Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Memaafkan


__ADS_3

"Aku kecewa sama kamu Sheila, tapi ... Mbak gak bisa berbuat apa-apa selain memaafkan mu. Tapi Mbak minta ... cukup kita saja yang tahu, karena Mbak tidak ingin hubungan Shopia dan Abang juga keluarganya semakin memburuk--"


"Jadi Mbak memaafkan aku?" potong Sheila sambil mendongak menatap dalam pada sang kakak.


Renita menghela nafas dalam-dalam dan sangat panjang. Manik matanya bergerak menatap ke arah sang adik. "Tentu!"


"Seharusnya di laporkan kak si Shopia itu biar kapok. Dan itu sebuah kejahatan yang tidak bisa di maafkan lagi." Kata Sheila sambil duduk di tempat semula setelah sejenak berpelukan kembali dengan sang kakak.


"Ehem. Melaporkan itu gampang, tapi gimana kalau seandainya dia menyeret nama mu juga? karena setidaknya kamu tahu rencana mereka?" Renita merasa cemas kalau saja nama sang adik akan terbawa-bawa juga.


Sheila bengong, dia menjadi kepikiran dan iya bener juga. Gimana kalau seandainya dilaporkan justru namanya yang akan terseret dengan bermacam alasan.


"Lagian Mbak nggak mau keluarga Abang semakin berantakan nantinya, dia semakin membenci Mbak juga! sementara dia sudah tidak punya orang tua, keluarganya hanya Abang dan orang Abang, sekarang saja hubungan mereka sudah jauh!" ungkapnya Renita seraya menarik nafasnya yang terasa sesak.


"Sekali lagi ... aku minta maaf ya Mbak? aku memang jahat, nggak tau diri dan aku mengaku salah." Sheila benar-benar merasa bersalah dengan apa yang pernah dia lakukan terhadap sang kakak.


Tangan kanan Renita menyentuh bahunya Sheila. "Sudahlah, Mbak sudah memaafkan mu. Lagian Mbak sudah sehat! sekarang kamu mau mandi bukan? mandilah biar Mbak Di sini."


"Makasih ya Mbak! makasih banyak, hati Mbak memang tulus dan ikhlas. Aku beruntung kamu punya kakak seperti Mbak!" lagi-lagi Sheila memeluk sang kakak. Sampai akhirnya dia ingin membersihkan diri terlebih dahulu.


Renita berdiri setelah sang adik menghilang dari hadapannya! manik matanya mencari-cari ke badan sang buah hati yang tadi entah ke mana. Langkahnya yang teratur berjalan menuju ke arah belakang.


Bibir Renita tersenyum lalu mengangguk di saat berpapasan dengan asisten rumahnya Sheila yang memasak.


"Ke mana sih anak itu? kebiasaan deh!" gumamnya Renita sembari melepaskan pandangannya mencari-cari putranya, Rendy. Di belakang rumahnya Sheila.


Rupanya anak itu tengah asik saja memberi pakan ikan! wajahnya yang masih tampak polos begitu sumringah memberi ikan-ikan miliknya Dion.


"Hi ... sedang apa di situ? kebiasaan deh suka langsung menghilang!" Renita mendekati sang buah hati sambil jongkok di dekatnya.


"Asik aja Bun! ngasih makan ikan, lihat ikannya sangat lahap." Rendy menunjuk ikan-ikan yang berada di kolam dan ikannya pun besar-besar.


"Ikannya besar-besar ya Ren? kayaknya digoreng, di pepes enak deh!" Renita menelan saliva nya melihat ikan-ikan tersebut.

__ADS_1


"Minta aja sama tante, Bun. Biar dimasakin bibi. Oh ya Bun! kenapa nggak nyuruh papa aja bikin kolam di belakang! terus ditanam ikan deh. Rendy mau kok setiap hari ngasih makan ikannya!" anak itu malah memberi saran Bundanya untuk papanya menyuruh papa Malik membuat kolam ikan.


"Kalau Rendy suka ...ngomong aja Rendy sama papa." Balasnya sang Bunda sembari terus melihat ikan dan tangannya diturunkan di kolam menyentuh ikan-ikan yang tampak jinak sekali, sehingga dapat disentuh.


"Mau ah, Rendy mau nyuruh papa agar membuatkan kolam dan ditanam ikan besar-besar seperti ini, eh nggak usah besar kayak gini juga ya, Bun? agak kecilan saja, nanti juga kan membesar." Rendy tampak bersemangat dengan rencananya yang ingin ngomong sama papa Malik.


"Gimana Rendy aja lah!" Kemudian mereka pun masuk karena sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib yang begitu mengalun merdu, dan menyampaikan undangan kepada setiap muslim agar melaksanakan kewajibannya.


Di dalam rumah, Renita bertemu dengan Dion yang baru saja datang dari kantor. Dan langsung tersenyum ramah kepada Renita.


"Hei ... apa kabar? sudah lama di sini," dia langsung mengulurkan tangannya kepada Renita.


"Em ... Alhamdulillah baik dan lumayan sudah agak lama! baru pulang?" tanya balik dari Renita.


