God Of Shinobi

God Of Shinobi
Bab 85 Kembali ke Tempat Orochimaru


__ADS_3

Obito membuka mata secara perlahan hingga langsung bangkit. ‘’Rin!’’


‘’Kau sudah sadar?’’ tanya Minato.


‘’Minato Sensei? Rin, bagaimana dengan Rin? Apakah dia baik-baik saja? Aku harus segera melihatnya,’’ kata Obito.


Minato menahan anak itu agar tidak pergi. ‘’Ninja medis sudah mengobatinya, kau tidak perlu khawatir.’’


‘’Sungguh?’’ tanya Obito.


‘’Ya, kondisimu masih belum stabil, sebaiknya kau juga istirahat,’’ kata Minato.


Minato terdiam saat melihat raut wajah Obito. ‘’Kau ingin mengatakan sesuatu?’’


‘’Aa, itu … Hm, lalu bagaimana kondisi anak yang satu itu?’’ tanya Obito malu-malu.


‘’Kakashi, ya? Tenang, dialah yang membawa kalian berdua sampai kemari,’’ senyum Minato.


Obito membuang wajah. ‘’Sudah wajar dia baik-baik saja.’’


‘’Aku sampai lupa!’’ pekik Obito membuat Minato tersentak.


‘’Ada apa?’’ tanya Minato.


Obito menatap pria itu dengan wajah ngeri. ‘’Sensei! Di tempat Orochimaru….’’


......................


Sandaime membuka mata setelah mendengar keseluruhan cerita. ‘’Apakah Yondaime-sama yakin dengan yang Anda katakan?’’

__ADS_1


‘’Uchiha Obito melihatnya secara langsung, dan raut wajahnya tidak terlihat seperti orang yang sedang membual,’’ kata Minato.


Tidak lama kemudian, pasukan ANBU yang berada di bawah pimpinan Sandaime datang setelah mereka mendapat panggilan.


‘’Sandaime-sama, kami datang untuk menghadap,’’ kata salah satu ANBU.


‘’Aku ingin kalian menemukan tempat persembunyian Orochimaru di lokasi ini!’’ perintah Sandaime.


‘’Hai, wakarimashita!’’


Setelah pasukan ANBU tadi pergi, Minato muncul dari balik pintu. Ia menatap Sandaime yang memejamkan mata.


‘’Kalau yang dikatakan Uchiha Obito memang benar, sepertinya aku tidak punya pilihan lain,’’ kata Sandaime.


Minato menatap pria tua di depannya karena ia tahu betul perasaannya. ‘’Sandaime-sama….’’


......................


Para pasukan ANBU mulai menyebar untuk mencari lokasi persembunyian Orochimaru. Namun, setelah beberapa hari mereka tidak menemukan lokasi tersebut.


‘’Aku?! Tapi kenapa?’’ tanya Obito.


‘’Pasukan ANBU yang dikirim Sandaime-sama tidak menemukan tempat persembunyian Orochimaru. Jadi, kami berdua memutuskan untuk mengikutsertakan dirimu,’’ kata Minato.


‘’Kenapa harus aku?’’ tanya Obito.


‘’Karena hanya kau yang bisa menemukan tempat itu.’’


Obito dan Minato menoleh ke arah sosok yang tidak adalah Hiruzen.

__ADS_1


‘’Tapi Sandaime-sama, aku tidak mau kembali ke tempat mengerikan itu lagi,’’ kata Obito.


‘’Orochimaru adalah salah satu muridku. Jika dia berada di jalan yang salah, maka sebagai gurunya aku yang harus menuntunnya kembali,’’ kata Sandaime.


‘’Kakashi sudah menceritakan semuanya saat dia dan Rin hendak membawamu pergi. Mereka bilang ada lima anak yang berusaha mencegahnya membawamu,’’ kata Minato.


‘’Ta-Tapi….’’


Sandaime menghela nafas. ‘’Kalau yang kau datang, kelima anak itu pasti akan menampakkan diri. Kami akan memanfaatkan situasi itu untuk mengikuti kalian ke tempat persembunyian Orochimaru.’’


‘’Lalu bagaimana kalau kalian tidak bisa mencapai tempatnya? Kelima anak itu sangat kuat! Kalau aku sampai tertangkap lagi, maka sangat mustahil untuk kabur lagi,’’ kata Obito.


Minato menepuk bahu anak itu. ‘’Kau hanya perlu menuntun kami ke tempat Orochimaru. Setelah itu, pasukan ANBU Sandaime-sama akan menyelamatkanmu.’’


Melihat kediaman Obito membuat Sandaime berjalan ke arahnya. ‘’Kau harus percaya dengan kami. Kita harus menghentikan Orochimaru sebelum perbuatannya semakin parah. Selain itu, aku akan menjamin kelima anak itu tidak akan membawamu pergi.’’


Tangan Obito mengepal sambil ia menggigit bibir bawahnya. ‘’Baiklah.’’


......................


Malam pun tiba, sambil Obito menyusuri hutan. Anak itu berhenti sambil menatap di sekitar.


Obito menatap kerusakan di sekitar sambil mengingat saat ia hilang kendali waktu itu. ‘’Mereka mengejar dari sana, kalau begitu aku hanya perlu mengikuti ke arah mana mereka membawaku hari itu.’’


Butuh puluhan menit hingga akhirnya Obito melihat bangunan klasik dari jauh yang sedikit tenggelam ke bawah.


‘’Itu dia,’’ kata Obito berjalan mendekat.


Deg!

__ADS_1


Tubuhnya langsung terdiam dan gemetar saat mengingat kembali sesuatu yang ia lihat di balik pintu. Obito memegang tangan kanannya setelah sadar setengah tubuhnya ada kaitannya di balik pintu.


Obito dengan wajah ngeri berbalik ke arah yang berlawanan dan hendak pergi. Namun, niatnya terhenti saat melihat empat anak sudah berdiri di belakangnya.


__ADS_2