God Of Shinobi

God Of Shinobi
Bab 17 Tekad


__ADS_3

‘’Kau bilang apa Kurama?’’ tanya Naruto.


Aku bilang kau bodoh.


‘’Bukan, perkataanmu yang terakhir,’’ kata Naruto.


Kau bukan Tuhan yang mengetahui segalanya.


‘’Itu dia! Saat ini tidak ada yang tahu kalau aku datang dari masa depan dengan kekuatan yang setara dengan Rikudou Sennin. Seperti yang kau katakan, aku bukan Tuhan yang mengetahui segalanya … kalau begitu aku akan menjadi Tuhan!’’ kata Naruto sambil mengangguk mantap.


Tuhan? Apakah kau sudah gila? Apakah otakmu terbentur setelah sadarkan diri?


‘’Maksudku, di masa depan aku telah kehilangan banyak orang. Semua orang yang kusayangi pergi meninggalkan diriku, terutama dirimu saat kita melawan Otsutsuki Isshiki. Kau tahu? Aku sangat depresi, hingga akhirnya kau dan aku malah kembali ke masa lalu. Entah apakah ini adalah kesempatan kedua yang diberikan Tuhan kepadaku untuk menghabiskan waktu sekali dengan orang yang aku sayangi. Karena itulah aku sudah menemukan tekadku. Aku akan menjadi Tuhan dan mencegah semua kematian orang agar tidak ada tangisan lagi!’’ kata Naruto.


Grib!


Saat itu juga pintu kamar rawat tergeser membuat Naruto tersentak kaget. Obito mengerutkan dahi melihat Naruto mengepalkan tangan.


‘’Apakah kau ingin memukul dirimu?’’ tanya Obito.

__ADS_1


Naruto menatap tangannya yang hendak ia ayun ke atas bawah barusan. ‘’Ahaha, aku hanya sedang melakukan peregangan, tapi kedatangan kalian tiba-tiba membuatku terkaget.’’


‘’Bagaimana kondisimu Naruto?’’ tanya Rin.


‘’Aku sudah sehat, sepertinya sudah bisa melakukan aktivitas,’’ jawab Naruto.


Minato menatap Naruto yang masih mengingat bagaimana anak itu menghabisi ribuan pasukan Iwagakure dalam Sage Mode.


‘’Syukurlah kalau kondisimu sudah baikan. Kami datang menjengukmu sekalian memberitahu keputusan Sandaime-sama,’’ kata Minato.


Deg!


Selama masa kecil Naruto, ia memanggilnya dengan sebutan kakek. Sandaime Hokage sudah melakukan banyak hal untuknya, salah satunya menyelamatkannya dari Pohon Sinju. Kenangan yang tidak bisa ia lupakan adalah saat ia dan Sandaime Hokage bakar ikan di sekitar sungai sambil menatap ribuan bintang di langit malam.


‘’Hei, kami belum memberitahumu keputusan Sandaime-sama, kenapa kau sudah menangis? Kau benar-benar orang aneh,’’ kata Obito.


Naruto menyeka air matanya. ‘’Aa gomen.’’


‘’Apakah kau selalu seperti ini?’’ tanya Kakashi.

__ADS_1


‘’Eh? Maksudmu?’’ tanya Naruto.


‘’Kau selalu bicara sendirian dan tidak menyadari air matamu selalu keluar?’’ tanya Kakashi.


‘’Kalian berdua ini, seharusnya kalian mengerti setelah Naruto menceritakan masa lalunya,’’ kata Rin mengingatkan.


Obito dan Kakashi langsung saling bertatapan dengan raut wajah merasa bersalah.


‘’Hehe, santai saja, memang apa hubungannya keputusan kakek dengan diriku?’’ tanya Naruto.


‘’Ka-Kakek?! Setelah Minato Sensei, sekarang Hokage ke-3. Naruto, kau ini narsis juga sampai menyebut Sandaime Hokage dengan sebutan kakek,’’ kata Obito.


Naruto meringis karena itu sudah kebiasaannya. Kurama tertawa karena menikmati hal itu. Sedangkan Minato hanya menghela nafas sambil tersenyum.


‘’Sandaime-sama sudah mengetahui semuanya, dan sebagai permintaan maafnya karena beliau tidak mengetahui tentang dirimu, kebutuhanmu akan terpenuhi sambil dirimu juga dimasukkan ke dalam akademi,’’ kata Minato.


Naruto tersenyum dan berterima kasih. Saat itu juga, salah satu shinobi datang membuat mereka menoleh.


‘’Minato-san … Sandaime-sama mengutus kami agar memberitahu Anda untuk segera menghadap kepada beliau,’’ kata shinobi pria itu.

__ADS_1


__ADS_2