
Sharon maupun mertuanya terdiam setelah diprotes oleh Jono. Dan Jono semakin melarikan mobilnya menuju rumah sakit untuk memeriksakan sang Bunda.
...------------...
Hari Minggu dan tentunya hari weekend bagi orang-orang sibuk, Begitu pun dengan Malik dan Renita kini mereka sedang berada di rumah dan kebetulan ada janji! kalau hari ini Azam akan datang membawa Rosita ke rumah tersebut untuk menemui mereka.
"Aku jadi penasaran seperti apa sih wanita itu? sehingga Rendy pun langsung jatuh cinta kepadanya dan mengizinkan papanya untuk menikah wanita itu!" ucapkan Renita pada suaminya.
Malik yang sedang menggendong Alena pun menoleh. "Yang jelas kamu pun akan suka! bukan hanya cantik tapi dia juga gigih dan semangat tidak menyerah dengan keadaan! berusaha tangguh dan gigih menghadapi kehidupan!"
"Seperti itu kah?" Renita menatap sang suami dengan rasa penasaran ingin bertemu dengan wanita yang bernama Rosita.
"Iya lihat saja nanti, kalau menurutku dia lain dari yang lain khususnya dari wanita-wanita yang pernah dekat dengan Azam selain dirimu," jelasnya Malik seraya tersenyum dan memberikan Alena kepada Renita yang meronta-ronta ingin ke pangkuan ibundanya.
"Yang pastinya dia pasti melebihi dari aku ya. Sehingga suamiku sendiri penuh pujian kepadanya dan aku tidak cemburu! justru aku bahagia, setidaknya aku bisa belajar agar menjadi wanita yang lebih baik, semangat dia! sesabar dia!" sambungnya Renita sembari menarik kedua sudut bibirnya menerbitkan sebuah senyuman yang indah.
Malik senyum tipis saat menyadari kalau dia memuji sosok Rosita. "Oh iya Rendy nya ke mana?" Malik mengalihkan pembicaraan.
"Rendy sudah berangkat les, Oh iya! aku belum bayar les sebentar aku mau ngambil ponsel dulu mau transfer gurunya." Renita memberikan Alena kembali pada suaminya.
"Ya sudah, aku aja yang transfer dari hp-ku!" Malik tidak serta merta mengambil Alena.
"Nggak pa-pa biar aku yang transfer dari rekeningku. Lagian aku juga masih ada uang belanja dari kamu: kecuali kalau aku nggak ada uang." Renita kekeh memberikan Alena pada suaminya lalu kemudian dia setengah berlari menaiki anak tangga.
Dan setelah 2 menit kemudian Renita kembali sambil memegangi ponselnya dan transfer uang ke guru les nya Rendy.
Suara gerungan mobil yang terdengar lembut dari luar membuat Malik dan Renita menoleh ke arah pintu utama yang tidak lama kemudian muncul seorang wanita cantik berkerudung putih, duduk di kursi roda dan yang mendorongnya tiada lain adalah Azam.
Renita terbengong-bengong melihat cantiknya wanita tersebut dan wajahnya memancarkan aura yang ramah, dan bibirnya pun menerbitkan senyuman yang indah pada penghuni rumah seraya mengucapkan salam.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Suara lembutnya Rosita.
"Wa'alaikum salam ... silakan masuk?" suara Renita dan Malik serempak alias berbarengan dan Renita pun pada akhirnya menyambut wanita tersebut.
"Apa kabar ... kenalkan namaku Renita mantannya Mas Azam dan sekarang menjadi istrinya Abang Malik!" Renita langsung mengenalkan diri kepada Rosita.
Rosita pun mengangguk lalu menyebutkan namanya. "Nama ku Rosita, senang berkenalan dengan anda. Oh ini yang namanya Mbak Renita mamanya Rendy ya!"
"Iya benar dan sekarang anaknya lagi les. Mungkin nanti keburu pulang ayo masuk?" ucap Renita dengan ramahnya tidak lupa menunjukan senyumnya kepada Azam juga.
Kini mereka sedang duduk berhadapan dan kemudian Renita beranjak kembali membawa langkahnya ke dapur untuk mengambilkan minuman dan juga cemilan tanpa menyuruh bibi yang kebetulan Alena pun masih di tangannya Malik.
"Ini rumahnya Malik dan istrinya yang barusan itu. Tiada lain adalah mantan istri saya. Saya menceraikannya karena sebuah kesalahan saya sendiri! saya yang berbuat salah yang saya sendiri sulit memaafkan nya!" ucapnya Azam kepada Rosita.
