
Tiba-tiba, pintu terbuka membuat Putri Shion jatuh ke belakang. Ia melihat Taruho berdiri dengan wajah datarnya.
‘’Ka-Kau?’’ tatap Putri Shion langsung bangkit.
‘’Kenapa tidak ada yang mau berteman denganku? Setiap kali aku datang, mereka langsung pergi. Mereka memandangiku dengan tatapan takut. Taruho tidak tahu semua itu dan dia mengajakku berteman dengan mudah? Anda bahkan mengikutsertakan nama saya saat mengeluh,’’ jawab Taruho.
Wajah Putri Shion langsung merona karena malu. Ia membuang wajah dengan raut kesal. ‘’Terserah diriku!’’
......................
Aula
Naruto #1 dan yang lainnya pun tiba dan disambut oleh ayah Taruho. Mereka berdiri di hadapan sebuah tirai bambu, yang di belakangnya terlihat sosok wanita sedang duduk, dengan posisi kedua lutut bertumpu di atas alas duduk.
‘’Selamat datang para shinobi Konoha. Aku Pendeta Tinggi Miroku menyambut kalian di sini. Salam dariku,’’ kata Miroku.
‘’Kami juga memberikan salam kepada Pendeta Tinggi,’’ balas Naruto #1.
‘’Kenapa tirainya tidak ditarik ke atas?’’ tanya Naruto #2.
‘’Orang yang bertemu dengan Pendeta Tinggi tidak boleh sampai bertatapan langsung. Sebab, Pendeta Tinggi akan memberikan ramalan kematian kepada orang tersebut,’’ jawab ayah Taruho.
‘’Ra-Ramalan kematian? Ahaha! Jangan bercanda. Tidak baik bergurai di saat seperti ini dattebayo,’’ kekeh Naruto #2.
‘’Apakah kau ingin Miroku-sama meramalkan dirimu?’’ tanya ayah Taruho.
__ADS_1
Naruto #2 tersenyum kaku. ‘’Kurasa itu adalah pilihan yang tidak tepat, hehe.’’
‘’Mm~ terlihat sekali raut ketakutan diwajahnya,’’ tatap Sakura dengan wajah bodohnya.
Miroku mempersilahkan Naruto #1 dan yang lainnya agar menuju ke kamar tamu. Ayah Taruho membungkuk sebelum mengantar mereka keluar.
......................
Kamar Tamu
‘’Miroku-sama sudah menyiapkan ini semua untuk kalian. Jika kalian membutuhkan sesuatu, silahkan katakan padaku. Kalau begitu aku akan pergi,’’ kata ayah Taruho.
Naruto #1 mengerutkan dahi sambil menatap kepergian pria tadi.
Pria berkaca mati tad, terlihat tidak asing bagiku. Aku seperti pernah melihatnya. Caranya bicara dan tatapan matanya itu, di mana aku pernah melihatnya, ya? Hm, ucapnya dalam hati.
‘’Melihat tirai bambu itu tidak ditarik di atas, seharusnya begitu,’’ kata Neji.
‘’Kalau begitu, aku tidak boleh sampai melihat matanya, karena jika tidak, hidupku akan berakhir sebelum melamar Sakura-chan,’’ kata Rock Lee.
‘’Ha?! Siapa kau yang ingin melamar Sakura-chan? Aku yang melakukan hal itu dattebayo,’’ kata Naruto #2.
Sasuke menghela nafas. ‘’Saat dua orang bodoh bertemu, perdebatan mereka tidak akan ada ujungnya.’’
‘’Aku setuju dengan ucapanmu,’’ kata Neji yang ikut menatap kedua orang tadi.
__ADS_1
Naruto #1 yang menyaksikannya hanya menghela nafas disertai senyuman.
......................
Setelah makan malam, Putri Shion kembali ke kamarnya. Begitu belok ke koridor lainnya, ia bertabrakan dengan seseorang.
Bugh!
‘’A-Akh, itte~ perhatikan jalanmu dattebayo!’’ gerutu Naruto #2.
‘’Pencuri!’’ pekik Putri Shion membuat pengawal di sekitar menangkap anak itu.
‘’Ha? Aku bukan pencuri! Anak perempuan ini yang mungkin pencuri!’’ seru Naruto #2.
Putri Shion mengerutkan dahi tanda kesal. ‘’Apa maksudmu mengatakan aku pencuri. Jelas-jelas ini adalah rumahku.
Naruto #2 yang mendengarnya, langsung terbelalak. ‘’Kalau begitu kau adalah….’’
‘’Cepat seret pencuri ini ke dalam penjara sekarang juga!’’ perintah Putri Shion.
‘’Tu-Tunggu! Kau salah paham! Oee? Dengarkan aku dulu!’’ teriak Naruto #2 meronta-ronta.
Taruho yang mendengar kegaduhan tadi, langsung menghampiri gadis tadi. ‘’Shion-sama, ada apa? Siapa yang dibawa oleh para pengawal itu?’’
‘’Tentu saja pencuri,’’ jawab Putri Shion.
__ADS_1
‘’Eh? Pencuri? Tapi bagaimana mungkin pencuri bisa sampai masuk kemari?’’ bingung Taruho.
‘’Aku tidak tahu. Besok aku akan menghadap kepada ibu. Pengawasan kali ini benar-benar menurun, sampai memberikan banyak celah untuk orang menyusup,’’ kata Putri Shion berjalan pergi.