Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Bercerita


__ADS_3

Renita mengajak sang adik untuk duduk-duduk di belakang rumah yang dia rasa mungkin akan lebih aman untuk dia bercerita, dan juga tidak akan didengar oleh Rendy yang masih tidur.


"Ada apa sih Kak, serius amat sih? hingga mengajak aku ke sini segala. Emangnya di ruang tengah kenapa?" tanya sang adik yang merasa heran dengan sikap sang kakak yang tampak sendu, sayu dan katanya ingin bercerita.


Kalau kemudian Renita pun menceritakan dari awal mula dia menemukan sebuah struk belanjaan, hingga detik ini semuanya dia ceritakan tak ada yang di kurang dan tidak juga di lebih-lebihkan! semuanya Renita ceritakan apa yang dia lihat dan apa yang dirasakan.


Sheila menutup mulutnya yang menganga, dia merasa shock. Masa sih kakak iparnya yang baik dan tampak alim itu berbuat yang aneh-aneh, rasanya tidak percaya! tapi kalau mendengar cerita dari sang kakak yang begitu adanya membuatnya menggelengkan kepala.


"Ya ampun ... Kak, apa mungkin Mas Azam seperti itu? cobalah Kakak cari dulu kebenarannya, jangan dulu mencurigai atau ngejudge orang, atau menghakimi orang!" ucap sang adik menatap intens pada sang kakak.


"Siapa juga yang akan seperti itu, justru kakak tidak ingin gegabah dan kakak ingin mencari terlebih dahulu bukti-bukti yang lebih konkrit, biarpun sekarang kakak punya buktinya. Gambar yang Kakak punya itu akan di jadikan walau kurang meyakinkan sih. Kartu dan stroke itu sudah Kakak buang. Kakak nggak mau ngambil atau cari lagi," jawabnya Renita.


"Iya Kak betul itu, bila perlu Kakak menyewa orang untuk mencari kebenarannya--"


"Kakak nggak akan menyewa orang, tapi kakak sendiri yang akan turun tangan mencari tahu kebenaran tersebut dan kakak minta dukungannya sama kamu agar bila Kakak keluar ada yang nemenin Rendy!" harap sang kakak pada adiknya tersebut.


"Kalau alasannya seperti itu ... tentu aku mau Kak." Sheila sangat setuju dan dia mau membantu sang kakak walaupun dengan cara menemani sang keponakan di rumah.


"Makasih ya Sheila? Kakak nggak tahu bercerita sama siapa, apalagi minta tolong selain sama kamu, kalau cerita sama keluarganya Mas Azam. Nanti dikira yang lain-lain lagi." Ungkap Renita sembari memegangi kedua tangan sang adik.


"Iya kak, tenang saja, aku kan adik kamu. Emang Aku adik siapa? Masa nggak bisa ngomong sama aku dan minta tolong sama aku. Yang benar saja, daripada bilang sama orang kan lebih baik sama saudara sendiri dulu. Terkecuali adiknya jauh!" balasnya Sheila sembari sedikit mengulas senyuman.

__ADS_1


"Benar, paling semuanya Kakak pendam sendiri. Tanpa bisa menceritakan sama siapapun, untuk saat ini kakak nggak tahu dan belum menemukan orang yang tempat untuk kakak bercerita!" ujar kembali Renita sembari melepas pandangannya, menerawang jauh entah ke mana.


"Iya, Kak ... jangan terlalu dipikirin ya? yang sabar. Biarkan semuanya mengalir seperti air, aku yakin kok, sepandai-pandainya orang ?menyimpan bangkai akan tercium juga baunya!" Sheila merangkul bahu kakaknya, tangan satunya menepuk-nepuk punggung seakan memberi kekuatan kalau sang kakak tidak sendirian


ada dirinya yang siap membantu.


"Sekali lagi Makasih ya? makasih banget. Kamu memang adikku yang paling baik--"


"Iddih, ada maunya aja bilang adik paling baik. Lagian adik mu ada berapa? cuma aku doang kali!" timpal wanita yang berambut panjang sedikit pirang dan wajahnya tidak kalah cantik dari sang kakak.


