
‘’Tapi kenapa?’’ tanya Obito.
‘’Aku tidak tahu. Di sekitar sini hanya ada reruntuhan rumah, semak belukar dan pohon raksasa. Mustahil menemukan sosok penyerang itu, apalagi kalau ahli menya—‘’
Deg!
Ucapan Naruto terhenti saat menyadari sesuatu, membuat ketiga anak itu menatapnya.
Menyamar? Ah, benar juga! Kenapa aku tidak menyadarinya? Kalau begitu aku tinggal mencarinya, kata Naruto dalam hati.
‘’Naruto? Apa yang kau lakukan?’’ tanya Obito melihat Naruto mencari sesuatu.
‘’Eh? Kenapa kau menatap pohonnya secara satu persatu?’’ tanya Rin.
Ketiga anak itu hanya saling memandang satu sama lain karena Naruto hanya diam. Naruto begitu fokus menatap pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi itu, hingga akhirnya membulatkan mata.
‘’Di sana ya!’’ seru Naruto lalu melemparkan kunai yang ditempelkan kertas bom.
Para shinobi yang mengawasi keempat anak itu tersentak.
Boom! Push!
Berbeda dengan Naruto yang tersenyum, ketiga anak itu membulatkan mata melihat hewan besar muncul setelah ledakan tadi.
‘’U-Ular Raksasa!’’ pekik Rin.
__ADS_1
‘’Selain itu, ada tiga!’’ pekik Obito.
Benar. Salah satu hewan yang paling ahli menyamar, tidak lain adalah seekor ular. Tapi ini di luar dugaan. Ukurannya begitu besar seperti Aoda milik Sasuke, kata Naruto dalam hati.
Tanpa membuang waktu, Kakashi langsung menyerang. Naruto, Rin dan Obito melotot karena melihat itu.
‘’Oee Kakashi!’’ seru Obito menyusul begitu juga Rin.
‘’Chotto! Apa yang kalian lakukan? Kita harus menyusun rencana?!’’ teriak Naruto.
‘’Tidak ada waktu untuk menyusun rencana saat ular sebesar ini sudah ada di depan mata baka!’’ teriak Obito.
‘’Nani?! Aku tidak bodoh dattebayo!’’ kesal Naruto.
Daripada berdebat, Naruto terpaksa ikut menyerang. Kakashi menggunakan jurus listriknya, Obito menggunakan jurus api, bahkan keduanya mengaktifkan sharingan, tapi tidak bisa menyentuh salah satu dari ketiga ular itu.
Begitu juga dengan Rin dan Naruto yang tidak bisa membuat serangan. Keempat anak itu pun menyebar ke masing-masing sudut di dahan pohon untuk mengambil nafas.
‘’Kakashi langsung menyerang jadi kami berdua tidak bisa membiarkannya begitu saja!’’ teriak Obito.
‘’Ini bukan waktunya berdebat! Kita harus segera melakukan sesuatu!’’ teriak Rin.
Sedangkan Kakashi sedang mengontrol nafasnya dan berpikir.
Kalau menambahkan Sage Mode dalam jutsu itu, maka kecepatan menyerangnya bisa lebih cepat daripada biasanya, dan bisa melawan ketiga ular ini sekaligus. Jika saja aku bisa menggunakan Sage Mode, aku bisa memanggilnya untuk melawan ular ini. Tapi, aku tidak bisa menggunakan jutsu itu di depan mereka. Bagaimana ini? Argh, sangat merepotkan dattebayo, kata Naruto dalam hati.
‘’Pikirkan sesuatu Naruto,’’ kata Naruto bicara sendiri kepada dirinya.
__ADS_1
Kenapa kau tidak menyuruh anak maniak masker itu untuk menggunakan jurusnya?
Naruto mengerutkan dahi. ‘’Maksudmu Kakashi Sensei?’’
Meskipun sering menggunakan jurus elemen listrik, bukankah dia juga bisa menggunakan eleman tanah?
‘’Elemen tanah … Tsuiga no Jutsu apalah itu, aku sudah lupa namanya. Heh, Kurama … Kau sedang memberiku solusi atau ingin memberikan ular raksasa itu sarapan pagi dengan ketujuh ekor anjing dari Kuchiyose Kakashi Sensei?’’ tanya Naruto dengan wajah bodohnya.
Bukan tubuhmu saja yang ikut menyusut, sepertinya otakmu juga ikut menyusut sampai-sampai kau tidak memahami ucapanku.
Wajah Naruto langsung kusut. ‘’Baiklah, baiklah, aku mengerti. Kau menyuruhku agar mereka mengulur waktu untuk bisa menggunakan Sage Mode, karena butuh waktu yang lama untuk menggunakan jurus itu. Jadi berhenti menyebutku bodoh.’’
Kalau sudah tahu, kenapa masih diam?
‘’Tapi Kurama, aku rasa yang bodoh di sini adalah dirimu. Kau tahu sendiri kalau kita berdua dari masa depan. Jadi untuk menggunakan Sage Mode, tidak perlu waktu yang lama. Kita juga sudah pernah menggunakannya saat melawan ratusan shinobi Iwagakure, meskipun aku lupa kalau sebenarnya bisa secara langsung, itu karena aku terbawa suasana meditasinya. Kau memiliki keterikatan dengan energi alam sehingga bisa mengumpulkan energi lebih banyak, dan aku bisa mengendalikan pemasukan dan pengeluaran chakra alam, jadi aku bisa menggunakannya langsung,’’ kata Naruto.
Kalau begitu mati saja sebentar lagi.
‘’Ahaha, aku hanya bercanda. Kurama-sama tidak bodoh, aku menarik ucapanku tadi yang mengatai Kurama-sama ini bodoh,’’ kekeh Naruto.
Aku tidak akan menarik kata-kataku, karena itulah jalan ninjaku. Tapi kau sudah melanggar janjimu baru saja.
Naruto mengernyitkan alis tanda kesal. ‘’Kalau begitu, aku akan melompat ke dalam mulut ular itu dan kita berdua akan mati bersama!’’
‘’Kenapa dia berteriak dan bicara sendiri?’’ tanya Obito.
Anak berambut kuning itu menghela nafas setelah meluapkan kekesalannya. Tidak lama kemudian Naruto terkekeh. ‘’Puff! Hahaha, aku benar-benar merindukan moment ini, di saat kita berdua sering bertengkar.’’
__ADS_1
‘’Dia tertawa. Sebenarnya apa yang dilakukan anak itu?’’ tanya Obito dengan wajah bodohnya.
Naruto tersenyum dipenuhi semangat. ‘’Yosh! Ayo selesaikan ini dan kembali ke desa!’’