
‘’Obito?’’ tatap Minato.
‘’Are? Naruto tidak ada di sini? Jelas-jelas aku melihatnya berlari ke arah kantor Hokage,’’ bingung Obito.
Sandaime memicingkan mata. ‘’Naruto?’’
Obito baru tersadar, membuatnya membungkuk. ‘’Shitsurei shimasu(Permisi).’’
‘’Apa maksudmu Naruto yang bergegas menuju kemari?’’ tanya Minato.
Melihat raut kebingungan terpancar di wajah Obito, membuat Minato meminta penjelasan. Pria bermata sharingan satu itu sedikit ragu untuk bicara.
......................
Rumah Kakashi
Naruto #1 mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari Kakashi, membuatnya membuka pintu secara perlahan. Rasa cemasnya menjadi lega setelah melihat pria itu masih ada di rumah, dan saat ini sedang tidur.
Niatnya yang ingin pergi dan menutup pintu kembali, langsung terhenti saat melihat Kakashi langsung bangkit dengan mata merah menyala. Saat itu juga, ia berlari dan berusaha menyadarkan pria itu.
‘’Kakashi Sensei! Sadarlah!’’ teriak Naruto #1 membuncang tubuh pria itu.
Tidak lama kemudian, Kakashi tersentak dan terbelalak melihat kehadiran Naruto #1. ‘’Apa yang kau lakukan di sini?’’
‘’Ha? Itu … Aa! Aku tiba-tiba teringat dengan lonceng yang pernah kau berikan kepadaku. Hem! Maksudku yang kau berikan kepada Naruto Nigou dan yang lainnya, saat menguji mereka. Bisakah aku meminjamnya?’’ tanya Naruto #1 ambil alasan.
__ADS_1
Kakashi yang tenang seperti biasa, membuka laci meja dan mengambil dua buah lonceng. ‘’Mau kau gunakan untuk apa?’’
‘’Ahaha! Aku hanya meminjamnya sebentar dattebayo, dan akan kukembalikan. Kalau begitu, aku pergi dulu. Silahkan lanjutkan tidurnya,’’ kata Naruto #1.
Setelah melihat kepergian sosok itu, Kakashi hanya memasang wajah bingung. ‘’Ada apa dengannya?’’
......................
Kantor Hokage
Minato menghela nafas setelah mendengar semuanya. ‘’Ternyata hanya janji bertemu untuk makan raamen? Kau membuatku sedikit khawatir karena tiba-tiba datang dengan wajah seperti itu.’’
‘’Ehehe, aku minta maaf,’’ kekeh Obito dengan wajah kaku.
Ia pun membungkuk untuk pergi sebelum keduanya semakin curiga karena tingkahnya. Sandaime yang melihatnya sedikit memikirkan sesuatu.
Minato hanya tersenyum, dan memberitahu Sandaime kalau Obito dan Naruto itu agak blak-blakan, jadi maklumi saja ulah mereka. Namun, tidak lama kemudian pintu kembali terbuka.
‘’Sekarang apa lagi Obi—‘’ ucapan Minato terhenti karena sosok yang datang bukanlah Obito.
‘’Naruto?’’
‘’Jadi kau memang benar-benar datang seperti yang dikatakan Uchiha Obito,’’ kata Sandaime.
Naruto #1 menatap pria tua itu sambil mengerutkan dahi. ‘’Obito datang kemari? Tapi untuk apa?’’
__ADS_1
Sandaime menjawab karena pria itu menyusulnya datang, tapi ia tidak ada.
Naruto #1 menyadari Obito mengetahui maksudnya, meskipun sebenarnya ia menuju ke rumah Kakashi. Tapi, masalah yang disebabkan Obito, membuatnya mau tidak mau harus jujur.
‘’Aku memiliki permintaan. Bisakah kalian mengabulkannya?’’ tanya Naruto #1.
Minato dan Sandaime hanya diam menunggu anak itu bicara.
‘’Berikan aku izin untuk ke Gunung Shumisen,’’ pinta Naruto #1.
‘’Tapi apa yang akan kau lakukan di sana?’’ tanya Minato.
Tangan Naruto #1 mengepal. ‘’Aku akan menemui seseorang. Dan orang itu adalah ... Hiruko.’’
Deg!
Untuk sesaat Naruto #1 terdiam, hingga akhirnya membuka mulut. Ia memberitahu keduanya kalau sepuluh tahun yang lalu, Hiruko memutuskan sharingan yang diberikan Obito kepada Kakashi akan menjadi ninja garis keturunan terakhir Kekkei Genkai yang kelima, dengan menggunakan teknik untuk mengendalikannya.
Minato dan Sandaime terkejut bukan main setelah mendengarnya. Mereka berdua menolak untuk memberi izin, membuat Naruto #1 tidak menerimanya.
‘’Kau tidak tahu semenyeramkan apa Teknik Chimera yang dikuasai orang itu,’’ kata Minato.
‘’Dia menguasai teknik yang memungkinkan mengubah teknik ninja dan merubahnya menjadi chakra murni lalu memakannya,’’ kata Naruto #1.
Sandaime terbelalak, karena dirinya tidak mendapatkan laporan sedetail anak itu. ‘’Bagaimana kau bisa mengetahuinya?’’
__ADS_1
‘’Itu karena tidak ada yang mengenalnya lebih baik diriku,’’ jawab Naruto #1.