
Sandaime tiba di depan bangunan Jepang klasik yang sedikit tenggelam ke tanah. Ia pun berjalan masuk dan menyusuri lorong.
‘’Seperti yang dikatakan anak itu, ada begitu banyak pintu di tempat ini,’’ kata Sandaime.
Pria tua itu menyusuri semua pintu dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Sandaime seperti menyusuri sebuah labirin di dalam tanah, hingga langkahnya terhenti di depan sebuah pintu.
Untuk sesaat, Sandaime terdiam. Tangannya terulur memegang gagang pintu lalu membukanya.
Deg!
Sandaime terpaku melihat pemandangan di balik pintu itu sambil pandangannya tertuju ke satu orang. ‘’Orochimaru….’’
Orochimaru menoleh dengan raut wajah biasa saja. ‘’Kau menemukan tempat ini, ya?’’
Bugh!
‘’Orochimaru! Apa yang kau lakukan?!’’ seru Sandaime memukul tembok.
‘’Kenapa kau begitu marah?’’ tanya Orochimaru.
Sandaime menatap tumpukan di lantai dengan wajah ngeri. ‘’Anak-anak ini….’’
‘’Oh, karena tubuh mereka tidak bisa menerima hasil percobaanku, mereka semua mati,’’ kata Orochimaru.
‘’Jadi kau menculik anak-anak yang hilang ini dan melakukan percobaan kepada mereka? Apakah Obito juga salah satunya?’’ tanya Sandaime.
‘’Tsunade memberikannya kepadaku. Percobaan yang aku gabungkan dari sel Hashirama, kutanamkan ke dalam tubuh Obito untuk membantunya pulih, tapi kalian mencurinya dariku,’’ kata Orochimaru.
__ADS_1
‘’Lima anak yang kutemui barusan, apakah mereka juga hasil percobaanmu?’’ tanya Sandaime tertahan.
‘’Tidak, mereka berbeda. Aku hanya memberi segel kutukan kepada kelima anak itu agar tidak berani menghianatiku.’’
‘’Orochimaru!’’ seru Sandaime.
‘’Dan sepertinya Obito juga salah satunya. Kudengar, dia hilang kendali dan membuat kelima anak itu kewalahan dengan elemen kayu dari tubuhnya. Aku melakukan kesalahan karena tidak memberinya segel kutukan setelah melakukan semua ini,’’ kata Orochimaru.
‘’Orochimaru, kau harus ikut bersamaku ke desa dan menerima hukuman yang pantas,’’ kata Sandaime.
Deg!
Sandaime terdiam di tempatnya setelah beberapa tulang menembus kaki dan tangannya. Ia berbalik dan melihat Kimimaro sudah ada di belakangnya.
Orochimaru berjalan melewati Sandaime dengan santai. ‘’Aku tidak bisa kembali karena aku akan menghancurkan Konoha.’’
Sandaime meringis. ‘’Ka-Kau … Apa yang membuatmu seperti ini?’’
‘’Sudah aku bilang, aku akan menguasai semua jutsu, lalu menghancurkan Konoha,’’ jawab Orochimaru.
Bugh!
Tubuh Sandaime terjatuh sambil menatap kepergian dua orang tadi. ‘’Tunggu….’’
......................
‘’Hhah?!’’ pekik Obito bangkit.
Obito merasa lega karena orang pertama yang ia lihat setelah siuman adalah Minato dan Rin. Itu berarti dia berada di Konoha.
‘’Aku, aku tidak ditangkap, ya? Syukurlah,’’ kata Obito.
__ADS_1
Dahinya berkerut melihat raut wajah Minato, membuatnya bertanya.
Minato memberitahu Obito kalau semua pasukan ANBU sedang menjalani perawatan begitu juga dengan Kakashi. Tapi, yang lebih parah adalah Sandaime, karena tubuhnya dipenuhi luka akibat serangan tulang Kimimaro.
Obito pun meminta Minato untuk melihat kondisi semua orang terutama Sandaime. Setelah melihat semuanya, Obito merasa bersalah. Mereka semua terluka demi memastikan keselamatan dirinya. Minato menghiburnya agar tidak berpikir seperti itu.
‘’Lalu, bagaimana dengan Orochimaru?’’ tanya Obito.
Minato terdiam untuk sesaat. ‘’Mereka tidak berhasil membawanya.’’
‘’Jadi, Orochimaru dan kelima anak itu melarikan diri? Cih,’’ kata Obito.
Semenjak kejadian itu, Minato mulai melakukan perburuan kepada Orochimaru.
......................
12 tahun kemudian…
‘’Ibu! Di mana pakaianku?’’
‘’Aku lupa menjahitnya dattebane. Kau pakai baju yang lain saja,’’ balas seorang wanita.
Anak yang berteriak itu pun membongkar semua isi lemari dan tidak menemukan pakaian yang cocok untuk dirinya.
‘’Semuanya jelek dattebayo, aku ingin bajuku yang seperti biasa.’’
‘’Kau pakai saja yang lain! Meskipun aku menjahitnya itu tidak akan sempat!’’ teriak wanita tadi.
‘’Aku tidak mau tahu! Aku harus memakai baju i—‘’ ucapan anak itu terhenti saat melihat set pakaian warna orange di antara tumpukan baju tadi.
‘’Hm? Aku tidak pernah melihat baju ini.’’
__ADS_1
Deg!
‘’Aku akan memakai baju ini dattebayo!’’