Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Melamun


__ADS_3

Dan Sheila adalah adik Renita yang usianya terpaut 5 tahun dan dia sekarang sedang kuliah di kota yang sama. Cuman memang jarang ketemu karena kesibukannya yang sambil mengajar di sebuah TK.


"Ya, benar aku akan menitipkan Rendy pada Sheila dan aku akan minta dia untuk datang ke rumah dan menginap. Agar aku lebih leluasa dalam melangkah!" Monolog Renita kembali dalam hati.


Setelah jam sekolah selesai. Renita pun langsung membawa pulang Rendy si putra semata wayangnya.


"Hari ini, aunty Sheila akan datang ke rumah, menemani Randy bermain. Sementara Bunda ada urusan dulu keluar sebentar, tidak apa-apa kan? jagoan Bunda kan pintar dan menurut sama Bunda!" kata sang Bunda sembari memasukkan motornya ke dalam garasi.


"Emang Bunda mau ke mana sih?" tanya Rendy bunda nya tersebut.


"Bunda ada urusan sebentar, dan sepertinya. Bunda mau mencari kerjaan deh, biar Bunda ada kegiatan selain mengurus Rendy dan rumah. Rendy tunggu di sini ya?" ucap Renita sembari berjalan menuntun putranya tersebut.


"Lah, kok mau kerja? Bunda kan uang dikasih sama papa! jadi bunda nggak boleh capek-capek bekerja, minta aja sama papa uangnya," kata anak itu dengan polosnya.


"Tapi Rendy sayang ... Rendy, kan akan semakin tumbuh dan semakin besar membutuhkan biayanya juga, lebih besar biaya sekolahnya. Kuliah dan gimana nanti kalau Bunda punya baby lagi? kan biayanya lebih bertambah, jadi biarkan Bunda kalau bekerja lagi ya?" kini keduanya sudah memasuki dalam rumah kediaman mereka.


Renita sudah mulai ada niat untuk mencari pekerjaan lagi, seperti dulu sebelum menikah dengan Azam. Dia harus mempersiapkan diri seandainya nanti rumah tangganya berakhir di tengah jalan.


Apalagi bila terpisah, otomatis biaya hidup tidak ada yang nanggung dan banyak contoh kalau seandainya setelah berpisah. Si Ayah kurang perhatian sama anaknya, apalagi mencukupinya! jadi apa salahnya kalau Renita dari sekarang mulai mempersiapkan diri.


"Tapi nanti ... Bunda kecapean gak bisa ngurus rumah, nggak bisa ngurus Rendy. Kalau rumah sih bisa aja ya Bun ya? kan kita sewa art, tapi kalau Rendy Siapa yang mau ngurus? rendy kan masih kecil. Masa mau ART juga Bun! anak itu mendongak sembari mendudukan dirinya di atas sofa.


Renita tersenyum ke arah anak itu, lalu duduk di sampingnya untuk barang sejenak. "Bunda janji ... sekalipun Bunda sudah bekerja, Bunda akan meluangkan waktu sebanyak mungkin buat Rendi, bila perlu Bunda mengajak Rendy bekerja!"


"Emang bisa ya? membawa anak kecil bekerja, Bun? nanti dibilangnya mengganggu lho Bun ... nanti bunda dipecat lagi lalu nggak kehilangan pekerjaan!" ucapnya Rendy dengan gaya bicara anak kecil pada umumnya.

__ADS_1


"Kalau Bunda dipecat ... ya Bunda cari lagi pekerjaan lain! yang bisa mengajak jagoan Bunda ikut, kecuali kalau jagoan Bunda ini mau berdiam diri di rumah. Bersama art nantinya, misalkan ya?" Renita memeluk kepala putranya tersebut sembari mencium pucuk kepalanya berkali-kali.


Sungguh ini memang tidak dibayangkan dari semula, karena awalnya cuman membayangkan jadi ibu rumah tangga yang baik saja di rumah! ngurus rumah ngurus anak dan suami, tidak terpikirkan untuk bekerja lagi.


