
Mui melepaskan segel Maroi setelah Killer B mengajukan permohonan dari desa untuknya. Ia tidak menyangka pria itu adalah mata-mata dari Kumogakure yang diutus untuk memastikan Kotak Surga tidak digunakan lagi.
Maroi memberitahu semua orang kalau misinya tidak akan tercapai jika bukan berkat Naruto #1. Ia menceritakan semua apa yang terjadi selama 7 hari ini di Kastil Houzuki. Mendengar hal itu membuat Muku dan Ryuuzetsu akhirnya mengerti dengan situasi yang terjadi.
‘’Terima kasih untuk 7 hari ini karena telah memastikan keraguanku,’’ kata Muku.
‘’Aku juga minta maaf karena telah berkata kasar kepadamu,’’ kata Ryuuzetsu.
Naruto #1 hanya tersenyum sambil mengelus pucuk rambut kedua anak itu. Sedangkan Naruto #2 menghampiri Gaara dan memujinya yang berhasil mengendalikan bijuu di dalam tubuh.
‘’Aku masih belum bisa mengendalikannya. Dia melakukan hal itu karena terpaksa harus melawan Satori. Shukaku hanya melindungiku agar tidak mati, karena jika itu terjadi maka dia juga akan lenyap,’’ kata Gaara.
‘’Begitu, ya? Tapi yang tadi itu keren dattebayo. Kau dan paman gurita itu bisa bekerja sama sebagai jinchuuriki. Ah~ aku jadi iri,’’ kata Naruto #2.
‘’Bagaimana dengan dirimu? Kau juga masih belum bisa mengendalikan bijuu di dalam tubuhmu?’’ tanya Gaara.
Naruto #2 terdiam sambil mengingat kejadian di area latihan ketiga. ‘’Lihat saja. Aku akan mendahuluimu menguasai chakra bijuu dattebayo.’’
‘’Mari kita lihat,’’ kata Gaara.
__ADS_1
Tsunade pun memanggil semuanya karena akan meninggalkan pulau. Mui memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan perahu.
Naruto #1 melambaikan tangan di atas perahu, sebelum melihat seorang pria yang berdiri memandangi mereka. Dahinya berkerut sambil memicingkan mata. ‘’Pria muda itu….’’
Dilihatnya seorang pria agak pendek berkepala botak dengan mata gelap dan janggut cokelat, mengenakan kameja kimono hijau lengan panjang dengan trim putih di bawah jaket kuning tanpa lengan yang ditutupi selempang lebar yang memegang kusarigama.
Deg!
‘’Hyaku Henge no Kazan(Seratus Transformasi Kazan)!’’ pekik Naruto #1.
Konoha
Jiraiya menatap ke luar jendela dari kantor Hokage dengan perasaan bersalah. Padahal Konoha hampir dihancurkan dan dirinya malah sibuk mencari Orochimaru. Ia bahkan meminta maaf kepada Sandaime yang merupakan gurunya.
‘’Sensei, sudah aku bilang, ini serangan mendadak jadi tidak usah merasa bersalah. Selain itu, semuanya juga sudah kembali normal,’’ kata Minato.
__ADS_1
‘’Yang dikatakan Minato benar. Kau juga sedang mencari Orochimaru jadi tidak perlu merasa bersalah,’’ kata Sandaime.
‘’Tapi sebagai muridmu, aku bahkan tidak ada untuk melindungi desa serta membiarkan Anda tewas. Selain itu, sosok yang kalian berdua maksud itu, apakah sungguh mengalahkan keenam Pain seorang diri?’’ tanya Jiraiya.
Minato membenarkan. ‘’Kami menyaksikannya bertarung dan semua orang tidak akan membantahnya.’’
‘’Dia juga bisa menggunakan Sage Mode seperti dirimu dan Hokage Pertama,’’ kata Sandaime membuat Jiraiya tersentak.
Kedua sang Hokage menceritakan sosok yang dimaksud, membuat Jiraiya benar-benar habis pikir.
Aku masih ingat ramalan dari Tetua Katak mengenai salah satu muridku yang akan menjadi revolusioner. Tapi, aku belum memiliki murid selain trio Amegakure. Yang membuatku lebih bingung, bagaimana bisa keenam Pain yang menyerang Konoha memiliki Rinnegan dari Nagato? Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Hm, kata Jiraiya dalam hati.
‘’Sensei?’’ panggil Minato.
Jiraiya tersadar. ‘’Lalu bagaimana dengan sosok yang dibicarakan tadi?’’
‘’Mengenai itu, Tsunade dan yang lainnya akan membawanya kemari. Mereka akan ti—‘’ ucapan Minato terpotong saat pintu terbuka.
Jiraiya menoleh ke arah pintu melihat para Genin dan Jounin yang telah kembali.
__ADS_1
Matanya membulat besar dengan mulut sedikit terbuka saat pandangannya fokus ke salah satu sosok berjubah merah.