God Of Shinobi

God Of Shinobi
Bab 42 Latihan Bersama


__ADS_3

‘’Kamui!’’ seru Obito.


‘’Cepat menyingkir!’’ seru Naruto melihat kunai yang ditempelkan kertas bom tidak berpindah tempat.


‘’Semangat Obito!’’ teriak Rin.


‘’Kamui!’’ seru Obito.


‘’Lari!’’ seru Naruto melihat batu besar yang dilemparkan dari atas oleh kloningnya ke arah Obito tidak menghilang.


‘’Kau pasti bisa Obito!’’ teriak Rin.


‘’Kamui!’’ seru Obito.


‘’Balas dengan seranganmu atau kau akan kehilangan satu matamu karena Rasengan-ku!’’ seru Naruto yang melemparkan rasengan-nya ke arah Obito.


‘’Jangan menyerah Obito!’’ teriak Rin.


Bugh!


Naruto dan Obito menjatuhkan dirinya ke tanah sambil menatap langit dengan wajah masam. Sedangkan Rin jatuh terduduk dengan perasaan lemas. ‘’Sia-sia saja.’’


Kakashi yang duduk santai di bawah pohon hanya menghela nafas menatap ketiga anak itu.


‘’Kenapa begitu sulit menguasai Kamui? Padahal saat itu aku merasakan kalau aku bisa menggunakan Kamui. Tapi, sekarang mataku rasanya mati rasa,’’ kata Obito.

__ADS_1


‘’Mungkin, karena situasi saat itu sedang terdesak jadi kau bisa menggunakannya,’’ kata Naruto.


‘’Aku tidak bilang bisa menggunakannya, tapi bisa merasakannya. Mataku tiba-tiba sakit saat hendak menggunakannya, jadi tidak jadi. Mungkin karena sharingan di mataku ini masih tomoe 2,’’ kata Obito.


Naruto mengerutkan dahi. ‘’Saat itu, bagaimana kau bisa membangkitkan sharingan-mu?’’


‘’Aku hanya merasa tertekan dan stres karena tidak bisa melakukan apa pun. Setelah itu, sharingan-ku bangkit dan aku langsung mengetahui keberadaan musuh,’’ jawab Obito.


Seperti yang dialami Sarada-chan. Dia begitu stres dan tertekan mengira Sakura-chan bukan ibunya, apalagi Sasuke meninggalkan mereka. Saat itu, sharingan-nya juga bangkit. Apakah untuk membangkitkan sharingan harus merasa tertekan dan stres dulu, ya? Haa, kata Naruto dalam hati.


Obito kembali menghela nafas. ‘’Tapi, aku begitu takjub dengan dirimu Naruto. Kau bisa menggunakan jurus yang hebat dan bisa melakukan segala apa pun. Berbeda dengan diriku yang sama sekali tidak bisa melakukan apa pun.’’


Heh, apa maksudmu sama sekali tidak bisa melakukan apa pun? Kau adalah orang yang membuat kelima desa bersatu untuk melawanmu. Seorang diri melawan kami yang berjumlah ribuan orang, masih tetap membuat kami semua kewalahan. Orang yang hampir menghancurkan dunia demi membangkitkan wanita yang dicintai, kata Naruto dalam hati dengan wajah bodohnya.


‘’Cih, merepotkan sekali. Kenapa aku juga tidak terlahir jenius?’’ tanya Obito.


‘’Tidak usah, tenagaku sudah terkuras semua. Aku seperti tidak bisa bangun lagi,’’ kata Naruto.


Rin tersenyum. ‘’Tidak apa-apa, ini baru satu hari. Tidak ada orang yang langsung bisa menggunakannya di hari pertama. Selain itu aku yakin Obito pasti bisa.’’


Saat itu juga Obito bangkit. ‘’Aya bangun Naruto! Kita tidak boleh malas latihan! Ini masih cepat aku menyerah.’’


‘’Heh,’’ kata Naruto sambil memasang raut wajah bodohnya.


Tenaganya kembali pulih secepat ini hanya karena ucapan Rin. Dia benar-benar bucin. Saking buncinnya, dia seorang diri hampir menghancurkan dunia, kata Naruto dalam hati.

__ADS_1


Wajah Naruto menjadi sendu sambil ia menatap langit.


Benar juga. Melihat Obito dan Rin, aku jadi iri. Jika saja dia juga ada di sini, kata Naruto dalam hati.


‘’Oee Naruto! Ayo bangun dan kita latihan!’’


Obito menoleh ke arah pohon. ‘’Kakashi! Kau juga harus ikut!’’


‘’Aku menolak,’’ jawab Kakashi.


‘’Ha? Kau bilang apa? Ayo kemari! Kalian bertiga harus bekerja sama untuk menyerangku,’’ kata Obito.


Kakashi menolak dan memilih tidur, membuat Obito mengepalkan tangan.


‘’Dia sangat berbeda dengan ayahnya. Padahal Si Taring Putih tidak pernah menolak kalau seseorang meminta bantuan. Hm~ aku jadi meragukannya kalau dia adalah anaknya,’’ kata Obito.


Saat itu juga Kakashi bangkit dan berjalan ke arah mereka. Obito dan yang lainnya menoleh.


Heh, Obito menggunakan ayahnya Kakashi Sensei untuk memprovokasinya, ya? Heh? Ehe, kata Naruto dalam hati.


‘’Dia datang,’’ kata Obito.


Dengan cepat, Kakashi melemparkan kunai ke arah Obito membuat ketiga anak itu tersentak.


Deg!

__ADS_1


‘’Kamui!’’ seru Obito.


__ADS_2