
Naruto dan Minato pun tiba di ruang pertemuan, dan melihat Sandaime sudah menunggu sejak tadi.
"Kau sudah datang, ya?" tanya Sandaime.
"Iya kakek ah maksudku Sandaime-sama," kata Naruto.
Argh, kenapa aku selalu keceplosan seperti ini, gerutu Naruto dalam hati.
Heh, itu karena kau aslinya memang bodoh.
Naruto melotot karena ucapan Kurama.
Hei Kurama! Aku tidak bodoh, kau lihat sekarang aku sudah menjadi Jounin, kata Naruto dalam hati.
Itu karena mengandalkan kekuatanmu dari masa depan. Jika mengandalkan dirimu yang sebenarnya, kau hanya bocah lemah, kurang lebih seperti Obito.
Wajah Naruto langsung kusut karena ucapan Kurama.
Sandaime dan Minato hanya saling bertatapan bingung melihat tingkah Naruto.
"Naruto?" panggil Minato.
Naruto tersadar dan menatap Minato. "I-Iya Yondaime-sama?"
"Apakah kau lapar?" tanya Minato.
"Lapar? Aku tidak lapar," jawab Naruto dengan polos.
"Lalu kenapa kau selalu menatap perutmu?" tanya Minato sekali lagi.
Naruto tersadar. Sekali lagi, ia kedapatan berbicara dengan Kurama.
"Ahaha, lapar? Iya, aku tidak lapar, tapi sekarang lapar lagi karena Yondaime-sama menanyakan hal itu," kekeh Naruto.
Minato menatap Sandaime lalu kembali menatap Naruto.
"Tidak apa-apa, aku tidak terlalu lapar. Kenapa Sandaime-sama ingin bertemu denganku?" tanya Naruto.
__ADS_1
Sandaime terdiam untuk sesaat. "Yondaime-sama sudah menceritakan bagaimana kehidupanmu. Saat mendengarnya, aku tidak percaya kalau merupakan keturunan klan Uzumaki yang masih bertahan sampai sekarang. Tapi...."
Naruto hanya menunggu Sandaime melanjutkan kalimatnya.
"Apakah kau mendapatkan pelatihan khusus dari seseorang?" tanya Sandaime.
"Pelatihan khusus dari seseorang?" bingung Naruto.
"Misalnya kau bertemu dengan seorang pria tinggi berambut putih yang selalu membawa gulungan besar di punggungnya, lalu dia melatihmu sampai sekuat ini, sebelum bertemu dengan Yondaime-sama," kata Sandaime memperjelas.
Seorang pria tinggi berambut putih yang selalu membawa gulungan besar di punggungnya? Apakah orang yang dimaksud adalah Ero Sennin? Hmm, kata Naruto dalam hati.
"Tidak, aku tidak pernah bertemu dengan orang seperti itu," jawab Naruto.
Sandaime dan Minato kembali saling memandang satu sama lain.
"Kalau begitu, apakah kau tahu mengenai Sage Mode?"
Deg!
Naruto tersentak karena pertanyaan Sandaime.
"Sage Mode, aku belum pernah mendengarnya, apakah itu jurus rahasia?" tanya Naruto.
Apakah dia sedang berpura-pura? Sepertinya Naruto menghindar untuk menjawabnya, kata Sandaime dalam hati.
"Iya, itu jurus milik mendiang Hokage Pertama, Hashirama Senju. Jurus yang hanya bisa dikuasai orang-orang tertentu. Kalau begitu, kau boleh pergi, kau pasti sudah sangat kelaparan," jawab Sandaime.
Naruto mengangguk kaku dan membungkuk sebelum pergi. Kedua orang itu menatap kepergian Naruto.
"Dia menghindar untuk menjawabnya," kata Minato.
"Kalau begitu, kita harus memantau Naruto. Yondaime-sama aku punya saran," kata Sandaime.
......................
Naruto menghela nafas lega karena akhirnya ia bisa pergi. Ia benar-benar terkejut dengan pertanyaan tadi. "Kenapa aku merasa sedang di interogasi tadi?"
__ADS_1
"Naruto!" teriak seseorang.
"Kalian?" tatap Naruto.
Obito menghela nafas. "Hampir saja kau pergi dari sini. Aku tidak tahan harus memberimu hadiah di depan wanita itu. Ergh, tidak tahu kenapa dia selalu memelukku saat bertemu."
"Naruto, aku memberikan ini sebagai hadiah untukmu," kata Rin.
Naruto menatap sapu tangan motif topeng rubah yang merupakan hadiah dari Rin.
"Maaf, hanya motif topeng rubah itu yang tersisa, jadi aku membeli yang itu saja," kata Rin.
"Tidak, ini sudah sempurna. Aku menyukainya, terima kasih Rin," senyum Naruto.
Naruto menatap topi piyama yang diberikan Kakashi.
"Kau bisa menariknya untuk menutup telingamu kalau Kushina-sama berteriak," jawab Kakashi membuat Naruto terkikik.
"Terima kasih," kekeh Naruto.
Kini tersisa Obito yang menyerahkan hadiahnya.
"Humph! Bersyukurlah karena Uchiha Obito-sama ini memberimu hadiah yang sangat langka. Tapi, sebelum itu ikutlah denganku!"
Obito menarik Naruto dengan cepat, membuat Rin dan Kakashi menghela nafas panjang dan menyusul kedua anak itu.
......................
"Aduh, sakitnya," kata Obito mengelus pipinya yang terluka.
"Kalau mau sakit jangan membuatku juga ikut," kata Naruto yang juga sama sakitnya.
Kakashi menghela nafas. "Siapa suruh kau tidak berhati-hati? Lagi pula, kenapa harus lari? Bukankah kalian akan tetap sampai jika berjalan?"
Naruto menghela nafas panjang. Meskipun begitu, terukir senyuman di bibirnya melihat hadiah dari Obito.
"Padahal aku ingin hasilnya sempurna, tapi wajah kami terluka," kata Obito.
__ADS_1
"Ini hadiah yang tidak pernah akan aku lupakan," senyum Naruto menatap foto di tangannya.