
Sosok berambut kuning kembali bertarung dengan Gakidou Pain karena serangannya diserap. Tapi, tidak berlangsung lama, Gakidou Pain dikalahkan.
Jigokudou Pain memanggil Naraka Path, dimana Naraka Path adalah Raja Neraka kepala besar yang muncul dari tanah dengan api ungu mengelilinginya.
Sosok berambut kuning terbelalak saat lidah dari Naraka Path menarik Gakidou Pain ke dalam, dan sosok itu kembali keluar dengan tubuh yang utuh.
‘’Jadi begitu rupanya, bagaimana para Pain yang dikalahkan itu kembali utuh,’’ kata Kushina.
‘’Tapi, aku sempat melihat orang itu mengajukan pertanyaan kepada Choza-san. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan, lidah Choza-san langsung memanjang, dan saling mencengkeram dengan lidah dalam mulut benda besar itu. Lalu, tidak lama kemudian, lidahnya terpotong sampai tewas,’’ kata salah satu ninja.
Choji tersentak sambil menggertak gigi. ‘’Jadi seperti itu ayahku dibunuh? Cih!’’
Sosok berambut kuning kembali melemparkan serangan yang sama saat menghancurkan Ningendou Pain. Namun, serangan yang diserap oleh Gakidou Pain hanyalah serangan tipuan. Anak itu muncul dari asap dan mendorongnya ke tanah.
Satu kloning muncul dari atas dan menghantam Jigokudou Pain. ‘’Sage Jutsu! Rasengan Barrage!’’
Lalu yang satunya lagi muncul dari arah berlawanan dan hendak menyerang Tendou Pain. Kedua sosok berambut kuning itu akan menyerang Gakidou Pain dan Tendou Pain secara bersamaan.
‘’Bagus! Serangannya akan berhasil!’’ pekik Naruto menyaksikan hal itu.
‘’Kurasa tidak semudah itu,’’ kata Sasuke menyadari sesuatu.
‘’Shinra Tensei!’’ kata Pain menghempaskan kedua sosok berambut kuning dan Gakidou Pain.
Semua yang menyaksikan pertarungan itu hanya merasa tegang. Mereka berharap keenam Pain segera dikalahkan.
Sosok berambut kuning meringis. ‘’Kushou! Aku tidak memiliki kesempatan untuk memberitahunya. Sepertinya aku harus melawan Pain terakhir untuk memberitahu Nagato mengenai kebenarannya.’’
Sage Justu juga mulai menghilang. Aku tidak boleh membuang waktu, kata sosok berambut kuning dalam hati.
__ADS_1
‘’Apakah kau sungguh akan melenyapkan mereka semua?’’
Pain hanya diam dan sosok berambut kuning menganggap kediamannya adalah iya.
‘’Saat itu, aku tidak datang menghampiri kalian. Kalau ingin membalasku, desa ini tidak ada hubungannya dattebayo!’’
‘’Seharusnya kau datang hari itu untuk menyelamatkan kami bertiga sebelum Hanzo membunuh Yahiko. Kau selalu menghentikan semua kematian orang, lalu kenapa Yahiko tidak? Aku berpikir, kau hanya menunggu waktu untuk melenyapkan kami,’’ kata Pain.
‘’Kalau begitu, lepaskan mereka semua. Aku yang akan membayarnya,’’ kata sosok berambut kuning.
Sakura mengerutkan dahi. ‘’Kenapa mereka hanya diam? Apakah sedang membahas sesuatu?’’
Deg!
‘’Apa?!’’ pekik semuanya melihat sosok berambut kuning itu tertarik seperti magnet ke arah Pain terakhir.
Tidak lama kemudian, Pain menghunuskan besi di antara tumpukan kedua tangan sosok berambut kuning.
Akh! Kejadian ini lagi, kata sosok berambut kuning dalam hati.
Melihatnya hanya diam membuat Pain menghunuskan beberapa besi ke tubuh sosok berambut kuning.
‘’Kau benar-benar tidak melakukan perlawanan. Apa kau sungguh menyerahkan nyawamu demi desa yang isinya para pendosa ini?’’ tanya Pain.
‘’Nagato, kau salah paham. Yahiko sebenarnya ma—‘’
Sosok berambut kuning itu meringis karena kembali menerima besi di tubuhnya. Ia menatap Pain yang mengulurkan telapak tangan kepadanya.
‘’Kalau kau memang ingin mati demi desa ini, maka matilah,’’ kata Pain.
__ADS_1
Saat itu juga terdengar suara langkah kaki yang berlari muncul membuat keduanya saling menoleh.
Asuma dan Guy terbelalak. ‘’Bukankah itu?’’
‘’Hap!’’
Mata sosok berambut kuning membulat besar melihat sosok di depannya. ‘’Ka-Kau … Tidak mungkin.’’
‘’Naruto-kun ni omotte o da sasenai(Takkan kubiarkan kau melukai Naruto lagi)!’’
Minato dan yang lainnya menoleh saat melihat kedatangan Kurenai.
‘’Apa yang terjadi? Kenapa desa sangat hancur seperti ini?’’ tanya Kurenai.
‘’Desa tidak hanya hancur, tapi Sandaime dan yang lainnya….’’
Deg!
Kurenai terbelalak sambil butiran air mata keluar dari sudut matanya.
‘’Tunggu, apa yang dilakukan Hinata di sana? Dia seharusnya kemari dan bertemu dengan Hinata Nigou,’’ kata Guy.
‘’Ha? Guy Sensei, memang apa hubungannya dengan itu?’’ tanya Tenten dengan wajah bodohnya.
Kurenai dan yang lainnya menatap ke arah Hinata yang dimaksud tadi. ‘’Dia berlari bergitu tergesa-gesa dan aku tidak bisa menghentikannya. Lalu, aku melihat kalian semua di sini, jadi aku datang.’’
‘’Ceroboh sekali! Dia belum tahu Pain itu sekuat apa,’’ kata ayah Shikamaru.
__ADS_1