
Hari untuk membuka Kotak Surga pun telah tiba. Muku mengucapkan salam perpisahan kepada sahabatnya sebelum pergi.
‘’Apa kau yakin akan melakukan hal itu?’’ tanya Ryuuzetsu.
‘’Aku sudah mengambil keputusan, dan kau berjanji akan mendukungku,’’ kata Muku.
Ia terdiam untuk sesaat sambil menundukkan kepala dengan wajah sedih. Melihat hal itu membuat Ryuuzetsu menyadarkannya.
‘’Kau atau aku, di antara kita berdua tidak ada yang akan mati! Berjanjilah kepadaku, Muku! Apa pun yang terjadi, kau akan kembali!’’
Muku memasang wajah serius. ‘’Baiklah. Aku berjanji.’’
Ia pun berjalan pergi bersama ayahnya ke ruang atas.
Mui menuju ke lemari untuk menggeser buku biru di rak tengah. Dibalik lemari terlihat sebuah tangga, membuat keduanya menuruni tangga tersebut.
Begitu mereka tiba di bawah, Muku melihat sebuah altar dan empat dewan yang sudah menunggu sejak tadi. Matanya menoleh melihat sebuah kotak dengan topeng setan yang tertanam di langit-langit.
Mui mengintruksi putranya untuk baring di atas altar yang sudah tersedia. Ragu-ragu, Muku menurut dan baring di tempat yang disuruhkan.
__ADS_1
‘’Mui, jasamu akan dikenang semua orang karena akan menyelamatkan desa,’’ kata Dewan Kedua.
‘’Kali ini, dunia akan berada di genggaman Kusagakure,’’ kata Dewan Keempat.
Muku yang mendengarnya hanya diam dan mulai menutup mata. Ia bisa merasakan chakra-nya keluar setelah tangan ayahnya memulai ritual tersebut. Secara perlahan, mulut dari Kotak Surga mulai terbuka membuat para dewan semakin bersemangat. Ryuuzetsu yang menyaksikannya secara diam-diam dibalik batu, hanya mengepalkan tangan dengan perasaan cemas.
Mui mengarahkan tubuh Muku ke dalam mulut Kotak Surga yang terbuka. Namun, belum sempat anak itu masuk ke dalam, sebuah bom asap langsung meledak bersamaan seseorang menangkap tubuh Muku, membuat pintu tadi kembali tertutup.
Ryuuzetsu sedikit terkejut karena sosok tadi membawa Muku kepadanya, dan memintanya meninggalkan tempat itu sekarang juga.
‘’Ada apa ini?!’’ seru Dewan Ketiga.
Kelimanya menoleh saat mendengar suara kaki mendarat di tanah. Mereka menatap seseorang di balik asap, yang tidak lama kemudian menghilang secara perlahan.
‘’Aku yang melakukannya. Apakah itu masalah?’’ tanya Naruto #1.
Keempat dewan marah besar karena ulah sosok berambut kuning itu, dan hendak menyerangnya.
‘’Aku bisa membuka Kotak Surga itu tanpa menggunakan chakra Muku! Tapi sebelum itu dengarkan aku dulu,’’ kata Naruto #1.
__ADS_1
‘’Tidak kusangka kau yang duduk tenang akhir-akhir ini langsung memberikan kejutan,’’ kata Mui.
‘’Ossan, apa yang kau lakukan ini tidaklah benar. Kau mengorbankan putramu sendiri demi sesuatu yang sama sekali tidak menguntungkan dunia,’’ kata Naruto #1.
‘’Aku tidak mengorbankan putraku. Tapi hanya menggunakan chakra-nya agar membuka Kotak Surga itu untuk membuat permintaan demi desa kami,’’ kata Mui.
‘’Sebaiknya jangan lakukan itu sebelum kau menyesal karena Muku mati. Keempat dewan itu hanya menjadikan dirimu sebagai batu loncatan mereka,’’ kata Naruto #1.
‘’Anak kurang ajar! Beraninya kau berkata seperti itu!’’ seru para Dewan.
Mereka hendak menghabisi Naruto #1 tapi Mui mencegahnya dengan sebelah tangan, membuat keempat dewan itu marah.
‘’Kau bicara seolah-olah mengetahui Kotak Surga saja. Sebagai orang dewasa, aku lebih mengetahui Kota Surga itu dibandingkan bocah amatir seperti dirimu,’’ kata Mui.
‘’Kalau begitu, seharusnya kau juga tahu kenapa Kusagakure sampai lenyap setelah menggunakan kotak tersebut dattebayo,’’ kata Naruto #1.
Mata Mui memicing. ‘’Kusakage Ryuu Happa Shou!’’
Apa? Dia menghindari seranganku?! Tidak mungkin, ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Naruto #1 tersenyum remeh. ‘’Ossan … Serangan yang sama tidak akan melukaiku dattebayo!’’