Tapi jika semuanya memungkin kan untuk mengambil jalan tersebut. Renita harus siap sedini mungkin.


"Gitu ya Bunda? ya udah nggak apa-apa deh! Rendy di rumah aja asalkan ada yang nungguin," anak itu mengangguk sembari mendongak melihat wajah sang Bunda yang tampak sendu dan sedih.


Hening ....


Dalam beberapa saat suasana begitu hening, Renita terdiam sembari memeluk kepala putranya yang sedang memainkan mobil-mobilan dalam pangkuan.


"Ya sudah ... sekarang Bunda mau mandi dulu ya? gerah banget, Rendy mau mandi dulu nggak? jangan main jauh-jauh, takut ada culik dan kalau ada orang yang tidak kenal mengajak Rendy main atau mau ajak ke mana. Jangan mau, Rendy langsung pulang ya? langsung kasih tahu Bunda!" Renita menjauhkan kepala Rendy seraya di belai rambutnya.


Sementara Renita membawa tas Rendy diantarnya ke dalam kamar, kemudian dia sendiri masuk ke dalam kamarnya ingin mandi terlebih dahulu. Sebelum mengerjakan pekerjaan rumah yang mungkin ada lagi seperti mengangkat jemuran dan menyetrika.


Ketika sore hari, sekitar pukul 15.30 sore sang adik datang. Dan langsung disambut oleh Renita dengan muka bantalnya.


"Assalamu'alaikum ... Kak, baru bangun tidur ya? lecek amat!" suara Sheila sembari menatap sang kakak yang tampak sekali baru bangun tidur.


"Iih ... Wa'alaikum salam, Iya nih ... tadi kan ngantuk banget! makanya Kakak tidur sebentar, kamu naik motor atau naik taksi?" tanya sang kakak sembari celingukan, kemudian berpelukan dan mencium pipi kanan dan kiri.


"Aku naik pesawat, Kak. Kebetulan ada pesawat lewat! makanya aku langsung naik aja, makanya cepat ke sini he he he ..." jawabnya Sheila sekenanya aja.


"Ach ... kamu ini ada-ada saja! mana ada pesawat mendarat di depan rumah ini!" timpal sang kakak sembari mengulas senyumnya.

__ADS_1


"Ya ... kali aja, Kak ada. Biar cepet! kalau mau kemana-mana, he he he ..." Sheila terkekeh lalu membawa langkahnya ke dalam rumah dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.


"Suasana rumah ini terasa sangat beda sekarang! apa yang diubah ya?" Sheila mengernyitkan kening sembari terus menyisir pandangannya. Dan melihat-lihat pemandangan apa saja yang ada di rumah itu yang berubah.


"Sama saja seperti dulu! cuman sekarang ada bunga-bunga hidupnya di beberapa sudut ruangan," jawabnya Renita sembari menunjuk beberapa sudut yang ada bunga yang hidup.


"Oh iya kali, itu yang buat berubah tapi lebih cantik! secantik orangnya!" Sheila mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Memuji apa memuji!" tanya sang kakak sembari mendudukan dirinya di atas sofa begitupun dengan Sheila.


"Mas Azam belum pulang Kak?" tanya Sheila sembari menyimpan tasnya di samping dia.


"Belum! katanya sih ... ada lembur. Makanya pasti telat pulangnya." jawabnya sang kakak kemudian melamun.


"Ooh gitu, emang Kakak mau ke mana sih? sehingga butuh orang untuk menunggui Rendy segala?" selidiknya Sheila kepada sang kakak sembari mengarahkan pandangannya ke sebuah foto keluarga.


Suasana begitu hening dan tak ada jawaban dari sang kakak, membuat Sheila menolehkan kepalanya kepada wanita yang duduk tidak jauh darinya itu.


"Kak, helo ... kok ngelamun sih? aku ngomong tidak didengar ya!" protesnya Sheila sembari menepuk lututnya sang kakak.


Renita pun mengerjapkan kedua manik matanya yang tersadar dari lamunan ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like comment subscribe nya juga ya biar dapat notifikasi dan terima kasih

__ADS_1


__ADS_2