
Sandaime yang menggunakan jubahnya sambil dikawal para ANBU bawahannya, memanggil Raja Monyet Enma dan menyuruhnya bertransformasi ke Tongkat Sun Wukong untuk menahan langit dinding.
‘’Sandaime-sama!’’ panggil Minato.
‘’Minato?’’ tatap Sandaime.
‘’Pengguna jutsu yang melakukan penyegelan ini, jika tidak melawan dengan jutsu yang sepadan, semua orang akan hancur,’’ kata Minato.
‘’Sudah kuduga,’’ kata Sandaime.
‘’Aku harus memakai Shisekiyoujin. Jika Anda bisa membantuku Hiruzen-sama,’’ kata Minato.
Sandaime memejamkan mata. ‘’Baiklah.’’
......................
Di sisi lain, Hinata berhenti sambil memegang batang pohon. Ia berisitirahat karena semenjak pergi dari desa, ia tidak pernah berhenti berlari, meski hanya istirahat sesekali.
‘’Naruto-kun,’’ kata Hinata.
Dari arah berlawanan muncul ninja perempuan setelah memastikan keadaan di sekitar.
‘’Hinata, kau terlalu memaksakan diri. Sejak beberapa hari ini, kita hanya terus berlari sambil kau bertanya ke seluruh orang. Memangnya misi apa yang diberikan Yondaime-sama kepada kita?’’
‘’Gomennasai Kurenai Sensei,’’ kata Hinata.
Kurenai menghela nafas sambil mengerutkan dahi. ‘’Aku bingung kepadamu. Kita ini seangkatan, kenapa kau selalu memanggilku dengan sebutan seperti itu?’’
Hinata terbelalak. Sudah sekian kalinya ia keceplosan memanggil wanita di depannya dengan sebutan sensei karena kebiasaan dari masanya. ‘’Aku mi—‘’
__ADS_1
‘’Iya, iya, aku tahu. Kau pasti akan meminta maaf lagi dan tidak lama kemudian kembali memanggilku sensei. Aku akan sangat menghargainya, tapi aku tidak enak mendengarnya, jadi hentikan, ya?’’ senyum Kurenai.
‘’I-Iya,’’ jawab Hinata.
Kurenai kembali menghela nafas. ‘’Baiklah, sekarang hanya ada kita berdua di sini. Sesama wanita, bisakah kau memberitahuku ada apa sebenarnya?’’
Untuk sesaat Hinata terdiam karena merasa ragu. Tapi, Kurenai sudah menjadi gurunya sejak dulu, sehingga ia sangat mempercayai wanita itu. Apalagi, ia bertemu dengan gurunya yang dari masa lalu.
‘’Hinata?’’ tatap Kurenai karena wanita di depannya hanya diam.
Hinata menggigit bibir sambil mengepalkan tangan di depan dadanya.
‘’Baiklah, kalau kau tidak ingin cerita. Aku juga tidak memaksa,’’ kata Kurenai.
‘’Aku sedang mencari Naruto-kun,’’ jawab Hinata akhirnya bicara.
Hinata mengangguk, membuat Kurenai duduk di sampingnya.
‘’Yondaime Hokage memberinya misi sejak umur 12 tahun, tapi sampai sekarang dia belum kembali. Kami tidak tahu misi rahasia apa yang membuatnya sampai meninggalkan desa di umur seperti itu. Tapi, Yondaime Hokage juga tidak akan memberikan misi sembarangan, jadi kami percaya kalau suatu saat nanti, Naruto akan kembali,’’ kata Kurenai.
Seperti yang dikatakan Minato dan Kushina saat di meja makan, Hinata hanya menunduk dengan wajah sendu.
‘’Hinata, kau baik-baik saja?’’ tanya Kurenai.
Hinata mengangguk sambil tersenyum tipis, membuat Kurenai sedikit bingung.
‘’Tapi, dia datang lebih dulu ke desa ketimbang dirimu. Kenapa kalian yang tidak saling mengenal, sampai rela mencarinya seperti ini?’’ tanya Kurenai.
‘’Kami berdua tidak hanya saling mengenal,’’ jawab Hinata.
__ADS_1
‘’Hee~ sepertinya kalian berdua memiliki hubungan, ya? Apakah saudara? Sepupu? Kerabat jauh?’’ tanya Kurenai.
Hinata menggeleng, membuat Kurenai semakin bingung kalau mereka tidak memiliki hubungan apa-apa tapi bersih keras mencarinya.
‘’Kami berdua sudah menikah,’’ jawab Hinata.
‘’Apa?!’’ pekik Kurenai.
......................
Minato dan Sandaime tiba di atap kantor Hokage.
‘’Tsunade juga mempunyai kekuatan yang setara dengan Hokage,’’ kata Sandaime.
‘’Kushina mempunyai chakra Kyuubi, dan dia lebih berpengalaman dalam jutsu penyegelan dari siapa pun di sini, dan juga setara dengan Hokage,’’ kata Minato.
‘’Tapi Shisekiyoujin tidak sebanding dengan jutsu penyegelan ini, bahkan Bijuu pun akan kesulitan menahannya dattebane,’’ kata Kushina.
Minato yang menatap pilar-pilar tanah mulai hancur tidak punya pilihan. ‘’Kita tidak punya waktu lagi! Jika kita menyatukan kekuatan kita dengan semua orang yang mendorong dinding ini, setidaknya kita bisa mengulur waktu.’’
‘’Mengulur waktu, lalu apa selanjutnya? Kita tidak akan berhasil,’’ kata Tsunade.
‘’Kita akan memikirkan solusinya nanti. Kumohon, pergilah ke empat titik di desa,’’ kata Minato.
‘’Baiklah. Shizune, cepat rawat yang terluka!’’ perintah Tsunade.
‘’Baik!’’ kata Shizune bergegas pergi.
Tanpa membuang waktu, keempat orang itu telah tiba di masing-masing sudut desa lalu melakukan segel tangan. ‘’Shisekiyoujin!’’
__ADS_1