
Naruto #2 menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan serius. Ia masih ingat kejadian di kantor Hokage, mengenai ucapan ayahnya tentang Naruto #1 yang sudah melaporkan situasi, yang jelas-jelas belum terjadi. Dan juga, saat melawan guru Haido.
‘’Apa yang kau tunggu?! Cepat serang dia!’’ seru Naruto #1.
Tangannya mengepal saat ia kembali mengingat kejadian itu.
Chakra kuning yang menyilaukan itu apa, ya? Aku tidak tahu kalau dia masih memiliki kekuatan lain. Tapi, saat dia menggunakan kekuatan itu, entah kenapa aku merasa dia tidak tertandingi, kata Naruto #2 dalam hati.
Naruto #2 kembali mengingat kejadian di rumah sakit.
*Flashback on
‘’Kakashi Sensei, Obito Nii-chan, bagaimana kondisi kalian berdua?’’ tanya Naruto #2*.
‘’Mungkin beberapa hari lagi, kami akan kembali seperti biasa,’’ jawab Obito.
‘’Aku benar-benar tidak menyangka, menerima serangan kejutan dari pria itu,’’ kata Kakashi.
Obito mengangguk membenarkan. ‘’Kupikir aku akan mati, tapi syukurlah aku selamat. Hanya saja aku tidak ingat apa yang terjadi setelah menerima serangan itu.’’
‘’Tidak sadarkan diri? Kalau begitu, Obito Nii-chan tidak melihatku mengalahkan penjahatnya dibantu orang ini?’’ tanya Naruto #2 menunjuk Naruto #1 di sampingnya.
‘’Jangan membuatku tertawa. Bukankah Naruto #1 yang mengalahkan penjahatnya? Lalu membawa kami keluar,’’ kata Obito.
__ADS_1
‘’Eh? Obito Nii-chan dan Kakashi Sensei tidak melihat orang ini mengeluarkan cha—‘’
‘’Dia benar. Orang yang mengalahkan pria itu adalah anak ini bersama Temujin,’’ kata Naruto #1 memotong.
Naruto #2 menatap sosok berjubah merah itu.
Dia menghentikanku? Bukankah biasanya dia akan pamer dengan kekuatannya? Aneh, ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba seseorang muncul dan menyuruh Naruto #1 agar menghadap kepada Hokage.
‘’Aku harus pergi. Kau juga ikut denganku. Biarkan mereka beristirahat,’’ kata Naruto #1 menarik versi kecilnya.
Obito dan Kakashi hanya bingung melihat Naruto #2 yang berontak, tapi dipaksa pergi. Tidak lama kemudian, Naruto #2 kembali.
‘’Naruto?’’
‘’Chakra lain? Maksudmu senjutsu?’’ tanya Obito.
‘’*Kami hanya sadar beberapa saat setelah menerima serangan laser itu, dan baru tersadar saat Sakura menyembuhkan luka kami,’’ kata Kakashi.
Flashback off*
Wajahnya semakin serius. ‘’Melihat situasi, dia menggunakan kekuatannya saat Obito nii-chan dan Kakashi sensei tidak sadarkan diri. Itu berarti, aku adalah orang yang pertama melihat chakra itu. Tapi kenapa? Dia seperti tidak ingin orang lain mengetahuinya. Bukankah dia suka dipuji karena memiliki kekuatan yang hebat?’’
__ADS_1
Naruto #2 memejamkan mata. ‘’Besok aku akan bertanya padanya.’’
......................
‘’Ohayou,’’ sapa Kushina seperti biasa.
‘’Ohayou. Di mana orang itu?’’ tanya Naruto #2 terbelalak.
‘’Maksudmu Naruto #1? Dia terburu-buru untuk bertemu Obito dan yang lainnya,’’ jawab Minato membaca Koran.
‘’Tapi Hinata Nee-chan masih di sini, bahkan belum bersiap-siap,’’ kata Naruto #2.
‘’Dia bilang ingin sarapan pagi di Ichiraku Raamen bersama yang lainnya,’’ kata Minato.
Naruto #2 memasang wajah bodohnya. ‘’Dasar Maniak Raamen. Setiap saat dia hanya mengisi tenaganya dengan memakan raamen. Apakah dia tidak bosan?’’
Hinata #1 yang mendengarnya hanya terkikik pelan. ‘’Itu karena raamen adalah makanan kesukaan Naruto-kun. Jika kau mengunjungi apartemennya, kau akan terkejut melihat lemari makanannya hanya dipenuhi raamen.’’
Ketiga orang di sana hanya mengerutkan dahi mendengar ucapan wanita tadi. Hinata #1 langsung tersadar kalau dirinya keceplosan.
‘’Sekarang Hinata-chan mulai seperti Naruto #1, yang selalu mengatakan hal-hal aneh,’’ kata Minato tersenyum.
‘’Suami-istri sudah sepantasnya memiliki kesamaan dattebane,’’ kata Kushina.
__ADS_1
Hinata #1 tersenyum kaku, meskipun ia lega karena ketiga orang itu tidak curiga, dan sudah terbiasa mendengar hal seperti itu dari Naruto #1.
Lain kali, aku harus berhati-hati. Aku tidak ingin memberikan masalah kepada Naruto-kun, kata Hinata #1 dalam hati.