
Konoha
‘’Selamat. Tanggal perkiraan kelahiranya adalah … Mari kita lihat … 10 oktober,’’ kata salah satu ninja medis di rumah sakit Konoha.
Kushina terbelalak. ‘’Apa?’’
Wanita itu tersenyum. ‘’Kushina-sama, Anda hamil.’’
......................
Karena Minato telah menyelesaikan urusan di kantor Hokage, ia memiliki waktu luang di rumah. Bahkan tidak ragu berkumpul dengan anak didiknya dan menguji mereka.
Boom!
Minato menghindari ledakan. Belum sempat ia mendarat, sebuah pusaran bola api menghampirinya. Bagi Si Kilat Kuning, berpindah pindah dengan cepat adalah hal yang mudah.
Begitu Minato mendarat di dahan pohon, Rin tersenyum sambil memotong tali menggunakan kunainya.
Muncul batang pohon besar yang sudah ditempelkan kertas bom akan menghantamnya, apalagi disusul serangan bola api berturut-turut dari Obito.
Minato melemparkan kunai hingga ledakan itu pun terjadi. Rin dan Obito yang bersembunyi di balik semak-semak tersenyum girang.
‘’Berhasil!’’
Deg!
Kedua anak itu tersentak dan berbalik ke belakang. Saat itu juga terlihat Minato berdiri sambil tersenyum. ‘’Hampir saja.’’
Kedua anak itu menghela nafas panjang sambil memasang raut wajah bodoh. ‘’Gagal lagi. Mustahil untuk mengena Si Kilat Kuning bahkan sedikit saja.’’
Namun, kedua anak itu tersenyum di tengah sandiwara mereka, hingga akhirnya serangan tiba-tiba muncul. Sayangnya, Minato berhasil menangkisnya dengan kunai.
__ADS_1
‘’Serangan ini,’’ kata Minato.
Saat itu juga Kakashi muncul dan menyerang. Minato hanya menghindari serangan itu.
‘’Sensei, kali ini kami akan menang,’’ kata Kakashi.
‘’Kau bersembunyi cukup lama, apa itu strategi kalian?’’ tanya Minato yang hanya menghindari.
Obito dan Rin ikut menyerang. Mereka bertiga tidak memberikan celah kepada Minato untuk menyerang. Rin melemparkan kunai, membuat Minato menghindar.
Belum sempat Minato mendarat, Obito kembali melemparkan kunai yang ditempelkan bom.
Minato menghindar dan hendak menyentuh tanah dengan tangannya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Namun, Minato terbelalak karena tanah sudah ditempelkan belasan bom kertas.
Boom!
Kertas itu meledak bersamaan Minato melemparkan kunai miliknya ke dahan pohon. Minato sudah berpindah ke dahan pohon tersebut. Tapi, itu masih belum berakhir, muncul belasan shuriken dari asap di bawah yang dilemparkan ketiga anak itu.
‘’Lumayan juga, tapi tidak cukup untuk mengalahkanku,’’ kata Minato menyerang.
Shin! Shin! Shin!
Minato mengerutkan dahi. ‘’Jadi Kage Bunshin, ya?’’
Sedangkan ketiga orang yang aslinya bersembunyi di atas mahkota pohon yang lebih tinggi, sambil menatap Minato yang kebingungan.
‘’Yosh! Ayo akhiri ini,’’ kata Obito hendak melakukan segel tangan.
Kakashi memegang pergelangan tangannya dan akan menggunakan raikiri, sedangkan Rin menunggu aba-aba sampai mereka menyerang secara bersamaan.
Deg!
Baru saja mereka ingin menyerang, Minato sudah ada dibelakang sambil menodongkan kunai ke leher ketiga anak tadi.
__ADS_1
‘’Kalian sudah kalah,’’ kata Minato.
Mereka pun kembali berkumpul di bawah.
‘’Kalian mengalami perkembangan cukup pesat. Selain itu, kerjasama kalian juga sangat meningkat,’’ kata Minato.
‘’Padahal kami merasa bosan karena harus latihan setiap hari untuk meningkatkan kerjasama. Tidak kusangka, latihan Naruto membuahkan hasil,’’ kata Obito.
‘’Naruto?’’ tanya Minato yang tersentak.
Rin memberitahu Minato kalau Naruto pernah mengajak mereka bertiga untuk latihan terus. Mendengar semua cerita itu membuat wajah Minato sendu. Ia kembali mengingat Naruto.
‘’Minato!’’
Keempat orang itu menoleh dan melihat kedatangan Kushina dengan wajah senang.
......................
‘’Hah? Bayi?’’ tanya Minato merona.
‘’Atashi Haha o ya ni narunda dattebane(Aku akan menjadi seorang ibu)!’’ girang Kushina.
‘’Ore wa Chichi o ya ni naru(Aku akan menjadi seorang ayah)?’’ tanya Minato.
‘’Haha o ya dattebane!’’ girang Kushina.
‘’Chichi o ya ni narunda,’’ kata Minato.
‘’Haha o ya dattebane!’’ girang Kushina sekali lagi.
‘’Kore de ore mo chichi o ka(Bayangkan aku menjadi seorang ayah)?!’’ girang Minato.
Rin tersenyum, Kakashi datar seperti biasa, sedangkan Obito hanya mengerutkan dahi dengan wajah bodohnya.
‘’Heh, keberadaan kami tidak disadari seolah-olah dunia milik mereka berdua,’’ kata Obito.
__ADS_1