
Setelah Naruto selesai mandi, ia tertegun melihat makanan enak yang sudah selesai dimasak oleh Kushina.
"Ara? Kau sudah selesai mandi? Kemarilah," ajak Kushina.
Naruto duduk dan melihat Kushina yang mengambil makanan.
"Ini, makanlah yang banyak. Kau pasti tidak makan terlalu banyak di rumah sakit, jadi makanlah sepuasnya," kata Kushina.
"Itadakimasu," kata Naruto sebelum makan.
Glek!
Mata Naruto berkaca-kaca membuat Kushina bingung.
"Eh? Apakah masakanku tidak enak? Aduh, cepat muntahkan sebelum kau sakit perut. Ini, muntahkan di ember ini," cemas Kushina.
Naruto menyeka mata sebelum air matanya keluar. "Makanannya enak, bahkan sangat enak."
"Kalau begitu, kenapa kau seperti ingin menangis?" tanya Kushina.
Ini pertama kalinya aku makan masakan ibu. Tapi tidak mungkin aku berkata seperti itu, kata Naruto dalam hati.
"Selama 12 tahun, aku hidup yatim piatu, jadi dimasakkan seperti ini oleh Kushina-sama, aku merasa seperti dimasakkan oleh ibuku sendiri," jawab Naruto.
Naruto terbelalak melihat wajah cengeng Kushina. "E-Eh?"
"Hiks, jadi begitu? Hidupmu pasti sangat berat dattebane," kata Kushina baper.
"Ahaha, tidak apa-apa. Aku memiliki seorang ayah dan ibu yang hebat, jadi aku bisa melaluinya. Mereka berdua adalah pahlawanku dattebayo," kata Naruto.
Mendengar ucapan Naruto membuat hati Kushina tersentuh. Ia tersenyum dan ikut makan.
"Itadakimasu," kata Kushina.
__ADS_1
Kedua orang itu pun berbincang dengan seru di meja makan.
Setelah selesai makan pun, Naruto membantu Kushina bersih-bersih.
"Naruto, kau bisa istirahat, aku yang akan mengurus sisanya, dan terima kasih sudah membantuku," kata Kushina.
"Sama-sama," kata Naruto.
Naruto pun menuju ke ruang tamu. Ia duduk di sofa sambil menatap isi rumah.
"Kurama, apakah kau masih berjaga?" tanya Naruto.
Tidak ada respon dari Kurama membuat Naruto menghela nafas.
Tak lama kemudian, Kushina pun berjalan keluar. "Naruto, apakah kau me—‘’
Ucapan Kushina terhenti karena melihat Naruto sudah tertidur pulas di sofa. Ia hanya menghela nafas sambil tersenyum.
Kushina pun berbalik untuk mengambil selimut lalu kembali menghampiri Naruto. Untuk sesaat, Kushina memandang wajah Naruto sebelum ia menyelimuti anak itu.
"Tadaima. Eh, kau belum tidur?" tanya Minato yang baru pulang.
"Okaerinasai," sambut Kushina.
Minato melihat Naruto tertidur yang baru saja diselimuti oleh istrinya. "Dia sudah tidur ya?"
Kushina mengangguk sambil tersenyum. Ia kembali menatap Naruto. "Ne Minato, entah kenapa aku merasakan sesuatu saat berada di dekat Naruto. Apakah kau juga merasakan hal yang sama?"
"Maksudmu merasakan apa?" tanya Minato.
"Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Aku merasa seperti memiliki hubungan yang sangat dekat dengannya," kata Kushina.
Minato menatap Naruto dan mengingat bagaimana anak itu membantunya memenangkan perang. "Aku juga merasakan hal yang sama."
__ADS_1
"Iya, kan? Aku tahu kau juga akan merasa seperti itu dattebane," kata Kushina.
Keduanya kembali menatap Naruto dengan tatapan iba.
......................
Mendengar kicauan burung, membuat Naruto membuka matanya dengan perlahan.
"Sudah pagi ya?" tanyanya sambil mengusap sebelah matanya.
Ia pun berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
......................
Dapur
"Kau sudah bangun ya? Ohayou," sapa Kushina.
"Ohayou," sapa Minato.
"Um, ohayou," balas Naruto.
"Sana, bersihkan wajahmu dulu baru ikut sarapan," kata Kushina.
Tak lama kemudian, Naruto datang setelah membersihkan wajahnya.
"Apakah tidurmu nyenyak?" tanya Minato yang sedang membaca koran.
"I-Iya Yondaime Hokage," kata Naruto.
Minato tersenyum kaku. "Ahaha, tidak perlu memanggilku seperti itu saat hanya ada kita bertiga."
__ADS_1
Kushina pun mematikan kompor dan ikut bergabung.
"Itadakimasu," ucap semuanya.