Dan dia merasa terkenang kembali dengan apa yang dia perbuat kesalahan fatal yang membuat dia terpisah dari Renita dan Rendy.
"Sudahlah nggak usah dikenang lagi, apalagi kalau itu hanya akan membuat kita merasa sakit namun kita tetap tatap ke depan dan merangkai masa depan yang insya Allah akan lebih baik!" Timpalnya Malik.
Beberapa saat kemudian Anita pun kembali membawa nampan yang berisi 4 gelas minuman dan juga sepiring kue. "Silakan diminum dan ini kuenya!"
Yang kemudian Renita pun duduk di tempatnya semula. Itu di dekatnya Malik dan kembali menggendong Alena. "Ayo silakan diminum kalau masih kurang gampang nanti tambah lagi! Oh ya. Mbak kerja di mana?"
"Di warung kopi!" Suara Malik dan Azam begitu berbarengan.
Membuat Renita maupun Rosita bengong melihat kedua pria tersebut yang suaranya begitu berbarengan menyebutkan warung kopi.
Renita menaikan kedua bahunya. "Aku kan tidak tanya sama kalian berdua! aku bertanya langsung sama Mbak Rosita, kenapa kalian yang repot dan menjawab!"
Keduanya tampak cengengesan dan Malik menyatukan kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Kalau dari pagi sampai siang ... aku kerja mencuci punya orang bantu-bantu ibu dan dari sore sampai pukul 09.00 atau lebih aku kerja di warung kopi, begitulah setiap harinya!" Sahutnya Rosita sambil mengangguk.
"Masya Allah ... Mbak rajin ya--"
"Bukan rajin, Mbak ... tapi kebutuhan! kalau saya tidak seperti itu bagaimana saya bisa melanjutkan hidup. Sementara saya tinggal di rumah kontrakan yang tahu lah sebulan-sebulan itu harus bayar belum kehidupan di kota itu serba mahal, Mbak." Potongnya Rosita sambil mengambil gelas yang berisi air jeruk.
Malik maupun Azam hanya terdiam dan menyimak obrolan dari kedua wanita tersebut.
"Iya sih Mbak ... saya salut sama Mbak, kalau saya seperti Mbak belum tentu bisa sekuat Mbak belum tentu bisa menjadi seperti Mbak ini!" ucapnya Renita sembari sedikit mengayun Alena yang agak merengek.
"Baby kenapa? boleh aku menggendong nya?" pintanya Rosita pada Renita dan ingin menggendong Alena.
"Oh tentu boleh!" kemudian Renita pun bergerak mendekati Rosita dan memberikan Alena padanya.
"Hai ... Baby cantik bikin gemesh ... Mirip sama abangnya ya! Rendy." Ucap Rosita sembari melirik ke arah Renita.
"Tentulah mirip kan satu kandungan!" Timpalnya Azam.
"Mbak sendiri belum pernah punya baby?" selidiknya Renita.
Rosita menggeleng seraya berkata. "Belum! waktu itu aku belum lama menikah, keburu kecelakaan terus suami aku menceraikan aku. Ya ... karena memang mungkin dia tidak mau punya istri seperti aku! cacat seperti ini Mbak."
"Oo ... jangan bilang seperti itu, mungkin jodoh Mbak hanya sampai saat itu saja! dan yakinlah suatu saat nanti Mbak akan mendapatkan jodoh yang lebih baik! apalagi Mbak orangnya baik, cantik. Rajin dan smart. Pasti kok banyak yang mau sama Mbak, laki-laki yang lebih baik dari sebelumnya!" kata Renita. "Dan itu namanya jodoh yang tertunda!"
"Istri saya benar, Mbak ... terkadang memang sangat melelahkan menunggu sesuatu yang tertunda! tapi mungkin bagi Allah itu yang terbaik. Kita disuruh sabar menunggu sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya," tambahnya Malik yang membenarkan perkataan dari sang istri.
"Mungkin menurut kalian berdua berpikir positif dan menjalani hidup dengan ikhlas apapun keadaannya! gimanapun caranya, akan membuahkan suatu kebahagiaan yang selama ini dinanti-nantikan. Karena kita tidak tahu apa yang menjadi rahasia Tuhan untuk kita semua!" Azam menatap Malik dan Renita.
"Begitulah kira-kira, kita harus terus berpikir positif agar Tuhan memberikan yang terbaik!" Timpalnya Malik yang ditujukan kepada Azam.
__ADS_1
Alena Yang merengek di pangkuan bundanya, dia mendadak tenang dalam pangkuan Rosita. Dan Rosita tampak sangat happy sambil menunggu Alena bedanya wanita yang menggemaskan ....
Bersambung.