Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Tidak berbohong


__ADS_3

"Terima kasih ya, Bu ... sudah mengantar kembali." Kata Renita sambil menuntun Rendy yang sibuk memakan permen.


"Sama-sama, lagian ... jangan panggil ibu, kalau ... seperti ini terlalu formal, panggil nama saja toh usia kita tidak jauh beda. Kecuali di tempat yang lebih formal." Ungkap Sarita.


"Emangnya nggak pa-pa kalau aku panggil nama saja?" tanya Renita yang merasa segan.


"Nggak apa-apa kan kamu juga pasti bisa membedakan gimana acara formal dan bukan!" jawab Sarita.


"Oh, ya sudah kalau begitu ... makasih Sarita!" Renita tersenyum manis.


"Sama-sama." Kemudian mobil tersebut meninggalkan kediaman Renita.


Renita melambaikan tangan mengiringi kepergian mobil tersebut.


Kemudian Renita berjalan sembari menuntun Rendy memasuki rumahnya Sebenarnya dia berpikir ... Rendy di ajak-ajak ke pengadilan dan seolah-olah tak ada yang dirahasiakan dari anak kecil tersebut, padahal seharusnya Rendy itu berdiam diri di rumah tanpa mengetahui kegiatan dari ibundanya tersebut.


"Mumpung masih siang ... kita ke tempat nya nenek dan kakek ya? Rendy mau ikut kan?" ajak Renita setelah berada di dalam rumah.


"Hore ... ke tempat nenek dan kakek ya, Bun? ikut dong ... masa Rendy sendirian di rumah!" anak itu bersorak tampak bahagia mendengar mau pergi ke tempat nenek dan kakeknya.


"Baiklah ... kalau begitu bunda mau bersiap-siap dulu, tunggu ya di sini. Jangan main keluar tanpa bilang-bilang sama Bunda!" pesan Renita kepada Rendy yang langsung mengangguk.


Renita membawa langkahnya ke dalam kamar untuk menyiapkan apa yang harus dibawa, lanjut beberes di rumah. Mengangkat jemuran, menyetrika dan membersihkan perabot dapur.


Sesekali melihat ke arah Rendi yang tampak asik bermain di sana dengan mainannya.


Setelah merasa selesai lalu bersiap berangkat, Renita pun segera mengajak Rendy untuk jalan. "Sayang yok kita jalan? biar tidak kesorean di jalan." Ajaknya Renita sambil menenteng tasnya.


Rendy yang masih bermain terus menoleh. "Ini gimana, Bunda? nggak diberesin dulu?"


"Dibereskan dulu lah sayang ... dimasukin ke tempatnya, Rendy kan harus rajin juga bertanggung jawab, mainan yang sudah di berantakin harus dibereskan lagi ke tempat semula!" kata sang Bunda sembari membantu membereskan mainannya.


"Mau ke mana jeung? kayanya mau pergi jauh." Sapa tetangganya setelah Renita keluar dari rumah.


"Oh iya ... mau ke tempat ibu sebentar, mungkin besok pagi baru pulang lagi!" jawabnya Renita yang kurang meyakinkan.

__ADS_1


"Duh ... Rendy mau mudik ya? ikut dong Tante." Wanita tersebut tersenyum pada Rendy.


"Em ... jeung, kalau ada orang nanyain, suruh ngehubungin aku langsung saja!" pesan Renita.


"Oh, iya siap ... Oya ... mas Azam kok gak kelihatan pulang dalam beberapa hari ini? kemana, keluar kota ya?" selidik wanita tersebut.


Rendy mendongak pada sang Bunda lalu melihat ke arah wanita tersebut. "Papa kan mau bercerai sama Bunda tante!"


Suasana mendadaknya hening ... wanita tersebut terkesiap dengan apa yang dia dengar tapi ... perkataan anak seusia Rendy kan polos tak pernah berbohong.


Wanita itu terlihat shock, lalu mengarahkan penglihatannya ke arah Renita seraya berkata. "Apa benar? Masya Allah ... masa sih?"


Dan wanita hanya tersenyum. Lalu dia gegas berpamitan yang kebetulan taksinya pun sudah datang.


Saat ini keduanya sudah berada di dalam taksi, karena Renita malas untuk membawa motor sendiri.


"Nah ... kan pakai taksi lebih enak, Bun-Bunda ... nggak usah capek-capek bawa motor, Bunda ... nanti beli mobil aja ya? biar Bunda nggak capek bawa motor lagi." Anak itu mendongak menatap wajah sang Bunda.


