God Of Shinobi

God Of Shinobi
Bab 44 Wajah Sendu


__ADS_3

Kushina yang melihat raut wajah suaminya, mulai merasa curiga. ‘’Apakah terjadi sesuatu? Semuanya baik-baik saja, kan?’’


Ruang Tamu


‘’Minato, kenapa wajahmu seperti itu? Apa yang terjadi dengan Naruto? Kau membuatku cemas dattebane,’’ kata Kushina.


‘’Aku sudah menceritakan tentang Naruto kepadamu saat aku dan yang lainnya di medan perang, kan?’’ tanya Minato.


‘’Maksudmu dia menggunakan Sage Mode dan menyerang ribuan shinobi Iwagakure menggunakan rasengan dalam ukuran besar?’’ tanya Kushina.


Minato mengangguk. ‘’Ya. Begitu juga dengan kemampuannya di akademi hingga dia dipromosikan menjadi Jounin.’’


‘’Lalu apa hubungannya? Seharusnya kau senang karena ada anak jenius seperti Naruto yang menyerupai dirimu. Apalagi, kelak dia ingin menjadi seorang Hokage. Bukankah itu adalah impian kita berdua? Ya, meskipun kau sudah menjadi Hokage. Aku sangat senang karena itu dattebane,’’ kata Kushina.


‘’Aku tahu. Tapi, aku belum memberitahumu mengenai misi yang diberikan kepada Naruto bersama yang lainnya,’’ kata Minato.


Kushina memasang raut wajah masam. ‘’Hm~ kau memberinya misi yang seharusnya diberikan kepada ninja Jounin.’’


Minato tersenyum kaku. ‘’Bukankah Kakashi dan Naruto juga merupakan ninja Jounin?’’


‘’Haa, kalau begitu ada apa dengan misi mereka?’’ tanya Kushina.


‘’Sebenarnya itu bukan misi, melainkan rencana yang aku susun bersama Sandaime-sama untuk menguji Naruto,’’ jawab Minato.


‘’Ha? Bukan misi? Apa maksudmu?’’ tanya Kushina.

__ADS_1


‘’Kau, aku dan hanya Sandaime-sama yang tahu kalau Naruto bisa menggunakan Sage Mode. Tapi, shinobi yang kami utus untuk mengawasi Naruto, melihat anak itu menggunakan jutsu Kuchiyose,’’ kata Minato.


‘’Semua orang bisa melakukan jutsu itu jika melakukan kontrak darah dengan hewan. Sangat wajar kalau Naruto bisa menggunakan jutsu itu,’’ kata Kushina.


‘’Masalahnya adalah Naruto memanggil seekor katak yang menggunakan pedang, menyerupai katak yang biasa aku panggil dan Jiraiya sensei. Hanya saja yang membedakan adalah warnanya. Katak yang dipanggil Naruto berwarna orange dengan bagian kelopak mata dan mulut berwarna navy. Aku pernah tinggal di Gunung Myoboku saat Jiraiya sensei melatihku. Lalu, salah satu katak di sana memiliki ciri-ciri yang sama persis dengan katak yang dipanggil Naruto. Dia adalah Gammakichi, anak dari Gammabunta. Tapi, saat ini ukurannya masih kecil. Kenapa yang dipanggil Naruto itu sudah sangat besar,’’ kata Minato.


Kushina mengerutkan dahi. ‘’Bagaimana kalau dia adalah kakaknya Gammakichi?’’


Minato menghela nafas dengan wajah bodohnya. ‘’Itu tidak benar. Gammabunta hanya memiliki dua anak. Gammakichi dan adiknya Gammatatsu.’’


‘’Naruto itu jenius. Mungkin dia memanggil seekor katak dari Gunung Myoboku yang lain,’’ jawab Kushina.


‘’Kushina, tidak ada Gunung Myoboku yang lain,’’ kata Minato.


Minato kembali terdiam untuk sesaat. Kushina yang melihatnya mengerutkan dahi.


‘’Aku dan Sandaime-sama sudah memutuskan,’’ kata Minato.


‘’Memutuskan apa?’’ tanya Kushina.


Flashback off


Kushina hanya tersenyum sendu sambil Naruto membantunya menyiapkan makan malam. Minato yang melihatnya, juga memasang raut wajah sendu.


Tidak lama kemudian, makan malam telah disiapkan. Naruto mengerutkan dahi karena tidak melihat keberadaan Minato sejak tadi. Kushina yang mengetahui hal itu dari wajah Naruto hanya tersenyum.

__ADS_1


‘’Minato ada di ruang tamu. Pergi dan beritahu kalau makan malam sudah siap,’’ kata Kushina.


Naruto mengangguk mantap sambil tersenyum. Ia begitu bersemangat menuju ke ruang tamu.


......................


Ruang Tamu


Seperti yang dikatakan ibunya, Naruto melihat ayahnya sedang duduk di sofa sambil memikirkan sesuatu.


‘’Yon—‘’ ucapan Naruto terpotong saat melihat raut wajah Minato.


Eh? Kenapa wajah ayah seperti itu? Haa, mungkin karena tumpukan berkas yang harus dia urus. Heh, saat aku menjadi Hokage, tumpukan berkas selalu bertambah dan itu membuatku stres, kata Naruto dalam hati.


Naruto menghela nafas sambil tersenyum. ‘’Yondaime-sama?’’


Minato tersentak lalu berbalik ke arah Naruto. ‘’Oh? Naruto.’’


‘’Makan malam sudah siap, Kushina-sama sudah menunggu kita dattebayo,’’ senyum Naruto.


Melihat senyuman Naruto yang menampilkan deretan giginya, membuat Minato menghela nafas disertai senyuman.


‘’Mm, baiklah. Ayo kita makan,’’ kata Minato berdiri sambil menyentuh pucuk rambut Naruto lalu berjalan pergi.


Naruto yang melihatnya terbelalak sambil memegang pucuk rambutnya. Tidak lama kemudian, terukir senyuman di bibirnya hingga ia menyusul ke ruang makan.

__ADS_1


__ADS_2