
Pagi berikutnya, Kakashi dan yang lainnya telah kembali ke Konoha. Rutinitas hari berjalan seperti biasa. Kini para Genin dan Jounin berkumpul di halaman belakang kantor Hokage.
‘’Sepertinya ada yang sudah menikmati liburan di tengah misi,’’ kata Obito menghampiri tim 7.
‘’Obito Nii-chan tidak tahu, kalau kami sebenarnya tidak menjalankan misi biasa. Kami semua bertarung. Aku bahkan mengalahkan ketua dari para penjahat itu dalam hitungan detik. Memberinya mikazuki rasengan baru dattebayo,’’ cerita Naruto #2.
Obito memasang wajah bodohnya. ‘’Terlalu pembual seperti biasa. Apa kau mencoba membodohiku?’’
‘’Aku memang mengalahkan ketua penjahat itu dattebayo!’’ tegas Naruto #2.
‘’Kau memang mengalahkannya, tapi tidak dalam hitungan detik. Sebelah kakimu menjadi batu dan Pangeran Michiru mengangkatmu lalu berlari ke arah Ishidate,’’ kata Obito.
Wajah Naruto #2 langsung merah karena malu. Semua Genin memasang wajah bodoh karena cerita asal-asalan tadi dari anak berambut kuning itu.
‘’Tapi, bagaimana Obito Sensei tahu semuanya?’’ tanya Sakura.
‘’Apa maksudmu? Aku ada di sana menyaksikannya sendiri dari atas,’’ jawab Obito tanpa sadar dirinya keceplosan.
Naruto #1 yang melihat para Genin terkejut hanya tersenyum kaku. ‘’Obito itu….’’
__ADS_1
‘’Ahahaha!’’ tawa Obito hendak berjalan pergi.
Namun, niatnya terhenti saat Naruto #2 sudah menariknya.
‘’Hee~ bisakah Obito Nii-chan memberi penjelasan soal tadi?’’ tanya Naruto #2 tersenyum sambil mengernyitkan alis.
Obito meminta pertolongan kepada Naruto #1, tapi sosok itu hanya diam sambil mengangkat bahu.
‘’Apa maksud ucapan Obito barusan?’’ tanya Kakashi di samping Naruto #1.
Ehe, padahal aku sudah memberitahunya agar tidak membocorkan hal ini dattebayo, kata Naruto #1 dalam hati sambil tersenyum kaku.
‘’Kenapa kita tidak mendengar penjelasan Obito? Aku juga penasaran, bagaimana Obito bisa mengetahui semuanya,’’ kata Naruto #1.
‘’Benarkah? Kapan aku mengatakan hal itu?’’ tanya Naruto #1.
Rin hanya menghela nafas karena Obito mengomel sana-sini karena Naruto #1 mempermainkannya.
‘’Sudah cukup. Apakah kalian benar-benar ada di sana waktu itu?’’ tanya Kakashi.
__ADS_1
‘’Aku dan Obito hanya kebetulan lewat setelah kami menyelesaikan misi. Kami tidak tahu kalau kalian juga ada di sana,’’ jawab Naruto #1.
‘’Pembohong. Jelas-jelas kau tahu mereka akan bertarung di malam ha—‘’ ucapan Obito terhenti karena Naruto #1 langsung membengkap mulutnya.
‘’Hahaha! Aku dan Obito hanya ingin menonton sirkus. Tapi, tidak disangka kalian bertarung sengit di belakang. Iya, kan? Obito Nii-chan,’’ kata Naruto #1 memberi tekanan di akhir kalimat.
Obito yang wajahnya sudah membiru karena kehabisan nafas hanya mengangguk. ‘’Lepaskan tanganmu dulu! Kalau ingin membengkap mulut, tidak perlu membengkap hidungku juga!’’
Naruto #2 mengernyitkan alis sambil menatap Naruto #1.
Keberadaannya yang mampir bukanlah sebuah kebetulan. Tadi, Obito Nii-chan ingin mengatakan kalau dia tahu sesuatu akan terjadi seperti biasa. Tapi dia langsung menghentikan Obito Nii-chan, kata Naruto #2.
‘’Oh iya, Nigou. Bukankah kau ingin bertanya kepada Naruto-san mengenai sesuatu? Sekarang dia ada di sini,’’ kata Sakura mengingatkan.
‘’Ore wa Nigou janai! Benar juga. Kebetulan semua orang ada di sini. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu,’’ kata Naruto #2.
Naruto #1 hanya menunggu, begitu juga dengan yang lainnya.
‘’Waktu itu, saat melawan Guru Haido … Kau menggunakan chakra aneh untuk menahannya,’’ kata Naruto #2.
__ADS_1
Kakashi dan Obito langsung bertatapan dan mengingat kejadian di rumah sakit.
‘’Kau juga menanyakan hal itu di rumah sakit. Chakra aneh yang kau maksud itu mungkin adalah chakra senjutsu,’’ kata Obito.