
Tim yang pertama kali menyerang adalah Kakashi dan Rin. Mereka berdua harus merebut masing-masing lonceng yang dipegang oleh Naruto dan Obito.
Kakashi mulai menyerang begitu juga dengan Rin, sedangkan Naruto dan Obito juga bertahan untuk melindungi lonceng. Kedua tim sama seriusnya, dan tidak ada yang mau menyerah.
Namun, tidak melihat peluang untuk menang, Kakashi dan Rin memisahkan kedua anak itu. Sesama Jounin, Kakashi melawan Naruto, sedangkan sesama Genin, Rin melawan Obito.
‘’Ini pertarungan kita yang kedua setelah di akademi. Kali ini, aku tidak akan tertipu dengan Henge Jutsu-mu itu Naruto,’’ kata Kakashi.
‘’Obito, jangan meremehkan aku meskipun diriku ini adalah perempuan. Ayo bertarung,’’ kata Rin.
Naruto dan Obito tersenyum sambil menampilkan deretan gigi mereka. ‘’Yosh! Ayo akhiri ini segera!’’
Keempat anak itu bertarung dengan serius tanpa merasa ragu.
Kakashi menggunakan elemen listriknya dan hendak melukai Naruto. Namun, ia dikalah cepat dengan anak berambut kuning itu.
Cepatnya, kata Kakashi menatap Naruto sudah berada di atasnya.
‘’Lambat!’’ seru Naruto.
Kakashi kehilangan keseimbangan, dan Naruto menggunakan itu sebagai kesempatan. Pola chakra yang berputar langsung muncul di telapak tangan Naruto.
Naruto yang berada di atas hendak menyerang punggung Kakashi dengan rasengan miliknya. Namun, dengan cepat Kakashi membalikkan badannya dan menggunakan kunai untuk melindungi perutnya.
__ADS_1
‘’Rasengan!” seru Naruto.
Di sisi lain, Obito dan Rin masih bertarung. Rin menyerang Obito, sayangnya itu hanya bunshin. Obito yang asli sudah berdiri tidak jauh dari belakangnya sambil melemparkan kunai yang ditempelkan bom.
Melihat Rin tidak bisa bergerak, membuat Obito langsung menghampirinya.
‘’Aa shimatta(Gawat)!’’ pekik Obito.
Boom!
‘’O-Obito,’’ tatap Rin.
Obito menghela nafas panjang. Beruntung ia dengan cepat menyelamatkan Rin. Naruto yang melihatnya hanya memasang wajah bodoh.
Dring! Dring! Dring!
Keempat anak itu menoleh melihat waktu telah habis.
‘’Sepertinya di sesi pertama ini, aku dan Obito yang menang. Sekarang gantian, kalian yang bertahan, dan kami berdua yang akan merebut loncengnya,’’ kata Naruto.
Kakashi menatap anak itu dengan wajah serius.
Dia benar-benar menyerangku tanpa rasa ragu. Sedikit saja aku lengah, sepertinya punggungku akan terluka karena rasengan-nya. Kalau begitu, Naruto harus diwaspadai, kata Kakashi dalam hati.
__ADS_1
‘’Haa~ gomen ne Rin. Aku tidak bermaksud melukaimu. Apakah kau baik-baik saja? Tidak ada yang terluka, kan?’’ cemas Obito.
Rin tersenyum dengan wajah kaku. ‘’Aku baik-baik saja. Itu semua karena Obito menyelematkanku.’’
‘’Yare yare. Kalau begitu, sekarang yang menyerang adalah aku dan Obito, lalu kalian berdua yang bertahan. Humph! Tentu saja, aku tidak akan ragu menyerang kalian berdua dan akan merebut lonceng itu dattebayo,’’ kata Naruto.
Kedua tim itu pun saling berhadapan dan kembali mulai latihan.
Dring! Dring! Dring!
Keempat anak itu menoleh setelah waktu dari sesi keenam telah habis. Kakashi dan Rin jatuh terduduk ke tanah, sedangkan Obito sudah terbaring menatap langit sore.
‘’Aku memperoleh 6 poin dari keenam sesi, sedangkan masing-masing dari kalian hanya memperoleh 1 poin, itu pun karena berpasangan dengan diriku. Itu berarti, kalian tidak bisa melakukan apa pun tanpa diriku,’’ kata Naruto.
‘’Ternyata kau sombong juga,’’ kata Kakashi yang tidak menerima ucapan anak itu.
‘’Aku tidak sombong, tapi mengatakan yang sebenarnya, atau kau masih ingin mengujinya sekali lagi?’’ tanya Naruto.
Kakashi membuang wajah, membuat Naruto menghela nafas.
‘’Memiliki kemampuan yang hebat itu bagus, tapi kerjasama tim adalah yang terpenting. Apa gunanya memiliki kemampuan yang hebat tapi salah satu rekan kalian terbunuh?’’
Deg!
__ADS_1