"Iya nih, aku baru pulang istri ku di mana?" tanya kembali Dion sambil mengarahkan wajahnya ke arah tangga.


"Katanya sih tadi mau mandi, mungkin sekarang sudah selesai!" sahutnya Renita sambil menunjuk ke atas.


"Hai ganteng ... dari mana?" Dion mengalihkan pandangannya ke arah Rendy yang baru masuk dari pintu belakang.


"Iih ... jangan! kolam renang itu jangan ditanam ikan, nanti kotor dan bau!" protesnya sang Bunda.


"Iya nih, Rendy gimana sih? kalau kolam renang ditanami ikan! nanti Rendi mandinya sama ikan, wah ... nanti digigit-gigit dikira makanan, ngeri Om." Dion bergidik geli.


Sementara Rendi menjadi bengong, membayangkan kalau kolam renang ditanami ikan! ikan besar-besar dan bila dirinya mandi dikira menjadi umpan. "Aah ... Om jangan nakut-nakutin!"


"He he he ... bukannya Om nakut-nakutin, tapi kalau kayak gitu gimana? pas Rendy turun mau berenang nih ... dikiranya umpan ikannya, makanan ikan! takut ach." Dion langsung berlari menaiki anak tangga.


"Aish ... si Om kenapa kayak dikejar-kejar setan!" gumamnya Rendy sembari memandangi Dion yang setengah berlari menaiki anak tangga, menuju lantai atas.


Renita hanya tersenyum ke arah Rendy, kemudian dia masuk ke dalam salah satu kamar tamu yang biasa dia pakai! seandainya datang ke sana walaupun sekedar untuk beristirahat sebentar.


Beberapa saat kemudian. Kini mereka sudah berkumpul di tengah-tengah meja makan bersiap untuk makan malam dan Rendy langsung nyeletuk.

__ADS_1


"Tante-tante, kata Bunda tadi kayaknya enak deh ikannya di pepes atau digoreng!" kata Rendy yang ditujukan kepada tantenya Sheila yang sedang mengambilkan piring buat sang suami.


"Lho ... kenapa nggak bilang dari tadi? cuba bilang dari tadi pasti diambilkan, dimasakin." Balasnya Sheila sambil menatap ke arah sang kakak dan Rendy bergantian.


"Nggak apa-apa lain kali aja. Seandainya Mbak gak ke sini ... kan bisa dianterin! masakannya kan? huuh ngarep hi hi hi ..." Renita mengulum senyumnya.


Dion hanya mengulas senyumnya melihat ke arah Renita yang tampak sangat cantik dengan senyum yang manis. Lalu kemudian dia segera menggercapkan matanya seraya berkumpul dalam hati. "Kamu ini mikirin apa sih!"


"Iya deh lain kali, aku kirim tapi dari restoran! hi hi hi ..." Sheila terkekeh.


"Nggak bisa lah Sayang! kalau maunya ikan dari kolam langsung ya kasih itu, nggak boleh dari yang lain. Nanti anaknya ngeces gimana?" timpal sang suami yaitu Dion.


"Bercanda. Iya nanti aku suruh ambilkan ikannya dari kolam langsung, bila perlu di masak dulu di sini. Terus aku kirimkan ke sana gitu kan maunya?" Sheila menatap sang kakak yang sedang menuangkan air minum ke dalam gelasnya dan juga Rendy.


"Ya ... begitulah kira-kira, sebelumnya makasih lho!" Renita mengangguk seraya mengucapkan terima kasih sebelumnya.


"Hooh!" balasnya Sheila.


Lalu kemudian mereka pun segera menyantap makan malamnya dengan sangat lahap.


Dan setelah selesai makan, Renita pun berpamitan. Dia mau pulang ke rumahnya Malik, biarpun sudah disuruh menginap oleh sang adik dan Dion! tapi Renita tolak. Lagian besok kan harus ngantor, Rendy harus sekolah juga lebih jauh kalau dari situ.


"Ya udahlah, hati-hati ya? lagian kenapa nggak bawa sopir sih ..." kata sang adik pada Renita yang kini sudah berdiri di teras.


"Nggak apa-apa ... Mbak bisa bawa sendiri kok, lagian supirnya kasihan. Sudah berapa bulan nggak pulang. Jadi Mbak suruh pulang aja untuk menemui keluarganya." Ungkapnya Renita sembari mengeluarkan kunci mobil dari tasnya.


"Emangnya Malik nggak mau jemput?" tanya Dion kepada Renita.


"Mau jemput gimana? kan aku bawa mobil sendiri! nantinya iring-iringan gitu? ah ada-ada saja, he he he ..." Renita menunjukkan barisan giginya yang putih sembari sedikit menggeleng.


Kemudian Renita memasuki mobilnya, Rendy sudah duluan masuk dan menunggu. Renita menghidupkan mesinnya lalu mobilnya merayap meninggalkan kediaman nya Sheila.


Mobil Renita melaju di jalanan yang sudah mulai sepi, dan setelah beberapa puluh meter dari kediamannya Sheila. Jalanan agak lebih sepi ....

__ADS_1


Jangan lupa mampir juga dia "Sugar Deddy & Sukma"


__ADS_2