
Setelah perang dunia ketiga terjadi, tidak mengubah perang tetap berlangsung. Tiga Negara besar yakni, Konohagakure, Iwagakure dan Sunagakure terlibat perang.
Sudah lama sejak Obito menjalani pengobatan, hingga akhirnya ia tersadar.
‘’Eh? Di mana ini?’’ tanya Obito bangkit.
‘’Ha?! Apa yang terjadi dengan tubuhku? Ke mana tangan kananku?!’’ pekik Obito baru tersadar.
‘’Berisik sekali.’’
Obito kembali berteriak karena melihat sosok yang selama ini ia panggil manusia ular. ‘’Oro-Orochimaru-sama?!’’
‘’Tsunade menyerahkanmu kepadaku karena ada urusan, jadi aku sudah bersenang-senang dengan tubuhmu,’’ kata Orochimaru.
Hii! Bersenang-senang dengan tubuhku? Apakah dia sudah memotong dan mengambil beberapa organ dari tubuhku ini? Tangan kananku yang hilang, apakah juga termasuk salah satunya? Aku tidak bisa berpikir, omel Obito dalam hati.
‘’Sudah berapa lama aku di sini?’’ tanya Obito gugup.
‘’Rasanya sudah seperti lama,’’ jawab Orochimaru.
Obito menatap ke sekitar melihat eksperimen yang dilakukan oleh pria itu.
Dia benar-benar suka melakukan eksperimen. Memangnya apa yang dia cari sampai melakukan hal ini semua? Dasar, kata Obito dalam hati.
"Kau selalu menyebut rin, rin, rin ... Apakah kau ingin keluar mencari lonceng?" tanya Orochimaru.
__ADS_1
"Kau juga mengatakan baka Kakashi. Apakah kau bertengkar karena kehilangan lonceng?"
Apakah aku sungguh mengatakan hal itu? Haa, kata Obito dalam hati.
......................
Kantor Hokage
Minato dan Sandaime membahas perang mengenai tiga negara besar, hingga datangnya pasangan yang membawa seorang anak gadis seumuran Kakashi.
‘’Mereka?’’ tatap Sandaime.
‘’Mereka adalah Banri-san, sepupu dari Kushina dan istrinya Kaga-san. Karena aku akan jarang berada di rumah dalam kondisi sekarang, aku meminta mereka datang untuk menjaga Kushina,’’ jawab Minato.
‘’Salam Sandaime-sama, Yondaime-sama,’’ kata pasangan itu.
Minato dan Sandaime menoleh ke arah gadis yang datang bersama mereka. Lalu menatap pasangan itu. Kedua pasangan tadi memberitahu kalau mereka menemukan gadis itu di sekitar medan perang.
‘’Apakah kedua matanya terluka?’’ tanya Minato yang melihat mata gadis itu dibaluti perban.
Banri dan Kaga saling bertatapan untuk sesaat, sebelum kembali menatap Minato.
‘’Um, sebenarnya matanya baik-baik saja. Hanya saja, Yondaime-sama akan terkejut jika melihatnya,’’ kata Banri.
Sandaime mengerutkan dahi mendengar ucapan pria itu, membuatnya menatap gadis tadi. ‘’Ada apa dengan matanya?’’
‘’Sandaime-sama tidak akan percaya hal ini,’’ kata Kaga melepaskan perban yang menutupi mata kedua putrid angkatnya.
Deg!
__ADS_1
Minato dan Sandaime bersamaan terkejut. ‘’Mata itu....’’
......................
Kediaman Minato & Kushina
Kushina tersenyum sambil bermain dengan bayinya. Ia menatap setiap inci dari tubuh putranya itu. ‘’Warna rambut dan tiga garis di masing-masing pipinya … Mereka berdua benar-benar mirip dattebane.’’
Tok! Tok!
‘’Siapa yang datang? Hm, sebentar ya Naruto,’’ kata Kushina berjalan ke arah pintu.
Ceklek!
Kushina terbelalak dan langsung tersenyum. ‘’Banri? Kaga-chan? Kalian di sini?’’
‘’Karena situasi sedikit sulit, Yondaime-sama memanggil kami untuk menemanimu. Bagaimana kabarmu? Lalu di mana keponakanku?’’ tanya Banri.
‘’Aku baik. Bagaimana dengan kalian?’’ tanya Kushina.
Sama halnya dengan Kushina, pasangan itu juga menjawab dengan jawaban yang sama. Kushina terbelalak melihat anak gadis yang ikut bersama mereka.
‘’Dia siapa?’’ tanya Kushina.
‘’Dia yatim piatu. Kami menemukannya di sekitar medan perang. Aku dan Banri-kun membawanya pergi hingga akhirnya mengadopsinya sebagai putri kami,’’ jawab Kaga.
Kushina yang mendengarnya mengusap pucuk rambut anak itu. ‘’Okaeri. Eto, namanya siapa? Lalu ada apa dengan matanya?’’
Seperti yang terjadi di kantor Hokage, pasangan itu memberitahu Kushina hingga Banri melepaskan perban di mata anak itu. Kushina juga sama kagetnya.
__ADS_1
Anak perempuan itu membungkuk lalu menatap Kushina sambil tersenyum. ‘’Hajimemashite, Uzumaki Hinata-desu.’’