
Menyadari sudah berjalan sedikit jauh, Naruto berhenti dan berbalik ke arah desa Konoha. Ia menghela nafas panjang dengan wajah sendu.
‘’Sebenarnya apa yang terjadi sampai kakek mencurigaiku ingin mencelakai ayahku sendiri? Haa, sekarang aku harus pergi ke mana dattebayo?’’ tanya Naruto.
Pada akhirnya kau tetap meninggalkan desa.
‘’Nee Kurama, menurutmu kenapa kakek sampai berpikir aku akan mencelakai ayahku?’’ tanya Naruto.
Mungkin tiga garis di masing-masing pipimu membuat mereka waspada.
Wajah Naruto langsung kusut. ‘’Memangnya wajahku seburuk itu sampai terlihat seperti orang penjahat?’’
‘’Tapi, Kurama. Aku dan ibu sama-sama seorang jinchuriki, kan? Bukankah sesama jinchuriki bisa saling merasakan chakra masing-masing?’’ tanya Naruto.
Lalu?
‘’Apakah Kyuubi di dalam tubuh ibu bisa merasakan keberadaanmu saat kita datang pertama kali ke rumah?’’ tanya Naruto.
Kushina tidak akan mengetahuinya selama chakra-ku dan chakra miliknya tidak saling terhubung.
‘’Aa sou(Oh begitu)? Karena itulah kau selalu diam saat aku dan ibu bersama,’’ kata Naruto.
Selain itu, kenapa kau selalu menghindar saat Minato bertanya kepadamu?
‘’Oee Kurama, tidak mungkin aku memberitahu ayah kalau aku adalah anaknya yang datang dari masa depan. Ada campur tangan dariku dengan masa lalu ini, berarti belum tentu masih aku yang akan lahir di tubuh ibuku dattebayo,’’ kata Naruto.
Tapi Naruto, kau tidak bisa melarikan diri terus. Ada saat dimana kau tidak akan bisa mengelak lagi.
__ADS_1
Naruto yang mendengarnya hanya diam sambil menatap tanah.
Sekarang tanggal 13 oktober ... Otanjoubi omedetou Naruto.
"Sankyuu Kurama, meskipun aku berharap ayah dan ibu yang akan mengucapkannya pertama kali, tapi tidak buruk juga kau yang mengucapkannya pertama kali dattebayo," kata Naruto.
Deg!
Saat itu juga Naruto menundukkan kepalanya untuk menghindari sesuatu.
Dak!
Mata Naruto membulat saat melihat kunai itu, membuatnya langsung menghindar.
Boom!
Naruto berdecih dan menghindarinya dengan cepat. Ia pun langsung bersembunyi di belakang batang pohon. ‘’Sial! Siapa yang tiba-tiba menyerangku?’’
Sepertinya dia datang sendirian. Selain itu, dia seumuran denganmu.
‘’Seorang diri dan seumuran denganku? Sekarang dia di mana?’’ tanya Naruto.
Enam batang pohon dari pohon ini tepat sebelah kanan.
Naruto mengangguk dan hendak menyerang. Namun, belum sempat ia berbalik, tiba-tiba sesuatu muncul dari tanah.
‘’Apa?!’’ pekik Naruto.
__ADS_1
Kayu yang membentuk setengah lingkaran itu mengurung Naruto.
‘’Ternyata dia tidak menyerang karena melacak keberadaanku,’’ kata Naruto yang terkurung.
Kemampuanmu sudah benar-benar tumpul. Payah!
Wajah Naruto langsung kusut. ‘’Hm~ siapa bilang kemampuanku sudah tumpul dattebayo? Tapi, kalau dia menggunakan elemen kayu, berarti dia adalah shinobi Konoha! Apa? Kenapa dia ingin menyerangku?’’
Ini bukan saatnya memikirkan hal itu. Dia sedang berjalan kemari.
Naruto menoleh. Shinobi yang menyerang tadi berdiri tepat di depan kayu setengah lingkaran.
‘’Uzumaki Naruto, tidak peduli kau memiliki kemampuan hebat, kau tidak akan bisa lari dari perangkapku. Jika kau berniat menghancurkannya, maka bom kertas yang ditempelkan pada kayunya akan meledak dan kau juga akan ikut.’’
Naruto hanya diam sambil menatap ke sekeliling, dan melihat hampir seluruh sisi ditempelkan bom kertas.
‘’Meskipun kau bisa keluar, tidak mengubah kondisimu akan terluka karena ledakan bomnya. Lalu, saat kau tidak berdaya karena luka akibat ledakan itu, maka saat itu juga aku akan menghabisimu. Kau bisa memilih antara menunggu di dalam sana sambil aku menghabisimu dari luar, atau menghancurkan perangkap itu dan terluka lalu aku akan menghabisimu secara langsung?’’
‘’Heh~ jadi kedua pilihan sama-sama kau akan menghabisiku, ya? Kalau begitu, aku memilih menghancurkan perangkap ini dan bertarung denganmu dattebayo!’’ seru Naruto dari dalam.
Bruk!
Kayu setengah lingkaran tadi langsung hancur berkeping-keping dengan munculnya Naruto.
Shinobi yang mengurung anak itu tadi terpaku. ‘’E-Eh? Cha-Chakra itu….’’
__ADS_1