawab Mikoto.


‘’Sasuke, ya?"



Oh, aku hampir lupa. Apakah itu benar, wanita yang melahirkan itu merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa, bahkan seperti ingin mati. Apakah aku harus berhati-hati? Dattebane,’’ bisik Kushina.


Mikoto hanya tersenyum kaku. ‘’Itu....’’


Wanita paruh baya yang mengawal Kushina menoleh. ‘’Kushina-sama, kita harus segera tiba. Yondaime-sama pasti sudah menunggu.’’


......................

__ADS_1


Setelah sampai di tempat persalinan rahasia, Minato memerintahkan agar semua shinobi berjaga setelah ia memasang penghalang.


Puluhan menit telah berlalu. Butiran air mata Kushina mengalir dari sudut matanya setelah mendengar suara tangisan bayi, sedangkan Minato terbelalak dengan mata berbinar.


__ADS_2