
‘’Apa yang terjadi?’’ tanya Obito.
‘’Ayahnya Kakashi, Sakumo-sama, dia bunuh diri karena dihina dan dipojokkan.’’
Deg!
Obito tertegun begitu juga Naruto yang mendengar hal itu. Naruto langsung menunduk dengan wajah sendu, karena ia sudah pernah mendengar hal ini.
‘’Lima tahun yang lalu, Sakumo-sama ditunjuk menjadi ketua tim dalam misi rahasia menyusup ke daerah musuh. Tapi, dalam misi itu, Sakumo-sama terjepit di antara 2 pilihan. Keberhasilan tim atau keselamatan rekan timnya. Menurut hukum desa, mentelantarkan misi adalah hal tabu. Meski begitu, Sakumo-sama lebih memilih untuk menyelamatkan rekan timnya itu. Kegagalan Sakumo-sama dalam misinya itu mendatangkan kerugian besar pada pihak desa. Akibatnya, Sakumo-sama dihina dan dipojokkan oleh penduduk desa termasuk oleh rekan timnya yang pernah ia selamatkan. Keresahannya itu membuatnya depresi hingga akhirnya Sakumo-sama memilih untuk bunuh diri. Hal itu membuat Kakashi, anaknya yang selalu mengidolakan Sakumo-sama sebagai ayahnya, tidak pernah bangga terhadap ayahnya dan Kakashi berjanji untuk selalu mematuhi setiap hukum dan aturan ninja,’’ kata Minato.
Minato menoleh ke arah Kakashi yang sedang tertidur. ‘’Obito, cobalah sedikit mengerti, Kakashi bermaksud baik.’’
Obito hanya menatap tanah dengan wajah sendu.
......................
Suara kicauan burung pun terdengar membuat semuanya terbangun, termasuk Naruto. Setelah mereka membersihkan diri di sungai, Rin mengobati lengan Kakashi.
‘’Lukanya sudah membaik. Tapi jangan memaksakan diri, nanti lukanya akan terbuka,’’ kata Rin membalut tangan Kakashi dengan perban.
‘’Ya,’’ jawab Kakashi.
‘’Ayo pergi,’’ kata Minato saat melihat anak didiknya sudah bersiap-siap.
‘’Baik!’’ kata ketiganya.
__ADS_1
Naruto pun mengikuti tim ayahnya hingga di hutan bambu.
‘’Kita berpisah di sini. Semoga kalian beruntung. Musuh kemarin melakukan pengamatan sendiri. Tapi mulai dari sini, kita akan melawan tim. Berhati-hatilah,’’ kata Minato.
‘’Kapten.’’
Deg!
Semua terbelalak mendengar ucapan Obito, membuat Minato tersenyum.
‘’Baiklah, ayo pergi!’’
‘’Baik!’’
‘’Berpencar!’’
Shut!
‘’Menurutmu apa mungkin mereka yang membunuhnya?’’
‘’Sebaiknya kita tanya mereka saja. Ninpou Meisaigakure!’’
Kakashi menyadari sesuatu dan menghentikan langkah kakinya serta memberi isyarat untuk berhenti. Saat itu juga puluhan bambu muncul dari atas layaknya hujan.
Obito langsung menggunakan jurus. ‘’Katon Goukakyuu no Jutsu!’’
__ADS_1
Api yang panas menyerupai bola ukuran raksasa keluar dari dalam mulutnya langsung menghanguskan puluhan bambu tadi.
Naruto yang menyaksiknya dari jauh langsung melongo. ‘’Jurusnya seperti milik Sasuke.’’
Dasar bodoh. Obito itu juga Klan Uchiha jadi sudah wajar anak itu menggunakan jurus yang sama dengan Sasuke.
‘’Hehe,’’ kikik Naruto tanpa merasa bersalah.
Namun, tanpa Obito dan Kakashi sadari yang sedang bertarung, ternyata masih ada salah satu shinobi yang menggunakan jurus menghilang untuk menculik Rin.
‘’Kami ambil yang satu ini.’’
‘’Tunggu!’’ seru Obito.
Shin!
Kedua shinobi yang membawa Rin tadi telah menghilang.
‘’Sial!’’ seru Obito hendak mengejar.
‘’Obito! Biarkan saja!’’ tegur Kakashi.
‘’Kenapa?! Apa kau sadar apa yang kau katakan?!’’ tanya Obito marah.
‘’Kita berdua akan melanjutkan misi ini,’’ kata Kakashi.
__ADS_1
‘’Lalu Rin? Bagaimana dengan Rin?!’’ seru Obito.
‘’Biarkan dulu. Musuh ingin tahu apa tujuan kita. Mereka tidak mungkin membunuhnya, dan untungnya, Rin adalah Ninja Medis. Jadi meskipun dia dijadikan sandera, dia mungkin akan diperlakukan baik karena mengobati luka dari pihak mereka,’’ kata Kakashi.