
Ichiraku Raamen
Naruto #2 langsung memasang wajah bodohnya saat berdiri di depan kedai itu. ‘’Raamen lagi? Ayolah.’’
‘’Aku yang akan mentraktirmu kali ini,’’ kata Naruto #1.
‘’Ha? Tapi aku tidak suka makan raamen dattebayo,’’ kata Naruto #2.
‘’Apa?! Aku tidak salah dengar, kan? Apakah kau tidak pernah makan raamen selama ini? Tolong katakan itu tidak benar,’’ heboh Naruto #1.
‘’Apakah wajahku terlihat berbohong?’’ tanya Naruto #2.
Naruto #1 hampir saja terjatuh. Bagaimana mungkin makanan favoritnya tidak pernah dicicipi oleh versi kecilnya ini. Selain itu, versi kecilnya malah kebalikan dari dirinya, yang tidak menyukai raamen.
‘’Kalau begitu, ini waktu yang tepat membawamu kemari. Jika saja aku tahu kau tidak pernah makan raamen, maka aku akan mengisi semua stok makanan kita di rumah dengan raamen dattebayo,’’ kata Naruto #1.
Deg!
Hinata #1 terkikik. ‘’Itu karena raamen adalah makanan kesukaan Naruto-kun. Jika kau mengunjungi apartemennya, aku akan terkejut melihat lemari makannya hanya dipenuhi raamen.’’ (Naruto #2 teringat)
__ADS_1
Dengan cepat ia langsung menggeleng. Otaknya langsung traveling, membayangkan semua isi rumah dipenuhi raamen di mana-mana. Air minum dikulkas berubah menjadi raamen, makananan di meja berubah menjadi raamen, air dalam bak mandi berubah menjadi raamen, kamar berubah menjadi raamen, satu rumah berubah menjadi raamen, bahkan raamen sendiri yang mengajaknya bicara.
‘’Oee! Ayo masuk, kenapa kau hanya diam?’’ teriak Naruto #1 berhasil membuyarkan lamuan anak tadi.
Naruto #2 menggigil karena merasa ngeri dengan imajinasinya barusan. Ia pun berjalan masuk dan duduk di samping Naruto #1.
‘’Ara? Kedua bocchan kita ada di sini untuk makan. Aku merasa terberkati,’’ kata
‘’Hehe. Aku pesan raamen seperti biasa, dan siapkan juga satu untuknya,’’ kata Naruto #1.
Tidak lama kemudian, dua porsi raamen berbeda datang. Naruto #2 tidak menyangka orang di sampingnya itu memesan raamen porsi jumbo.
‘’Apa kau akan menghabiskan semua itu?’’ tanya Naruto #2.
‘’Apa maksudmu? Ini hanya pembuka makanan dattebayo,’’ jawab Naruto #1.
Naruto #1 mengatupkan kedua tangan dan tersenyum. ‘’Itadakimasu.’’
Naruto #2 kembali menoleh ke arah raamen miliknya. Lalu mengatupkan kedua tangannya. ‘’Itadakimasu.’’
Ia menelan saliva dengan wajah pucat. Ragu-ragu, sumpitnya mulai mengambil mie dan hendak memasukkannya ke dalam mulut.
Hap!
__ADS_1
Naruto #2 mengunyah raamen itu sambil memejamkan mata dengan wajah memaksa.
Glek!
Saat itu juga matanya terbuka dan menatap raamen itu tidak percaya. ‘’Enak, sangat enak! Aku tidak tahu kalau raamen seenak i—‘’
‘’Paman! Aku pesan lagi,’’ kata Naruto #1 memotong ucapan anak yang mengajaknya bicara.
‘’Hee?! Sudah habis? Secepat itu?!’’ pekik Naruto #2.
Naruto #1 menoleh. ‘’Kau mengatakan sesuatu?’’
‘’Ra-Raamen-nya enak sekali,’’ kata Naruto #2.
‘’Ihi, sudah kubilang, kan? Kau akan menyesal jika mengatakan tidak menyukai raamen,’’ kata Naruto #1.
Naruto #2 mengangguk mantap dan kembali menyantap raamen-nya.
......................
Kedua Naruto berjalan sambil memegang perut mereka setelah bersendawa. Naruto #2 bahkan tidak tahu seberapa banyak raamen yang ia makan tadi, begitu juga dengan Naruto #1.
‘’Aku akan makan raamen lagi besok, dan besoknya lagi. lalu besok dari besoknya, dan seterusnya,’’ kata Naruto #2.
__ADS_1
Naruto #1 menghela nafas lega. Mengingat anak itu mengatakan tidak menyukai raamen, membuat dirinya hampir hilang identitas. Ya, selama ini semua orang menyukai raamen berkat dirinya. Dan berkat dirinya juga, versi kecilnya itu telah menyukai raamen.
‘’Aa! Aku sudah mengikuti kemauanmu dengan memakan raamen. Sekarang kau harus menepati janji dengan memberitahuku mengenai chakra kuning menyilaukan milikmu dattebayo,’’ kata Naruto #2.