"Aamiin nanti kalau ada rezeki ya. Terus kalau beli mobil ... terus motornya siapa yang pakai dong ... apa tidak akan mubazir nongkrong begitu saja--"


"Em ... gitu ya. Tapi Rendy masih kecil nggak boleh bawa motor dulu. Nanti aja lah kalau sudah gede pas sekolah SMA baru boleh bawa motor, kalau di bawahnya masih belum boleh bawa! nanti ditangkap polisi gimana Bunda? nggak punya Rendy lagi dong ..."


Di sepanjang perjalanan Rendy terus saja berceloteh apa saja yang dia ceritakan, membuat suasana terasa ramai dan sopir taksi sesekali melirik ke arah belakang dan tersenyum mendengar kebawelan anak itu.


"Berapa tahun usia putranya?" tanya supir taksi sembari fokus melihat ke depan.


"Baru 4 tahun lewat, Pak!" jawabnya Renita sambil tersenyum bangga.


"Anaknya ramai, bawel jadi nggak ... nggak sepi ya walau cuman berdua." Kata sopir taksi kembali.


"Iya, Pak ... memang kadang-kadang dia bawel tapi kadang-kadang juga pendiam." Kata Renita


Tidak terasa di jalan. Akhirnya tiba juga di tempat tujuan yaitu depan kediaman orang tuanya Renita yang tampak sepi. Membuat Renita bergumam. Kemana ya Nenek dan kakek? Kok rumah tamaka sepi sih?”


“Apa nenek dan kakek tidak mau bertemu dengan aku ya ... sehingga kaka dan enek menghilang.” Rendy mengintik ke arah dalam dari sela jendela. “Kosong Bunda ... nggak ada siapa pun.”

__ADS_1


“Em ... gak gitu juga sayang ... mungkin nenek sedang ada urusan mungkin juga ke warung dan berbelanja.” Balasnya renita sambil berdiri di teras tersebut dan dengan mata celingukan mencari siapa tahu ada orang yang bisa dia tanyai keberadaan sang bunda.


Dari jauh terlihat sosok ibu-ibu yang benar saja itu ibunya.


Dia menajamkan pandangan pada Renita yang langsung menyambutnya. “Ibu dari mana? rumah kok sepi dan bapak pun tidak terlihat.”


“Ya ampun ... kok gak bilang-bilang mau ke sini ... masya Allah ... kangen Ibu sama kamu Nak ... oya bapak itu lagi main ke tempat tetangga makanya rumah kosong.”


Kemudian pandangan wanita sepuh itu menoleh pada Rendy yang memendangi. “Hi ... cuc oma sini? wah ... cucu oma sudah besar.”


Renita tersenyum pada Rendy yang dengan pntarnya mendatangi neneknya dan mencium tangan neneknya.


“Em ... tambah besar saja ini cucu nenek!” sang nenek memeluk cucunya tersebut.


“Nenek, iya dong ... aku besar, kan bunda kasih makan.” Timpalnya Rendy sambil memudarkan pelukannya sang nenek.


“Ayo masuk yo?” sang ibu membuka pintu rumahnya, membuat Rendy langsung berlari masuk ke dalam rumahnya.


“Azam tidak ikut ke sini ya? lama Ibu tidak melihat mantu ibu itu,” sang bunda menanyakan mantuanya, Azam yang lama tidak bertemu.


Renita terdiam sembari tersenyum getir dan berkata dengan singkat. “Tidak, Bu ...”


“Apa dia akan menyusul kamu ke sini?” tanya kembali sang ibu.


“Nggak, dia tidak akan menyusul ke sini.” Renita mendudukan dirinya di sofa setelah menyimpan tas pakaian dan tas kecilnya.


“Kenapa ... apa kalian bertengkar? Itu hal sudah biasa bagi yang berumah tangga dan ketik amasih pacaran pun kadang masalah itu datang silih berganti apalagi sudah menikah. Jangan terlalu anu ... lebih baik mengalah demi keutuhan rumah tangga!” kata sang bunda yang belum tau apa-apa soalan Renita.


 “Nanti kalau sudah aku istirahat ... aku akan menceritakan pada ibu dan bapak soal sesuatu yang memeng menjadi tujuan aku ke sini Bu ...”


"Emang mau cerita apa Ren? cerita saja pada Ibu ... jangan sungkan." Sang bunda menatap lekat. Dia merasa kalau putrinya itu sedang tidak baik-baik saja ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa dukungannya ya Jangan pelit jempol nya dong ... makasih ya.

__ADS_1


__ADS_2