
‘’Sup ini dingin!’’ kata Putri Shion membanting mangkuk ke lantai.
Sakura yang melihatnya hanya memasang wajah kasihan. ‘’Aku sangat suka itu.’’
‘’Aku tidak bisa makan ini!’’ ucapnya menghamburkan bekal onigiri.
Rock Lee menyeka bibir bawahnya. ‘’Onigiri buatan Hinata Nigou.’’
‘’Apa-apaan raamen dalam kemasan plastik ini!’’ lanjutnya melempar 5 cup raamen.
‘’Aa! Raamen kesayanganku!’’ seru Naruto #2.
‘’Bekal kita jika saat berada diluar, semuanya dihancurkan,’’ kata Neji.
Sasuke yang melihatnya langsung menatap Putri Shion. ‘’Sikap kasarmu ini, pantas saja tidak ada yang mau berteman denganmu.’’
Deg!
Putri Shion tersentak lalu menatap anak laki-laki tadi. Ia merasa tidak nyaman dengan tatapan Sasuke.
‘’Mohon maaf atas sikap Shion-sama. Aku akan bertanggung jawab untuk mengganti semua makanan ini,’’ kata Taruho.
‘’Inikah putri dari seorang pendeta tinggi? Jika dia menjadi pendeta tinggi selanjutnya, kurasa tidak ada yang bisa diharapkan dari dirinya,’’ kata Sasuke.
__ADS_1
Tangan Putri Shion mengepal. Ia menghentikan Taruho yang hendak menegur Sasuke.
‘’Lakukan saja semaumu. Kami datang kemari bukan karena ingin diperintah oleh gadis bodoh seperti dirimu,’’ kata Sasuke berjalan pergi.
Suasana di dalam kamar langsung hening dan canggung. Naruto #2 yang kesal, juga berjalan keluar disusul Sakura dan Rock Lee. Kini tersisa Neji.
‘’Kami tidak bermaksud menyinggungmu. Tapi kau pantas menerimanya,’’ kata Neji.
Putri Shion yang menatap kepergian semua orang hanya mengepalkan tangan.
‘’Shion-sama, aku mo—‘’ ucapan Taruho terhenti saat melihat gadis itu sudah menangis.
......................
‘’Dokter itu mau ke mana? Apakah klinik ada di dalam hutan?’’ tanya Sakura.
‘’Sakura-chan? Kenapa kau berdiam diri?’’ tanya Rock Lee.
‘’Aa, aku datang,’’ kata Sakura yang masih belum mengalihkan pandangannya dari hutan.
Kusuna yang memantau dari atas hanya memicingkan mata.
......................
__ADS_1
Halaman Utama
Naruto #2 menatap ke sekeliling arah. ‘’Are? Di mana orang itu? Apakah dia masih berada di pertemuan?’’
‘’Naruto Ichigou-san pasti sangat terkejut mendengar ramalan kematiannya. Jadi semua orang mungkin sedang mencari solusi untuk menghindarinya. Menurutmu begitu, kan? Neji-san?’’ kata Rock Lee.
‘’Hm, Tuan Yomi sudah mengatakan jika pendeta tinggi meramalkan kematianmu, maka itu akan terjadi. Yang membuatku bingung adalah, kenapa Naruto yang satu ini tidak memiliki ramalan,’’ kata Neji.
Naruto #2 memasang wajah bodohnya. ‘’Kau seperti sangat ingin melihatku mati dattebayo.’’
‘’Kau harus mendapatkan tembakan kematian. Itu mungkin bisa menyembuhkan kebodohanmu,’’ kata Sasuke.
‘’Ha?! Kalian begitu tega berkata seperti itu padaku. Nee~ Sakura-chan? Katakan sesu—‘’ ucapan Naruto #2 terhenti saat melihat Sakura yang selalu menoleh ke belakang.
‘’Sakura-chan, kau sedang melihat apa?’’ panggil Naruto #2.
Sakura tersadar dan kembali menatap ketiga rekan timnya. ‘’Um, aku tidak sengaja melihat Tuan Yomi berjalan ke dalam hutan. Kalau dia memang menuju ke klinik, kenapa harus dibangun di luar?’’
‘’Jika semua orang masih berada di aula, kenapa Tuan Yomi keluar?’’ tanya Rock Lee.
Tanpa membuang waktu, Naruto #2 langsung bergegas menuju ke arah hutan yang dimaksud Sakura tadi. ‘’Kita tidak akan tahu kalau tidak mencari jawabannya dattebayo.’’
Neji menghela nafas. ‘’Dia tidak berubah sama sekali. Padahal kita belum diberi perintah untuk bergerak.’’
__ADS_1
Namun, tidak ingin membiarkan Naruto #2 menciptakan masalah baru lagi, membuat mereka menyusul anak berambut kuning itu.