"Dan Kakak ... minta kamu jangan dulu banyak cerita sama ibu dan bapak soal masalah Kakak, biar saja ini Kakak hadapi! Kakak nggak mau buat orang tua sedih atau merepotkan nya!" pinta Renita kepada Sheila agar tidak menceritakan masalahnya kepada kedua orang tua mereka berdua.


"Ya Allah, Sheila ... buat apa aku suruh kamu ke sini, kalau kamu nggak boleh menginap. Ada kok kamar kosong di dekat kamarnya Rendy." Timpalnya sang kakak sambil mengulum senyumnya dan sedikit menggoyangkan kakinya.


"Ya ... kali saja habis nungguin Rendy aku disuruh pulang deh, di usir, kan! siapa tahu he he he ..." Sheila nyengir.


"Lah, kamu ada-ada aja, ya sudah masuk yo? sebentar lagi kakak akan berangkat!"


"Oke kalau gitu, dimana keponakan ku ... Sudah bangun belum ya?" kemudian mereka kembali masuk ke dalam rumah dan mendapati Rendy tengah makan es krim di meja makan.


"Keponakan ku lagi apa? lagi makan es krim ya? kayaknya baru bangun tidur nih langsung makan es krim. Enak bener ... dan tantenya nggak dikasih kayaknya deh." Sheila langsung menghampiri keponakannya lalu mencium kening dan pipi keduanya yang chabie dan bikin gemes.

__ADS_1


"Iya nih, jagoan Bunda sudah bangun. Dari kapan bangunnya?" Renita menyentuh pipi sang jagoan sembari sedikit mengusap upilnya.


"Rendy terbangun karena Rendy lapar, Bun ... tante kapan datang mau menginap ya?" kedua netra mata anak itu melihat ke arah ibunda dan tantenya bergantian, kemudian dia kembali menikmati es krimnya yang tampak nikmat sekali.


"Iya nih. Tante mau nginap boleh nggak? kalau nggak boleh, Tante mau pulang saja soalnya kan di sini juga ngapain. Kalau keponakan ku yang ganteng nggak mau Tantenya menginep!" ujarnya Sheila sambil mendudukan dirinya dia hadapan sang keponakan.


"Boleh dong ... Tante, boleh banget! biar Bunda ada temennya. Aku juga ada temennya! soalnya ... kan Papa sekarang jarang pulang, dia lebih banyak sibuk di luar. Katanya sih sedang mencari uang yang bu ... anyak sekali, tapi kok Bunda pengen kerja ya? Tante bukankah papa sudah banyak uang?" anak itu mengerutkan keningnya dan mengarahkan wajahnya kepada Sheila.


Kedua sudut bibir Sheila tertarik, lalu menoleh pada sang kakak yang menaikkan kedua bahunya.


"Em ... mungkin Bunda terlalu jenuh di rumah, tanpa adanya kegiatan selain mengurus rumah dan menjaga Rendy jadi biarin aja ya Bunda mencari kegiatan biar nggak boring di rumah!" jawabnya Sheila sembari mencubit pipinya Rendy.


"Aku juga tidak apa-apa, tante. Kalau bunda mau bekerja. Aku kan udah gede, aku bisa di rumah sendirian kalau habis sekolah. asalkan Bunda bahagia terus Bunda juga nggak lupa sama aku, menyempatkan waktunya untuk bermain dan menemani ku. Aku tidak apa-apa!" ungkapnya anak itu sedikit menggeleng.


"Bagus itu, itu namanya keponakan Tante yang pinter yang ganteng." Sheila tersenyum bangga lalu memeluk ponakannya.


Kemudian setelah siap-siap, Renita pun berpamitan pada putranya kalau dia akan pergi sebentar ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa subscribe biar dapat notifikasi ya. Like komen dan dukungan lainnya, makasih

__ADS_1


__ADS_2